jump to navigation

CEMBURU Februari 15, 2009

Posted by hudzayfah in Inilah Cinta.
trackback

Kata orang, cemburu adalah satu tanda cinta. Tidak cemburu berarti tidak mencinta, dan seorang yang tidak pernah mencinta tidak mungkin merasakan cemburu. Namun, siapakah yang lebih berhak untuk cemburu..?

Kesadaran diri kita terhadap seorang hamba yang diciptakan dengan penuh cinta oleh Sang Pemilik Cinta tentu seharusnya melahirkan sikap yang mencintai-Nya dengan sepenuh hati di atas ketulusan yang berlandaskan iman. Maka, tentulah Dia yang paling berhak untuk cemburu. Cemburu atas setiap usaha kita dalam menduakan-Nya. Padahal, sungguhpun dunia dan seisinya dijadikan tandingan bagi-Nya, tentulah masih belum sepadan karena Dia yang menciptakan semua itu. Dialah Sang Khaliq, tidak ada yang se-kufu dengan-Nya.

Hati kita yang sering berpaling dari-Nya tentu tidak layak untuk cemburu pada makhluq, jika makhluq itu hanya dijadikan tandingan bagi-Nya. Justru sangat wajar jika keinginan-keinginan kita tersebut dibalas dengan rasa cemburu dari Yang Maha Pencemburu. Bagaimana mungkin engkau sandingkan Dia, Raja diraja, yang dengan kuasa-Nya sanggup mendatangkan manfaat dan madharat, dengan makhluq ciptaan-Nya yang tidak bisa mendatangkan manfaat atau madharat tanpa seizin-Nya..?

Jika pun kita merasa layak dan memang harus cemburu, maka kecemburuan itu haruslah lahir dari kecintaan kita terhadap-Nya. Karena cinta berarti iman, maka kita cemburu saat ada seorang muslim yang masih jauh dari keislamannya, sehingga kita dengan serta merta mendatanginya dan berda’wah kepadanya. Termasuk kepada seluruh manusia yang belum mengenal Islam sama sekali. Mereka harus merasakan nikmatnya bahasa cinta dan kasih sayang di atas keimanan terhadap-Nya.

Cemburu dalam diri kita hadir saat Islam yang dengan segala kesempurnaannya dihina dan direndahkan oleh kaum kafir sehingga hati kita tergerak untuk membelanya, walau keringat harus menetes dan darah harus tercucur, karena sesungguhnya kejayaan Islam diraih oleh hitam tinta para ‘ulama dan merah darah para syuhada.

Maka, kita cemburu saat Nabi kita dihina dan direndahkan oleh musuh-musuh Allah yang di dalam hatinya masih terdapat kebencian terhadap Islam, sehingga kita bangkit dari tidur panjang dan menggenggam tangan kanan kita untuk menghancurkan segala bentuk kemungkaran.

Kita pun cemburu saat melihat makhluq yang lemah itu (baca: manusia) bermakshiyat terhadap-Nya, sehingga kita tidak ragu untuk menegurnya, mengingatkannya, dan mengajak kembali untuk menggapai cinta-Nya. Kita pun cemburu melihat keluarga kita yang masih belum mengenal cinta-Nya, sehingga kita membina dan membentuk lingkungan yang Islamy di dalam keluarga kita, untuk terciptanya sebuah komunitas masyarakat Islamy yang lebih luas lagi.

Kecemburuan kita bukanlah disebabkan oleh cinta buta yang membuat jiwa terlena sehingga hati menjadi sakit, mengeras, dan akhirnya mati. Na’udzu billah… Bahkan dedaunan pun memahami bahasa angin yang menyapanya sambil berdzikir dan bermunajat kepada-Nya, dalam setiap belaian lembutnya yang menggoyangkan dedaunan itu. Lalu, mengapa kita masih sulit untuk menyapa dunia dengan penuh cinta, sehingga lahirlah kecemburuan terhadap segala gejala yang tidak disukai oleh Sang Pencinta Sejati. Sehingga kita tergerak untuk senantiasa menjaga keindahan alam ini, menjaga fithrah bumi kita ini, menjadi “pengganti”-Nya di dunia, mewakili sifat-sifat indahnya, serta menjaga segala bentuk peraturan-Nya.

Begitulah kecemburuan seorang mu’min. Ia memahami bahasa iman, maka ia sanggup menerjemahkan cinta dalam rangkaian kecemburuan yang bernilai ibadah di hadapan-Nya. Sehingga saat Allah swt bertanya padanya tentang mengapa dan bagaimana dirinya bisa cemburu, di akhirat kelak, dia pun menjawab setenang angin yang menyapa dedaunan. “Sebagaimana yang engkau ridhai, wahai Rabbku…” Wallahu a’lam

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: