jump to navigation

REDEFINISI CINTA Februari 15, 2009

Posted by hudzayfah in Inilah Cinta.
trackback

Hampir setiap orang selalu tertarik untuk berbicara cinta. Tidak anak muda, tidak orang tua. Tidak ibu-ibu juga tidak bapak-bapak. Tidak seorang santri, tidak seorang abangan. Cinta begitu menarik perhatian. Maka, pesonanya sanggup menyihir setiap orang, di manapun dan kapanpun. Saat warnanya telah menyala, ia hadir tuk menyapa hati, bahkan menguasainya. Pada titik seperti ini, hanya ada dua pilihan: berpuasa atau menikah. Tidak ada pilihan ketiga. Kecuali jika cintanya adalah cinta yang lain.

Oh, adakah cinta yang lain..?

Terlalu banyak orang mendefinisikan cinta. Namun, tetap saja ia tak sanggup terlukis di atas kanvas para pelukis. Apalagi untuk dihitung berdasarkan rumus-rumus fisika dan kalkulus. Cinta terlalu rumit untuk bisa didefinisikan. Hanya saja, semua sepakat, bahwa cinta adalah getaran-getaran rasa. Ia datang dan pergi sesukanya. Permasalahannya kemudian adalah apakah kita sanggup mengendalikan cinta atau justru kita yang menjadi budak-budak cinta.

Dari sini kemudian terjadi sebuah peyorasi dari kata cinta. Kata yang mulia ini menjadi kerdil di hadapan para penyair dan para penulis roman-roman picisan demi hadirkan gelombang syahwati yang emosional menghantam diri.

Sehingga tidak heran jika Romeo dan Juliet menjadi kisah abadi yang sanggup mewakili makna cinta, katanya. Namun, tidak pernah tercatat dalam sejarah perjalanan cinta kisah seorang Mush’ab ibn ‘Umayr yang meninggalkan ibu, harta, dan dunianya menuju keluasan akhirat saat hatinya telah terpaut dalam nuansa cinta terhadap Rasulullah dan risalah yang dibawanya.

Maka dari itu, cinta menjadi semakin rumit. Apalagi saat ia dijabarkan dalam konteks yang lebih detail lagi. Berbicara cinta tidak sekedar berbicara kisah romantisme dua insan yang tergila-gila dipanah asmara. Terlalu muak untuk berbicara itu semua. Mungkin karena itu pula Panglima Tian Feng selalu berkata, “Cinta, deritanya tiada akhir.”

Cinta itu mulia, sayangnya banyak yang tidak memahami cinta.

Begini, cinta adalah getaran-getaran rasa. Ia hadir mengisi ruang-ruang kerinduan di dalam hati setiap insan. Cinta memberikan warna di kehidupannya. Hanya saja, apa warna yang dihasilkan, tergantung seperti apa kondisi hatinya pada saat itu. Apakah hatinya bersih suci tanpa noda, atau justru sebaliknya. Begitu banyak noda yang menutupinya, sehingga ia sendiri kebingungan untuk membedakan mana cinta dan mana nafsu. Sialnya, banyak orang yang kemudian mencampuradukkan keduanya, bahkan mengumbar nafsu atas nama cinta.

Sekali lagi aku berkata bahwa membicarakan cinta bukan berarti harus membicarakan dua insan yang terbakar asmara. Membicarakan cinta berarti membicarakan tiga orang mujahid medan Uhud yang akhirnya harus syahid karena masing-masing dari mereka lebih mendahulukan saudaranya dibandingkan dirinya sendiri. Dan mereka melakukan hal tersebut karena cinta.

Membicarakan cinta berarti menceritakan kisah Ibrahim yang rela menyerahkan anaknya kepada Allah untuk disembelih. Dan anaknya pada waktu itu pasrah berkata, “Lakukanlah perintah Tuhanmu, niscaya Dia akan memasukanku ke dalam golongan orang-orang yang sabar.” Persis seperti seorang Anshar yang rela menceraikan salah satu istrinya untuk diberikan kepada Abdurrahman ibn ‘Auf saat Rasulullah saw mempersaudarakan mereka berdua. Namun, karena cinta pula Abdurrahman ibn ‘Auf menolaknya dengn halus, lalu kemudian hanya meminta ditunjukkan jalan menuju pasar.

Ah, hampir saja terlupa. Abu Bakr pun menunjukkan cintanya saat membiayai sebuah perang dengan seluruh harta yang dimilikinya pada saat itu. Sehingga ketika Rasulullah saw bertanya apa yang ia tinggalkan untuk istri dan anak-anaknya, Abu Bakr hanya menjawab, “kutinggalkan Allah dan Rasul-Nya.” Sehingga dalam perang yang lain, giliran ‘Utsman yang membeli sebuah sumur untuk diberikan kepada pasukan mu’min.

Keteguhan keluarga Yasir pun mengisyaratkan cinta. Saat disiksa Abu Jahl, Sumayyah hanya berkata: “Tuhanku Allah..!!” Yang dengannya ia rela berkorban di atas cinta. Yasir menyusulnya kemudian. Namun, karena cinta kepada keluarganya, ‘Ammar harus rela berkata, “Hubal, Hubal, Hubal.” Dan saat Rasulullah saw mengetahuinya, beliau kemudian berkata, “Allah telah memberikan tempat di syurga bagi keluarga ‘Ammar.”

Bilal pun tidak mau kalah untuk membuktikan cintanya. Dijemur di atas padang pasir Arabia, di bawah terik dan sengatan matahari, di atas tubuhnya menindih batu besar, sedangkan cinta mendorong dirinya untuk tetap teguh dalam nuansa tauhid sehingga seberat apapun siksaan Abu Jahl, yang keluar dari mulutnya hanya, “Ahad, Ahad, Ahad.” Wallahu a’lam…

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: