jump to navigation

ath-Thibb an-Nabawi (8) Februari 15, 2009

Posted by hudzayfah in Metode Pengobatan Nabi saw..
Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , ,
trackback

ISLAM HANYA MENGHARAMKAN YANG BURUK

Allah swt. dengan gamblang telah menunjukkan zat apa saja yang telah diharamkanNya. FirmanNya.

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah.” (QS. Al-Baqarah, 2: 173)

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.” (QS. Al-Maa’idah, 5: 3)

“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor (rijsun) – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah.” (QS. Al-An’aam, 6: 145)

“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik (thayyib) dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk (khabaa’its) dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.” (QS. Al-A’raaf, 7: 147)

Segala sesuatu itu dihalalkan sebelum ada dalil yang melarangnya, baik larangan itu berupa larangan haram atau makruh. Para ‘ulama salaf ash-shalih pun telah bersepakat bahwa asal sesuatu yang diciptakan Allah swt. adalah halal dan mubah. Tidak ada satupun yang haram, kecuali karena ada nash yang sah dan tegas dari syari’ (yang berwenang membuat hukum itu sendiri, yaitu Allah dan RasulNya) yang mengharamkannya. Kalau tidak ada nash yang sah –misalnya karena ada sebagian hadits lemah– atau tidak ada nash yang tegas (sharih) yang menunjukkan bahwa hal tersebut haram, maka hal tersebut tetap sebagaimana asalnya, yaitu mubah.

Dengan demikian, kita telah mendapatkan batasan yang sangat jelas dan tegas dari beberapa ayat di atas. Allah swt. hanya mengharamkan bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Keempat hal yang disebutkan dalam ayat tersebut mutlak diharamkan secara syari’at. Dalil ini sekaligus menjadi ‘illat diharamkanNya zat yang disebutkan. Artinya, tidak ada yang bisa menghalalkan keempat zat tersebut, kecuali ada dalil lain yang menggugurkan dalil ini. Misalnya adalah halalnya sesuatu yang haram dalam kondisi darurat, sebagaimana kaidah fiqh “al-masyaqqah tajlibu at-taysiir” (kesukaran itu menarik adanya kemudahan) serta kaidah “adh-dharuratu tubiihu al-mahdzhuraat” (darurat itu membolehkan hal-hal yang dilarang. Maka, keempat zat yang telah disebutkan tersebut bisa dimakan jika terpenuhi syarat yang menghalalkannya, yaitu kondisi yang darurat.

Kondisi darurat adalah kondisi dimana manusia berada pada keadaan yang menjadi batas antara kehidupan dengan kematian. Kondisi darurat adalah kondisi kelaparan yang amat sangat yang jika tidak memakan sedikitpun, maka diprediksikan kematian akan merenggutnya. Jika keadaan lapar yang dialami masih sanggup ditahan untuk beberapa saat, maka diharuskan untuk menahan rasa lapar tersebut sambil juga berusaha mencari zat yang halal. Jika pada titik darurat tidak ditemukan zat yang halal, maka kita boleh memakan sesuatu yang pada awalnya diharamkan oleh Allah swt., tentunya dengan diiringi istighfar dan taubat kepada Allah swt..

Sedangkan pada ayat yang lain, Allah swt. menambahkannya dengan sifat yang terkandung di dalam zatnya, yaitu karena sesungguhnya semua itu kotor (rijsun), pada QS. Al-An’aam, 6: 145 dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk (khabaa’its) pada QS. Al-A’raaf, 7: 147. Hal ini menunjukkan suatu perkara yang umum, yang juga berarti bahwa selain keempat hal tadi, ada sesuatu yang secara tersurat tidak disebutkan langsung, namun Allah swt. hanya menyebutkan sifat-sifatnya saja yang kemudian menjadikan sesuatu itu haram karena sifatnya tersebut, yaitu rijsun dan khabaa’its. Konsekwensi dari hal tersebut adalah haramnya seluruh zat yang rijsun dan khabaa’its, baik secara dzati ataupun ma’nawi. Maka, haramlah anjing dan kotoran, yang walaupun tidak disebutkan oleh Allah swt. secara langsung, namun keduanya diharamkan karena ada dalil umum yang berlaku terhadap keduanya, yaitu bahwa keduanya kotor dan najis (rijsun dan khabaa’its). Maka, haram pula segala makanan yang berasal dari sumber yang haram, seperti hasil curian, menipu, riba’, korupsi, dan sebagainya. Begitu pun dengan haramnya segala macam makanan yang disembelih atau diproduksi oleh orang-orang kafir, termasuk di dalamnya kaum Rafidhah atau Ahmadiyah yang jelas-jelas telah murtad dari Islam.

Begitu pun dengan daging manusia. Tentu saja tidak ada toleransi bagi yang mengonsumsi daging manusia kecuali hukuman yang setimpal. Karena memakan daging mayat sama saja dengan membunuhnya. Hal ini disebabkan bahwa seorang yang meninggal masih bisa merasakan sakitnya saat tubuh mayat tersebut tersentuh atau terlukai. Apalagai jika tubuh tersebut sampai dimasak terlebih dahulu lalu dihidangkan menjadi sajian makan malam. Na’udzu billah.

Dari pemaparan tersebut dapat kita ambil sebuah kesimpulan bahwa ternyata apa-apa yang diharamkan oleh Allah swt. telah disebutkan secara rinci, sebagaimana firmanNya.

“Dan Allah telah memerinci kepadamu sesuatu yang Ia telah haramkan atas kamu.” (QS. Al-An’aam, 6: 119)

Sedangkan segala sesuatu yang dihalalkannya tidak disebutkan dengan rinci, karena memang jumlahnya yang lebih banyak jika dibandingkan dengan sesuatu yang haram. Namun, penjagaan kita terhadap segala makanan dan minuman harus tetap diperhatikan, karena jangan sampai kita terlena dengan banyaknya sesuatu yang dihalalkan sehingga kita lupa batasan-batasan yang sebenarnya. Apalagi, saat ini, ternyata sifat-sifat umum tadi telah banyak melekat pada makanan ataupun minuman yang beredar di pasaran. Kita harus berhati-hati terhadap makanan olahan yang bisa saja tercampur dengan sesuatu zat yang diharamkanNya, karena walaupun yang dicampurkannya itu sangat sedikit, yang haram tetaplah haram. Sabda Rasulullah saw., “Sesuatu yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnya (pun) haram.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Turmudzi). Jadi suatu zat yang haram, tidaklah dipengaruhi oleh sedikit banyaknya jumlah zat tersebut. Jika yang haram itu bentuknya cair, maka satu tetes pun sudah pasti haram. Jika yang haram itu berupa makanan ringan, maka saat kita mengambil setengah saja dari makanan tersebut, tetaplah yang setengah itu adalah zat yang haram.

Selain itu, saat ini, di tengah perkembangan teknologi yang semakin maju, banyak sekali bahan-bahan yang rijsun ataupun khabaa’its yang dicampurkan ke dalam makanan, seperti bahan-bahan kimia sintetis sebagai pengawet, perasa atau pewarna makanan yang sangat berbahaya bagi tubuh kita, atau suplemen-suplemen yang tidak dibuat dari bahan-bahan yang alami sehingga membuat tubuh kita mengalami kerusakan sedikit demi sedikit tanpa kita sadari. Tentu saja makanan atau minuman seperti itu diharamkan oleh Allah swt..

Dibalik larangan Allah swt. terhadap beberapa jenis makanan tertentu, kita bisa mendapatkan beberapa hikmah di dalamnya.

Hikmah Diharamkannya Bangkai

\al-QURAN\5\5_3.GIF

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.” (QS. Al-Maa`idah, 5: 3)

\al-QURAN\6\6_145.GIF

“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor (rijsun) – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-An’aam, 6: 145)

Dalam ayat di atas sudah jelas bahwa bangkai merupakan salah satu zat yang diharamkan secara dzhahir oleh Allah swt. disebabkan sifat-sifat yang terkandung di dalamnya. Bangkai yang dimaksud oleh ayat di atas adalah binatang yang tidak disembelih, yang mati dengan sendirinya (penyakit, sudah tua); atau karena suatu kecelakaan (dicekik, jatuh, dan sebagainya).

Binatang yang tidak disembelih memiliki sifat rijsun (kotor) sekaligus khabaa’its (buruk). Hal ini diebabkan bahwa darah binatang tersebut tidak dikeluarkan sehingga mengendap dan menempel pada daging. Darah ini mengandung banyak bakteri dan kuman yang akan mengakibatkan berbagai macam penyakit, bahkan kematian. Bakteri yang hidup dalam bangkai di antaranya bakteri Coliform, Protis, Mezantarkes, Micrococcus Albash, dan yang lainnya.

Bakteri-bakteri tersebut bisa membentuk zat beracun yang berwarna-warni sehingga biasanya bangkai binatang berwarna hijau gelap dan membuat orang yang melihatnya hilang selera makan. Gas yang terbentuk dari penguraian bakteri-bakteri tersebut juga meninggalkan bau yang tidak sedap. Dagingnya biasanya lebih lembek dibandingkan binatang yang dipotong. Sehingga jika pun ada orang yang berusaha untuk menghilangkan gejala-gejala tadi dengan memasaknya dalam suhu yang cukup tinggi dengan asumsi dapat membunuh bakteri, maka tetap saja dagingnya sudah tidak layak untuk disantap sebagai makanan manusia. Selain itu, jika saja benar-benar bahwa daging tersebut telah bebas dari bakteri, warna dan baunya pun dibuat sedemikian rupa sehingga tidak lagi terlihat buruk, namun zat yang terkandung di dalam dagingnya telah mengalami perubahan dan kualitasnya telah jauh menurun yang pada saat dikonsumsi justru akan merusak kesehatan. Semua itu berlaku untuk semua kasus kematian binatang yang tidak disembelih. Maka, tidak ada alasan lagi untuk memakan bangkai jika kita telah memahami ini semua.

Hikmah Diharamkannya Darah

\al-QURAN\5\5_3.GIF

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.” (QS. Al-Maa`idah, 5: 3)

Darah merupakan suatu jaringan tubuh yang terdapat di dalam pembuluh darah yang warnanya merah. Warna merahnya tidak tetap, bergantung pada banyaknya O2 dan CO2. Darah yang mengandung banyak CO2 berwarna merah tua. Secara umum, darah terdiri dari cairan plasma dan sel-sel hidup yang berenang dalam cairan ini. Sel-sel tersebut adalah Eritrosit (sel darah merah), Leukosit (sel darah putih); berfungsi untuk mempertahankan tubuh dari serangan bakteri dan kuman agar tidak masuk ke dalam darah, dan Trombosit (keping darah) yang berperan penting dalam proses pembekuan darah.

Sebagai bagian dari jaringan yang membentuk makhluk hidup, darah berfungsi sebagai:

1) Alat pengangkut:

i. Mengambil O2 dari paru-paru untuk diedarkan ke seluruh jaringan tubuh.

ii. Mengangkut CO2 dari jaringan untuk dikeluarkan melalui paru-paru.

iii. Mengambil zat-zat makanan dari usus halus untuk diedarkan ke seluruh tubuh.

iv. Mengangkut zat-zat yang tidak berguna bagi tubuh untuk dikeluarkan melalui kulit dan ginjal.

2) Pertahanan tubuh terhadap serangan kuman atau racun yang akan membinasakan tubuh dengan perantara leukosit, antibodi/ zat-zat antiracun.

3) Menyebarkan panas ke seluruh tubuh.

Darah yang keluar pada saat tubuh terluka akan segera membeku dan membentuk gumpalan. Gumpalan ini adalah jaringan putih telur yang bernama fibrin yang dikelilingi butiran-butiran darah. Di bagian bawah darah yang beku tadi terdapat cairan (zat kuning) yang warnanya bening. Cairan tersebut disebut serum darah. Darah yang telah keluar dari tubuh akan terpisah dari pembuluh darah yang melindunginya. Sementara itu, butir-butir darah putih kehilangan fungsinya. Maka, sisa-sisa zat makanan serta segala macam zat yang terkandung di dalam darah akan diserang oleh berbagai macam kuman. Hal ini dikarenakan zat-zat tersebut merupakan makanan bagi kuman.

Akhirnya, darah yang keluar dari tubuh semakin mengandung banyak zat-zat berbahaya yang harus dijauhi. Racun-racun yang terkandung di dalamnya tetap akan memberi pengaruh walaupun darah telah dimasak dan dipanaskan. Jadi, darah yang mengandung zat-zat sisa metabolisme tentu saja kotor dan berbahaya sehingga tidak patut untuk dikonsumsi. Adapun kandungan gizi di dalam darah sangat kecil (hanya 8 % saja, dengan perincian Albumin 4%, Globulin 3,5%, dan Fibrinogen 0,5 %) sehingga tidak bisa dijadikan alasan bagi seseorang untuk mengonsumsi darah.

Hikmah Diharamkannya Babi

5_4

“Mereka bertanya kepadamu, ‘Apakah yang dihalalkan bagi mereka?’ Katakanlah, ‘Dihalalkan bagimu yang thayyibaat’…” (QS. Al-Maa’idah, 5: 4)

Babi merupakan binatang yang kotor dan mengandung banyak bakteri sehingga dapat menyebabkan timbulnya penyakit bagi orang-orang yang mengonsumsinya. Telah dibuktikan dalam beberapa penelitian bahwa babi mengandung banyak kuman atau bakteri yang berbahaya. Di antaranya adalah cacing pita yang dapat menyebabkan penyakit taenia solium. Telur cacing pita yang masuk ke dalam tubuh juga akan menghisap zat-zat makanan di dalam tubuh pasien, sehingga tubuh pasien akan semakin lemah. Gejala yang ditimbulkan dari penyakit ini adalah mual, diare, kelemahan mata, bahkan hingga menurunnya fungsi saraf.

Babi juga mengandung cacing trachena sp yang dapat menyebabkan penyakit trachena. Cacing ini biasanya berkumpul pada otot bisep sehingga menyebabkan peradangan otot yang sangat menyakitkan. Penyerangan cacing ini juga menyebabkan demam yang cukup tinggi dengan diiringi gejala lain seperti diare dan sesak nafas.

Dr. dr. Muhammad Washfi menyebutkan dari majalah kesehatan Amerika bahwa pada otot babi yang masih sehat terdapat bakteri pembusuk. Bakteri ini juga masih ada saat babi telah disembelih. Bakteri balantidium coli juga terdapat dalam daging babi dan dapat menyebabkan desentri.

Daging babi juga menjadi medium yang sangat baik untuk menyebarkan bakteri tifus, sehingga seorang yang mengonsumsi daging babi akan lebih mudah diserang bakteri ini. Selain itu, lemak babi juga merupakan zat yang sulit dicerna oleh tubuh, sehingga keberadaannya justru akan merusak proses metabolisme yang sedang berlangsung.

Lalu, bagaimana jika ada seorang yang berkata bahwa ia telah berhasil membersihkan daging babi dari berbagai kotoran dan penyakit. Ia pun telah berhasil mengolahnya sehingga mudah dicerna oleh tubuh..?

Ada sebuah kisah yang menarik. Seorang Perancis berkata kepada seorang ‘ulama di Mesir bahwa pengharaman babi pada saat ini sudah tidak relevan lagi karena di negaranya babi ditempatkan pada kandang yang sangat bersih dan steril sehingga tidak memungkinkan adanya kuman ataupun bakteri yang mengindap di dalam tubuh babi. Di sana babi dirawat dengan teknologi tinggi yang senantiasa menjaga kondisi kesehatan babi-babi yang diternak.

Namun, ‘ulama tadi tidak menjawab pertanyaan tersebut dengan sebuah pernyataan. Ia kemudian menyuruh seseorang untuk mengambil dua ekor babi jantan dan seekor babi betina lalu menempatkannya dalam satu kandang. Ia juga menyuruh seseorang untuk mengambil dua ekor ayam jantan dan satu ekor ayam betina lalu ditempatkan dalam satu kandang. Ia kemudian berkata kepada seorang Perancis tadi untuk melihatnya.

Apa yang terjadi sungguh di luar jangkauan akal manusia. Dua ekor ayam jantan terlihat saling bertarung demi mendapatkan seekor ayam betina. Mereka bertarung sampai mati untuk membuktikan siapa yang paling jantan. Lain halnya dengan babi, dua ekor babi jantan tadi bersama-sama menggauli seekor babi betina, dan setelah itu, dua babi jantan tadi melakukan hubungan homoseksual. Na’udzu billah

Itulah mungkin pelajaran yang paling berharga yang dapat kita petik, namun terlepas dari berbagai macam hikmah yang ada di balik diterapkannya syari’at, namun perlu ditegaskan di sini bahwa ‘illat dari diturunkannya syari’at tersebut bukanlah semata-mata karena hikmah yang terkandung di dalamnya. Namun, ketaatan kita terhadap syari’at Allah semata-mata hanya untuk mengharapkan syurga dan ridhaNya sebagai sebuah upaya menyempurnakan ibadah kita.

Hikmah Diharamkannya Khamr

Allah swt. berfirman dalam al-Quran.

5_90.GIF5_91.GIF

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Maa’idah, 5: 90-91)

Rasulullah saw. pernah bersabda,

“Jibril pernah mendatangiku dan berkata, ”Wahai Muhammad sesungguhnya Allah swt. telah melaknat khamr, hasil perahan, pemerah, peminum, pengangkut, alat angkut, penjual, barang dagangannya, penikmat, dan yang dinikmatinya.” (HR. Ahmad dan Ibn Hibban)

Sabdanya pula,

“Janganlah kalian meminum khamr, karena khamr adalah kunci bagi segala keburukan.” (HR. Ibn Majah).

Khamr adalah minuman fermentasi yang beralkohol dan memabukkan. Secara bahasa khamar berasal dari kata khamara yang artinya menghilangkan atau menutupi. Maksudnya adalah menutupi akal atau menghilangkan pikiran yang meminumnya. Khamr juga berasal dari kata takhammara yang artinya meragi, atau tukhammiru yang artinya mengacaukan, maksudnya mengacaukan akal.

Unsur utama khamr adalah alkohol dan dinamakan juga alkuhul, alkuhl, atau alku’ul. Alkohol terdiri dari beberapa jenis, di antaranya metanol (CH3), etanol (C2H5), propanol (C3H7), butanol (C4H9), pentanol (C5H11), heksanol (C6H14), dan beberapa jenis lainnya. Jenis yang paling banyak digunakan dalam khamr adalah etanol. Etanol juga adalah jenis alkohol yang dipergunakan untuk minuman keras lainnya. Sehingga pada saat kita mendengar istilah minuman beralkohol, maka yang dimaksudkan adalah minuman alkohol berjenis etanol.

Alkohol yang terkandung di dalam khamr, jika tidak dicampur dengan zat yang lain, langsung diserap dari lambung ke usus, pada saat telah masuk ke dalam tubuh peminumnya. Lalu alkohol pindah ke sistem peredaran darah dan diteruskan ke sistem saraf. Kemudian alkohol pun larut dalam sistem saraf dan melemahkannya. Kondisi seperti ini akan menyebabkan disfungsi dari beberapa organ tubuh yang bisa mengakibatkan penyakit gila atau bahkan kematian.

Akibat dari rusaknya saraf yang lain adalah banyaknya tindakan kriminal. Hal ini disebabkan pola pikir para peminum biasanya di luar akal sehat manusia biasa, emosinya mudah terguncang, dan sangat sensitif, sehingga memungkinkan untuk membuka jalan ke arah pertikaian, pembunuhan, pemerkosaan, dan aksi kriminal lainnya. Termasuk pada saat tubuh mereka meminta tambahan khamr karena ketagihan, namun mereka tidak memiliki uang yang cukup untuk membelinya, maka pencurian dan perampokan pun bisa terjadi.

Tentu saja kita tidak menginginkan generasi muda kita mengalami berbagai kerusakan moral seperti yang telah disebutkan di atas. Maka, cegahlah para pemuda, khususnya, dari meminum alkohol atau barang-barang haram yang sejenisnya untuk menyelamatkan ummat di dunia dan di akhirat.

Alkohol juga merangsang selaput lendir lambung dan mengubah getahnya. Hal tersebut membantu mengeluarkan zat asam yang berlebih, menghalangi cairan yang dikeluarkan lambung, dan menyebabkan kelemahan pada kelenjar-kelenjar lambung. Kondisi seperti ini tentu saja membuat lambung meradang dan proses pencernaan di dalam tubuh akhirnya tidak berjalan dengan baik.

Selain itu, khamr juga menyebabkan melebarnya pembuluh-pembuluh darah yang ada di permukaan tubuh dengan signifikan, sedangkan darah yang ada di dalam tubuh mengalami penyumbatan karena terjadi pengerutan (kontriksi). Akibatnya sirkulasi darah menjadi kacau.

Walaupun demikian, bukan berarti saat semua kelemahan ataupun sifat-sifat buruk yang terdapat pada semua zat tersebut dihilangkan, maka secara otomatis semuanya dapat dihalalkan. Tidak demikian. Alasan yang pertama dan paling utama atas pengharaman zat-zat tersebut bukan karena unsur negatif yang ada di dalamnya tetapi karena Allah swt. dan Rasul-Nya saw. melarang hal tersebut. Sesungguhnya Allah swt. mengharamkan sesuatu untuk menguji manusia mana yang taat dan mana yang ingkar. Mereka yang taat tentu akan mendapatkan rahmat dan berkah dariNya, sedangkan bagi mereka tentulah kita sadari bahwa azab Allah sangat pedih.

Wallahu a’lam…

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: