jump to navigation

ath-Thibb an-Nabawi (7) Februari 15, 2009

Posted by hudzayfah in Metode Pengobatan Nabi saw..
trackback

MAKANLAH YANG HALALAN THAYYIBAN

Di antara permasalahan kita saat ini adalah tidak memperhatikan kaidah-kaidah preventif yang diajarkan Islam. Kaidah-kaidah kesehatan yang telah disinggung sebelumnya sebenarnya sudah cukup untuk membuat seorang muslim sehat setiap saat, bila diterapkan dengan benar. Bahkan akan melindungi kita dari berbagai macam penyakit yang ada, sehingga kita tidak harus mendatangi dokter untuk berobat. Kita melupakan perkara-perkara yang kita anggap kecil sehingga akhirnya harus berakibat bencana yang besar bagi tubuh kita. Kita harus menjalankan kembali sunnah Rasulullah saw. dalam makan dan minum. Karena, permasalahan yang sebenarnya dari pola makan kita bukan terletak pada kuantitasnya, tetapi kualitasnya. Yaitu bagaimana kita bisa menjaga kualitas makanan kita, cara memakan kita agar sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.. Allah swt. berfirman.

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halalan thayyiban dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah, 2: 168)

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizki yang thayyiban yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah, 2: 172)

“Dan makanlah makanan yang halalan thayyiban dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al-Maa’idah, 5: 88)

“…, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik (thayyibaat) dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk (khabaa’its) dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.” (QS. Al-A’raaf, 7: 157)

“Maka makanlah yang halalan thayyiban dari rizki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (QS. An-Nahl, 16: 114)

“…Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik (azkaa tha’aaman), maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu,…” (QS. Al-Kahf, 18: 19)

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang thayyibaat, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mu’minuum, 23: 51)

Kita perhatikan kembali ayat-ayat di atas. Bagaimana Allah swt. senantiasa menggunakan kata perintah كلوا (makanlah..!) dalam firman-Nya, sedangkan dalam QS. Al-Kahf, 18: 19, Allah swt. menggunakan kata “suruhlah”. Lihatlah bagaimana kemudian Allah swt. tidak sekedar memerintahkan manusia untuk mengonsumsi makanan yang halal saja. Tetapi, lebih dari itu, Allah swt. memerintahkan ummat manusia untuk mengonsumsi segala sesuatu yang halalan thayyiban. Artinya, tidak cukup kita memilah dan memilih sesuatu dari halal tidaknya saja. Namun, semua itu harus berlanjut kepada pertanyaan apakah sesuatu tersebut itu thayyib atau tidak. Karena, memang begitulah perintahNya yang harus kita taati tanpa ragu sedikitpun.

Ingat, saudaraku, bahwa Allah swt. telah memerintahkan kita untuk memakan makanan yang halalan thayyiban. Tentu saja, bagi seorang mu’min, tiada jawaban yang selayaknya diucapkan bagi setiap seruan dan perintahNya kecuali sami’na wa atha’na. Inilah yang dimaksud kualitas dari zat makanan yang menjadi masalah utama dalam pola makan kita. Halalan thayyiban adalah segala sesuatu yang baik, bergizi, dan mendukung proses metabolisme tubuh. Allah menyuruh kita untuk mengonsumsinya agar keseimbangan unsur di dalam tubuh kita tetap terjaga. Saat unsur-unsur di dalam tubuh telah seimbang, sistem imunitas tubuh akan meningkat dan sistem imunitas ini akan sanggup menangkal berbagai penyakit yang menyerang tubuh kita.

Walaupun demikian, kita tidak bisa membatasi bahwa apa yang dimaksud halalan thayyiban itu terbatas pada zat yang terkandungnya saja. Sekali lagi, tidak. Ada yang disebut dengan halal secara dzati, ada yang disebut dengan halal secara ma’nawi. Kita akan bahas satu per satu.

Halal Dzati

Halal secara dzati artinya adalah di dalam zat makanan tersebut tidak tercampur sedikit pun zat yang diharamkan oleh Allah swt.. Ini pengertian yang sangat umum dan dapat dengan mudah kita fahami bersama. Namun, tidak cukup sampai di sini. Ingatlah bahwa dalam ayat-ayat di dalam al-Quran, disebutkan bahwa Allah swt. tidak sekedar menyuruh ummatNya memakan makanan yang halal saja, tetapi juga yang thayyib. Apa itu thayyib..? Thayyib bermakna “baik”. Dalam konteks zat yang terkandung dalam makanan atau minuman, maka tentu saja yang dimaksudkan dengan thayyib adalah bergizi. Dalam zatnya penuh kandungan yang dibutuhkan oleh tubuh, sehingga makan kita tidak sekedar untuk menghapus lapar saja, melainkan memang benar-benar memberikan nutrisi yang baik demi terjaganya tubuh kita dari berbagai kelemahan dan peradangan organ.

Perlu diingat bahwa sesuatu yang tidak diharamkan (yang secara dzati halal) belum tentu thayyib, sedangkan segala sesuatu yang thayyib sudah pasti dihalalkan. Sehingga kita harus memilah dan memilih makanan mana yang memang layak untuk kita konsumsi atau tidak. Ini merupakan sebuah tindakan yang bernilai ibadah sekaligus sangat bermanfaat bagi keberlangsungan kesehatan tubuh kita. Ingat pula bahwa Rasulullah pernah bersabda bahwa kita harus senantiasa mengingat lima perkara sebelum datangnya lima perkara. Salah satunya adalah sehat sebelum datangnya sakit.

Jika hingga kini kita masih belum bisa selektif dalam memilih makanan mana yang akan kita konsumsi, artinya bahwa aktivitas makan dan minum kita hanya sekedar untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga saja, Namun tidak memperhatikan aspek thayyib di dalamnya, hal tersebut bisa diartikan bahwa kita sedang menyakiti diri kita sendiri dengan perlahan. Hal ini dikarenakan kita tidak memenuhi hak tubuh kita dengan gizi yang seimbang.

Halal Ma’nawi

Secara dzati, Allah swt. dengan tegas menyebutkan kriteria makanan yang diharamkanNya. Sedangkan Allah swt. tidak merinci berbagai jenis makanan yang halal. Hal ini dikarenakan bahwa secara dzati, makanan yang haram jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan makanan yang halal. Allah swt. hanya menyebutkan empat jenis makanan yang diharamkanNya ditambah dua sifat yang juga akan menjadikan satu zat menjadi haram. Keempat jenis yang dimaksud adalah babi, darah, bangkai, serta binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah swt.. Sedangkan dua sifat yang akan menyebabkan satu zat menjadi haram adalah khabaa’its dan rijsun (buruk dan najis). Allah swt. juga menyebutkan satu jenis minuman yang diharamkanNya yaitu khamr, dan Rasulullah saw. menegaskan bahwa setiap yang banyaknya memabukkan, maka yang sedikitnya pun haram.

Namun demikian, kita seringkali luput dari sebuah kaidah lainnya, bahwa ada beberapa sifat ataupun tindakkan yang sangat teknis yang tiba-tiba dapat membuat sesuatu yang halal secara dzati bisa menjadi haram untuk dikonsumsi. Hal ini juga dapat difahami jika kita melihat secara lebih jelas apa yang dimaksudkan oleh Allah swt. dengan kata khabaa’its dan rijsun dalam al-Quran sehingga kedua sifat ini dapat menyebabkan haramnya zat yang halal.

Khabaa’its merupakan bentuk jamak dari kata al-khubtsu, yang berarti jelek, jahat, hina, keji, rendah, dan yang sejenisnya. Sedangkan rijsun berarti kotoran, perbuatan keji, najis, dan sejenisnya. Artinya, zat tersebut bersifat buruk, tidak sehat, tidak bergizi, kotor, dan tidak layak dikonsumsi. Atau bisa juga kita mengartikan bahwa zat tersebut telah bercampur dengan sesuatu yang buruk (khubtsu atau rijs) sehingga ia menjadi buruk pula. Bisa saja zat tersebut bercampur dengan zat haram yang telah disebutkan Allah swt. dalam al-Quran, atau bisa juga berarti bahwa ia diambil, diproses, diracik dengan cara-cara yang bertentangan dengan syari’at. Yang kedua inilah yang dimaksudkan halal atau haram secara ma’nawi. Maka, kita akan melihat bahwa haramnya sesuatu secara ma’nawi akan meliputi beberapa hal sebagai berikut.

1. Bagaimana Engkau Mendapatkannya

Bila seseorang telah menghindari memakan makanan yang haram zatnya, tentu hal tersebut merupakan perbuatan yang mulia. Namun, bagaimana jadinya jika ia mendapatkan zat tersebut dari mencuri atau menipu..? Atau ia membelinya dengan uang hasil curian dan korupsi..?

Ketahuilah, bahwa kebaikan tidak akan menjadi kebaikan saat diperoleh dari keburukan. Maka, Islam tidak pernah mengenal istilah “menghalalkan segala cara”. Artinya, walaupun zat yang terkandung dalam makanan atau minuman tersebut merupakan zat yang halal secara dzati, tetapi pada hakikatnya, secara ma’nawi, zat tersebut telah berubah menjadi sesuatu yang haram. Dapat dibayangkan, bila hal tersebut benar-benar terjadi dalam kehidupan kita, berapa banyak makanan dan minuman yang telah melekat di dalam daging kita, serta mengalir bersama darah kita..? Lalu, bagaimana jika makanan dan minuman yang telah berubah statusnya menjadi haram itu juga dimakan oleh isteri dan anak-anak kita..?

Bagaimana mungkin Allah swt. akan memberikan keberkahan hidup untuk kita, jika pada tubuh kita terdapat zat yang haram mengendap di dalamnya..? Mungkin karena inilah hidup kita senantiasa dirundung kecemasan dan kesusahan, do’a kita tidak terijabah dan kita senantiasa sengsara dalam gemerlap dunia. Maka, berhatai-hatilah terhadap semua ini. Kehalalan suatu zat yang akan masuk ke dalam tubuh kita harus kita cek dan ricek kembali.

2. Siapa yang Memproduksi Zat Tersebut

Mengapa hal ini juga menjadi batasan bagi syara’ untuk menentukan halal tidaknya zat yang dimaksud..? Hal tersebut dikarenakan bahwa maqashid asy-syar’i dari diterapkannya hukum-hukum Islam di antaranya adalah untuk menjaga jiwa, harta, dan ‘izzah.

Hari ini, diakui atau tidak, bahwa produsen-produsen ataupun distributor-distributor dari kebutuhan sehari-hari kita, khususnya makanan dan minuman dikuasai oleh asing (dalam hal ini kaum kuffar) yang memusuhi Islam. Dapat dibayangkan oleh kita bersama, bahwa saat kita membeli produk dari perusahaan mereka, itu sama saja dengan memberikan mereka modal untuk mengahancurkan perekonomian ummat sekaligus memberikan peluang bagi mereka untuk membunuh jiwa-jiwa yang tidak berdosa di seluruh penjuru bumi ini. Tidakkah kondisi seperti itu membuat ‘izzah Islam semakin terinjak dan ummat semakin terhinakan..??

Memang tidak ada larangan bagi kita untuk bermu’amalah dengan kaum kuffar (dzimmi). Namun, saat efek yang ditimbulkannya justru menghancurkan Islam, maka tidak patutlah kita untuk mendukung perekonomian mereka. Apalagi, saat ini dengan jelas mereka menghancurkan setiap sendi kehidupan ummat. Mereka memperbudak ummat dengan menjadikannya sebagai karyawan kontrak dengan gaji yang sangat rendah, seperti yang mereka lakukan di negeri kita Indonesia, atau di negara lain, seperti Vietnam, Filiphina, atau di sebagian besar negara Afrika, dan korban terbesar dari kekuatan kapitalis asing tersebut adalah ummat Islam.

Begitu pun dengan penjajahan fisik yang mereka lakukan dengan nyata dan terang-terangan, sebagaimana yang mereka lakukan terhadap ummat Islam di Afghanistan, ‘Iraq, Chechnya, Palestina, Sudan, atau Somalia. Maka, tidak ada tindakan lain yang lebih tepat dilakukan selain memboykot produk-produk kaum kuffar tersebut. Dengan begitu, ummat akan selamat dari jerat-jerat kekuasaan asing dan kita bisa mengembalikan sekaligus menegakkan kembali ‘izzah ummat Islam yang semakin terkoyak ini.

Apalagi, berdasarkan data dan fakta yang didapatkan, bahwa perusahaan-perusahaan kaum kuffar tersebut seringkali menyusupkan bahan-bahan yang kotor atau najis seperti daging babi atau alkohol pada makanan ataupun minuman yang mereka produksi sehingga membuat ummat Islam mengonsumsi itu semua tanpa sadar. Maka, bahan-bahan tersebut kemudian merusak tubuh kita perlahan demi perlahan. Jika kita tidak teliti, maka rusaklah tubuh kita dengan racun yang setiap harinya kita konsumsi sebagai makanan. Bahkan, sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa Imam Ahmad Ibn Hanbal (Imam Hanbali) rahimahullah, Syaikh al-Hadits Imam Bukhari, serta Imam Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah; bahwa mereka melarang seorang muslim untuk menerima racikan obat yang dibuat oleh seorang kafir dzimmi. Jika obat saja yang jelas-jelas digunakan sebagai suatu penawar dilarang, apalagi jika racikannya adalah makanan biasa yang bisa kita konsumsi atau tidak.

Kafir dzimmi adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut orang-orang kafir yang tunduk pada pemerintahan Islam. Posisi mereka di hadapan pengadilan Islam sama dengan ummat muslim pada umumnya. Khalifah atau Amir al-Mu’minin yang memimpin pemerintahan Islam harus berlaku adil padanya. Sedangkan saat ini pemerintahan Islam belum ada, belum tegak di muka bumi, lalu bagaimana status dari orang-orang kafir yang ada saat ini, dan bagaimana pula kondisi dari segala makanan yang mereka racik..? Pertama, kita tidak bisa menyebut atau mengategorikan mereka sebagai kafir apapun, karena memang kedudukan mereka yang tidak jelas. Mereka tidak tunduk pada pemerintahan Islam, namun mereka juga belum tentu memerangi ummat Islam. Kedua, bahwa makanan, minuman, ataupun obat-obatan yang diracik oleh mereka sebaiknya tetap tidak digunakan selama kita masih menemukan makanan, minuman, atau obat-obatan yang diracik oleh seorang muslim. Hasil racikan mereka dapat digunakan pada kondisi darurat, sebagimana kaidah ushul fiqh: “al-masyaqqah tajlibu at-taysiir” (kesukaran itu menarik adanya kemudahan) serta kaidah “adh-dharuratu tubiihu al-mahdzhuraat” (darurat itu membolehkan hal-hal yang dilarang). Jadi, kita tetap berpegang teguh bahwa hukum dari racikan tersebut asalnya adalah haram. Ini merupakan pendapat yang paling selamat. Wallahu a’lam…

3. Bagaimana Cara Memproduksinya

Bisa jadi zat-zat yang akan dikonsumsi tersebut memang halalan thayyiban, dan yang memproduksi atau mengolahnya pun seorang muslim yang tidak mungkin menghancurkan agamanya sendiri. Namun, bisa jadi proses produksi yang berkaitan dengannya bertentangan dengan sunnah Rasulullah saw.. Misalnya adalah pada saat memproduksi, si produsen membumbuinya dengan berbagai ritual yang bertentangan dengan ‘aqidah; seperti jimat-jimat atau jampi-jampi yang berbau TBC (tahayyul, bid’ah, dan churaffat), atau perusahaan yang memproduksinya masih terikat transaksi riba’, dan sebagainya. Maka, kita mesti berhati-hati dan harus berani memilah serta memilih apa-apa yang memang benar-benar layak dikonsumsi atau tidak. Karena sesungguhnya permasalahan makanan ini erat kaitannya dengan keberkahan hidup kita.

Saat kita memasukkan zat-zat yang halalan thayyiban ke dalam tubuh kita, niscaya ia akan menjadi pintu berkah bagi keberlangsungan hidup kita. Sebaliknya, jika yang masuk ke dalam tubuh kita adalah zat-zat yang tidak halalan thayyiban, maka dapat dipastikan ketidakberkahan pun akan senantiasa mengiringi langkah kita, mulai dari penyakit-penyakit fisik, kesempitan hati, tertekannya pikiran, dan lain sebagainya.

Cara Makan Rasulullah saw.

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa salah satu permasalahan kita dalam makanan dan minuman adalah tidak terletak pada kuantitas, namun kualitas. Selain kualitas zat dan nutrisi yang terkandung di dalamnya, juga kualitas cara memakannya, termasuk di dalamnya adalah bagaimana makanan tersebut harus dimakan, apakah harus bersamaan atau justru harus dipisah.

Sebelumnya, kita harus meyakini dan benar-benar meneliti bahwa tidak ada lagi unsur-unsur yang negatif dalam makanan atau minuman yang hendak kita konsumsi. Kemudian, kita cari cara terbaik menyantapnya. Cara-cara terbaik ini telah dicontohkan oleh Rasulullah saw..

Dari kisah hidupnya, kita ketahui bahwa Rasulullah saw. senantiasa memakan makanan yang berkualitas dan tidak hanya memakan satu jenis makanan saja. Hal ini disebabkan secara alami, menurut Imam Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, kebiasaan menyantap satu jenis makanan saja merupakan satu kebiasaan yang berbahaya bagi tubuh. Saat seorang tidak bisa menyantap makanan yang disukainya, sementara ia juga menahan dari makanan yang tidak disukainya, tubuhnya akan melemah bahkan bisa menyebabkan kematian. Sedangkan jika ia memaksa menyantap makanan yang tidak ia sukai, maka tubuhnya tidak menerimanya sebagai nutrisi dan justru akan sangat membahayakan. Jadi, kebiasaan untuk menyantap satu jenis makanan saja merupakan kebiasaan yang buruk dan dapat membahayakan tubuh kita sendiri, walaupun makanan itu merupakan makanan terbaik.

Imam Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah juga berkata bahwa Rasulullah saw. terbiasa mengonsumsi segala jenis makanan yang terbaik yang ada di negerinya. Jika salah satu jenis makanan memiliki tekstur yang perlu dihaluskan atau distabilkan, maka beliau saw. menstabilkannya dengan makanan yang bertekstur kebalikannya. Seperti beliau menstabilkan kurma yang memiliki unsur panas dengan semangka atau mentimun yang memiliki unsur dingin. Jika tidak ada, maka beliau saw. menyantapnya dengan secukupnya, tidak berlebihan sehingga tidak membahayakan tubuh secara alami.

Rasulullah saw. pun tidak pernah menghina atau mencela makanan. Saat beliau tidak menemukan makanan yang disukainya, beliau menahan diri dari makanan yang tidak disukainya, karena saat beliau memaksakan diri untuk memaksakan menyantapnya, hal tersebut akan membahayakan dirinya lebih dari manfaat yang akan diperoleh dari zat makanan tersebut. Walaupun demikian, beliau tidak pernah mencela makanan yang tidak disukainya tersebut. Saat dihidangkan seekor biawak kepada beliau, beliau hanya mendiamkan dan tidak memakannya. Seorang bertanya kepada beliau saw., “Apakah makanan ini haram?” Beliau saw. menjawab, “Tidak, akan tetapi makanan ini tidak ada di negeriku, sehingga aku tidak doyan.”

Rasulullah saw. senantiasa memperhatikan kebiasaan dan kesukaannya. Beliau menyukai daging, terutama bagian lengan dan punggung kambing. Dalam shahih Bukhari dan Muslim disebutkan, “Rasulullah pernah dihidangi daging. Lalu bagian lengan daging itu diberikan kepada beliau. Beliau ternyata amat menyukainya.” Dalam riwayat yang lain disebutkan dari Abu Ubaydah dari Dhaba’ah binti az-Zubayr bahwa ia pernah menyembelih seekor domba di rumahnya. Lalu, Rasulullah saw. memerintahkan seseorang untuk memberikan sebagian daging kambing tersebut kepada beliau saw.. Dhaba’ah menjawab, “Yang tersiksa hanya bagian lehernya saja. Kami malu memberikannya kepada Rasulullah.” Utusan itu kembali pada Rasulullah saw. dan memberitahukan beliau apa yang diucapkan Dhaba’ah. Beliau berkata, “Kembalilah kepadanya (Dhaba’ah) dan katakan silakan ia mengirimkan sisa daging tersebut. Karena bagian itu adalah bagian yang baik dari hewan tersebut, lebih baik dan lebih jauh dari unsur yang jelek.”

Menurut Imam Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, leher, lengan, dan punggung kambing merupakan salah satu makanan terbaik karena ia mencakup tiga fungsi: Pertama, banyak manfaatnya dan berpengaruh menambah stamina. Kedua, ringan di lambung serta tidak memberatkannya. Ketiga, mudah dicerna. Menurutnya, inilah cirri makanan terbaik yang harus kita konsumsi untuk menjaga kestabilan tubuh kita. Memakan makanan terbaik dengan porsi yang sedikit jauh lebih baik dibandingkan memakan makanan yang biasa saja (tidak berkualitas) dengan porsi yang banyak.

Berlebihnya makanan di dalam tubuh akan memaksa pankreas mengeluarkan enzim yang melebihi batas kemampuannya. Jika pola makan berlebihan ini dilakukan dengan terus menerus, tentu saja akan menyebabkan peradangan yang kronis pada sistem pencernaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit yang disebabkan karena makan yang berlebihan ini lebih berbahaya dibandingkan dengan penyakit yang disebabkan kekurangan makanan. Mengonsumsi makanan yang mengandung kalori secara berlebihan sampai melebihi kebutuhan tubuh menyebabkan penimbunan lemak di bagian pantat, sekitar kedua ginjal, jaringan yang mengelilingi usus, dada, dan otot-otot tubuh. Apalagi, jika aktivitas kita tidak mengeluarkan banyak energi. Padahal, banyak gerak dan olahraga merupakan salah satu cara untuk membakar kalori di dalam tubuh. Penimbunan tersebut dapat menyebabkan kegemukan (obesitas), heartburn karena asidosis, serta peradangan pada kantong empedu.

Selain itu, penimbunan lemak yang tidak bermanfaat bagi tubuh akan menyebabkan tekanan yang luar biasa hingga ke arah dada. Kondisi seperti ini mengakibatkan dada terasa sesak, sehingga paru-paru kekurangan oksigen dan menghambat peredaran darah saat tekanannya semakin meningkat. Jika hal tersebut dibiarkan, maka tekanan berlanjut ke wilayah atas tubuh kita. Akibatnya, darah di otak membeku dan tubuh dimungkinkan akan terserang stroke. Sedangkan penimbunan kolesterol yang tidak bermanfaat bagi tubuh akan menghambat aliran darah yang akan membahayakan jantung, paru-paru, dan otak.

Dikisahkan pula bahwa Rasulullah saw. sangat menyukai makanan yang manis-manis, seperti madu, manisan, susu, dan lainnya. Daging, madu, dan manisan adalah makanan yang sangat bermanfaat bagi kesehatan dan stamina tubuh.

Rasulullah saw. senantiasa memakan sesuatu dengan lauk pauknya, tidak salah satunya saja. Beliau biasa menyantap roti dengan daging. Beliau pernah berkomentar tentang makanan tersebut, “Ini adalah makanan favorit penduduk dunia dan akhirat.” (HR. Ibn Majah). Beliau saw. juga terkadang menjadikan semangka atau kurma sebagai lauknya. Hal tersebut juga dilakukan sebagai upaya untuk menyeimbangkan unsur-unsur yang terkandung di dalam makanan tersebut. Dapat kita lihat bahwa roti gandum bersifat dingin dan kering, sedangkan kurma bersifat basah dan panas. Menjadikan roti gandum sebagai makanan dan kurma sebagai lauknya merupakan pilihan yang sangat tepat untuk mengatur gizi yang seimbang, terutama bagi mereka yang terbiasa mengonsumsinya, seperti penduduk Madinah.

Menyantap roti dengan lauknya merupakan langkah untuk menjaga kesehatan. Kondisinya akan menjadi sangat berbeda ketika kita hanya menyantap salah satunya saja. Karena lauk itu disebut idaam (penyerasi) sebab ia bisa menjaga keseimbangan dari unsur-unsur yang memengaruhi kesehatan tubuh kita.

Saat menyantap buah-buahan, beliau saw. langsung menyantapnya setelah dipetik. Karena memang itulah cara terbaik mengonsumsi buah-buahan. Segala macam nutrisi yang terkandung dalam buah-buahan dapat dirasakan secara langsung. Berbeda saat kita mengonsumsinya setelah menunggu beberapa saat dari waktu buah tersebut dipetik. Beberapa unsur positif yang terkandung di dalamnya bisa menguap atau tercampur dengan unsur negatif yang disebarkan melalui udara.

Buah-buahan, menurut Imam Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah memiliki kelembapan. Temperatur yang panas sekaligus kondisi lambung yang panas akan memproses buah tersebut menjadi masak dan hilang unsur negatifnya. Apabila tidak dimakan secara berlebihan dan tidak memaksa tubuh untuk menerima asupan melebihi kapasitasnya, buah tersebut belum rusak sebelum mengonsumsinya. Buah-buahan juga jangan dirusak nutrisinya dengan meneguk banyak air setelah mengonsumsinya. Termasuk dengan memakan buah-buahan setelah memakan makanan yang lebih berat (makanan yang mengandung banyak karbohidrat, seperti nasi, gandum, atau jagung) karena justru lambung tidak dapat mencerna dengan sempurna dan usus tidak bisa optimal menyerap nutrisi buah yang dikonsumsi setelah kita mengonsumsi makanan berat. Bila buah-buahan dikonsumsi dengan porsi yang tepat dan seimbang, niscaya menjadi obat yang berkhasiat.

Rasulullah saw. senantiasa menyempurnakan gizi dengan menambah makanan lain, selama beliau masih bisa melakukannya. Beliau juga memerintahkan ummatnya untuk senantiasa menutup hari dengan makan malam walaupun dengan sebutir kurma. Rasulullah bersabda, “Meninggalkan makan malam bisa mempercepat penuaan”. (HR. Turmudzi)

Itulah gambaran singkat bagaimana Rasulullah saw. menjaga kesehatan dengan menjaga pola makan yang baik dan benar. Berikutnya, akan diuraikan beberapa adab yang biasa dilakukan oleh Rasulullah saw., baik ketika makan ataupun minum.

1. Makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang

Rasulullah pernah bersabda, “Kami adalah orang-orang yang tidak makan, kecuali setelah lapar, dan bila makan, kami tidak sampai kenyang.” Hadits tersebut mengandung arti, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa kita sebenarnya cukup untuk mengonsumsi makanan dengan porsi yang minimal asalkan dengan kualitas yang memadai.

Berdasarkan penelitian, mengonsumsi makanan saat tidak dibutuhkan tubuh dapat menyebabkan kebodohan dan berbagai macam penyakit lainnya. Di antaranya adalah hilang ingatan, konsentrasi menurun, tekanan mental, hemiplegia (lumpuh separah tubuh), serangan jantung, gagal ginjal, menurunnya pendengaran, peradangan pada persendian, kencing manis, dan encok.[1]

2. Berdo’a sebelum dan sesudah makan

Anas ibn Malik ra., seorang shahabat yang pernah lama sekali mengabdikan dirinya kepada Nabi saw. berkata, “Adalah Nabi saw., apabila makanannya telah didekatkan kepadanya, beliau membaca bismillah. Dan apabila selesai makan, beliau berkata, Allahumma ath’amta wa asqayta wa aghnayta wa aqnayta wa hadayta, wa ahyayta, fa lakalhamdu ‘alaa maa a’thayta.” (HR. Ahmad dan Nasa’i)

Diriwayatkan dari ‘A`isyah ra., dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Apabila salah seorang kalian makan, hendaknya ia menyebut nama Allah ta’ala. Dan jika dia lupa menyebut nama Allah ta’ala pada awalnya, maka Hendaknya dia membaca, Bismillahi awwalu wa aakhirah.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi)

Membaca basmallah sebelum makan dan minum serta membaca hamdallah setelah makan dan minum merupakan sebuah upaya untuk menjauhkan makanan kita dari syithan. Dari Hudzayfah ra., ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya syaithan ikut makan apabila orang itu tidak menyebut nama Allah.” (HR. Muslim). Berdo’a sebelum dan setelah makan juga dapat membukan pintu barakah, memberi manfaat, menolak madharat, serta menambah kenikmatan. Imam Ahmad Ibn Hanbal menegaskan, “Kalau makanan memenuhi empat criteria, maka ia adalah makanan yang sempurna: Bila dibacakan bismillah sebelum disantap, dibacakan alhamdulillah setelah disantap, dimakan oleh banyak orang (berjama’ah), dan merupakan makanan yang halal.”

3. Tidak pernah mencela makanan

Walaupun Rasulullah saw. tidak menyukai beberapa jenis makanan tertentu, namun beliau saw. tidak pernah mencelanya. Bahkan, dari Abu Hurayrah ra., ia berkata tentang kebiasaan Rasulullah ini, “Rasulullah saw. sama sekali tidak pernah mencela makanan. Jika beliau menyukai, beliau memakannya. Dan apabila tidak suka, beliau tinggalkan.” (Muttafaq ‘Alayh)

Sudah selayaknya seorang mu’min mengikuti sunnah ini. Karena tidak mencela makanan merupakan sebuah etika yang baik ketika menghadapi makanan yang tidak kita sukai sekalipun. Karena hal tersebut merupakan bukti dari rasa syukur kita kepada Allah swt. yang masih memberikan rizki sekaligus kenikmatan kepada kita untuk bisa makan dan minum, sedangkan enak tidaknya, atau suka tidaknya seorang terhadap makanan tertentu merupakan selera masing-masing individu yang sangat relatif dan manusiawi.

Beliau saw. senantiasa memakan makanan yang beliau sukai saat dihidangkan makanan di hadapan beliau, bahkan memujinya. Dari Jabir ibn Abdillah ra., berkata, “Rasulullah saw menanyakan lauk kepada keluarganya, dan mereka menjawab, ‘Kami tidak punya apa-apa selain cuka’. Lalu, beliau berkata, ‘Lauk yang paling enak adalah cuka..!’” (HR. Muslim). Hal ini dilakukan sebagai sebuah upaya penghormatan terhadap orang yang menghidangkannya dan rasa syukur beliau yang tinggi terhadap rizki yang dianugerahkan oleh Allah swt..

4. Tidak makan sambil bersandar atau menelungkup

Rasulullah saw. bersabda dengan sanad yang shahih dari Abu Juhayfah Wahab ibn Abdillah ra., “Aku tidak makan sambil bersandar.” (HR. Bukhari). Beliau saw. juga pernah bersabda, “Sesungguhnya aku duduk sebagaimana layaknya seorang hamba duduk. Aku juga makan sebagaimana layaknya seorang hamba makan.” Diriwayatkan pula oleh Ibn Majah, “Rasulullah pernah melarang seseorang makan sambil menelungkup.”

Bersandar pada hadits tersebut terdiri atas tiga makna, bersila, bersandar pada sesuatu, serta bersandar ke samping. Perlu diketahui bahwa bersandar ke samping merupakan posisi duduk paling berbahaya bagi kesehatan. Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah berkata bahwa makan dengan duduk seperti itu bisa menghalangi proses masuknya makanan secara alami dalam kondisi yang wajar sehingga akan sulit mencapai lambung, bahkan berakibat menekan lambung sehingga lambung tidak siap menerima makanan.

Makan dengan posisi yang tegak atau agak condong ke depan merupakan cara duduk yang terbaik. Karena makanan dapat dengan mudah masuk ke dalam lambung. Selain itu, makan dengan posisi bersandar dapat membuat seorang sanggup memakan makanan lebih banyak dari biasanya, sehingga akhirnya ia bisa terlalu kenyang setelah makan. Apalagi, cara duduk bersandar (bersila) saat makan merupakan ciri dari sifat orang-orang yang sombong. Maka, karena itulah beliau bersabda, “Aku juga makan sebagaimana layaknya seorang hamba makan.”

Beliau saw. makan dengan posisi duduk muq’iy (iq’a), sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim dari Anas ra., ia berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah makan kurma dengan duduk muq’iy.” Beliau saw. juga pernah makan dengan tawarruk (posisi tasyahhud awwal). Beliau saw. melakukan hal tersebut karena, selain sikap yang tawadhu terhadap RabbNya, juga merupakan menjaga agar beliau saw. tidak makan terlalu banyak.

Al-Ustadz Abduh Zulfidar Akaha[2] menjelaskan posisi duduk muq’iy. Yaitu duduk dengan melipat satu kakinya ke belakang, betis bagian depannya menyentuh lantai, dan telapak kakiknya menyangga pantat, sementara lututnya mengarah ke depan. Sedangkan kaki satunya lagi dilipat dengan lutut mengarah ke atas, dan telapak kaki menginjak lantai.

Dengan posisi duduk seperti ini akan memudahkan proses pencernaan karena merupakan posisi duduk terbaik. Beliau saw. membiarkan organ-organ tubuh untuk tetap pada posisinya yang alami. Sedangkan untuk menjaga organ-organ tersebut tetap pada posisinya yang alami adalah dengan tubuh yang tegak lurus. Sedangkan posisi sambil menelungkup atau terlentang sangat berbahaya bagi tubuh karena tidak memungkinkan makanan untuk turun ke lambung, makanan akan tersendat sehingga bisa merusak tubuh.

5. Tidak langsung tidur setelah makan

Disebutkan oleh Abu Nu’aim, “Cairkan makanan kalian dengan berdzikir kepada Allah yang mahatinggi dan shalat, dan janganlah kalian tidur sesudah makan, karena dapat membuat hati kalian menjadi keras. Dalam kacamata medis pun, tidak dianjurkan seseorang langsung tidur setelah menyantap makanan. Ada baiknya seorang menunggu setidaknya 2 hingga 3 jam agar makanan bisa dicerna oleh lambung dan usus. Jika seorang langsung tidur setelah makan, maka akan menyebabkan banyaknya makanan di dalam tubuh yang tidak dicerna, menumpuk yang akan mengakibatkan berbagai penyakit kronis, seperti peradangan pada usus dan lambung atau penyakit jantung.

6. Makan dan minum dengan tangan kanan

Di dalam al-Quran kita akan dapati bahwa kanan berkonotasi baik atau mulai, sedangkan kiri berkonotasi buruk atau celaka. FirmanNya.

“Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu.” (QS. Al-Waqi’ah, 56: 8-9)[3]

Dalam ayat di atas, Allah swt. mengungkapkan para penghuni syurga dengan istilah golonbgan kanan (ash-hab al-yamiin), serta menggunakan istilah golongan kiri (ash-hab asy-syimaal) sebagai penghuni neraka. Konotasi ini berlaku dan bahkan direpresentasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh Rasulullah saw.. Beliau saw. senantiasa menggunakan tangan atau kaki kanan untuk melakukan atau memulai suatu pekerjaan yang baik. Dari Hafshah binti ‘Umar ra., ia berkata, “Bahwa Rasulullah saw. selalu menggunakan tangan kanannya untuk makan, minum, dan berpakaian. Dan beliau menggunakan kaki kirinya untuk selain itu.” (HR. Abu Dawud)

Begitulah Allah dan RasulNya yang mengisyaratkan untuk melakukan segala sesuatu yang baik dengan dimulai dari sebelah kanan, sedangkan untuk sesuatu yang berkonotasi negatif dilakukan dari sebelah kiri. Begitu pun dalam makan dan minum. Bahkan, Nabi saw. memerintahkan ummat untuk melakukan hal yang serupa (makan dan minum dengan tangan kanan), beliau saw. bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian makan, Hendaknya makan dengan tangan kanan. Dan apabila ia minum, Hendaknya minum dengan tangan kanan. Karena sesungguhnya syaithan makan dengan tangan kiri dan minum dengan tangan kiri.” (HR. Ahmad, Muslim, Ibn Majah, Abu Dawud, dan Turmudzi, dari Ibn ‘Umar ra.)

Kebiasaan tersebut bukan semata-mata kebudayaan arab atau kebiasaan Rasulullah saw., melainkan bagian dari syari’at yang sudah sepatutnya dilakukan oleh setiap muslim yang mengaku ummat Muhammad saw.. Dalam riwayat yang lain, dari ‘Umar ibn Abi Salamah ra, bahwa Nabi saw. bersabda kepadanya, “Sebutlah nama Allah, lalu makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang ada di dekatmu.” (Muttafaq ‘Alayh).

Maka dari itu, sudah selayaknya kita membiasakan diri untuk makan atau minum dengan tangan kanan. Kebiasaan orang-orang yang makan dan minum dengan tangan kiri harus kita tegur dan tidak layak untuk ditiru, sekalipun yang melakukan itu adalah tokoh-tokoh Islam nasional. Bahkan, kita harus lebih tegas untuk mengingatkan mereka karena merekalah yang seharusnya menjadi tauladan pada masa kini. Jika akhlaq dari para tokoh-tokoh masyarakatnya tidak meniru apa yang dicontohkan Rasulullah saw., maka hal tersebut dapat menjauhkan ummat dari nilai-nilai syari’at.

Kita juga harus mendidik generasi muda, bahkan dari anak-anak untuk membiasakan mereka makan dan minum dengan tangan kanan. Karena, dalam hadits di atas, Rasulullah saw. berkata pada ‘Umar ibn Abi Salamah ra. yang pada saat itu masih kanak-kanak (pada naskah aslinya disebutkan kata “ghulam” untuk memanggil ‘Umar). Apalagi, pernah dikisahkan juga bahwa Rasulullah pernah memerintahkan untuk memuntahkan makanan yang dimakan dengan tangan kiri. Karena pada hakikatnya, saat kita memakan dengan tangan kiri, sesungguhnya yang sedang makan adalah bukan diri kita, tetapi syaithan. Sehingga keberkahan gizi dan nutrisi yang ada pada makanan tersebut tidak dapat diserap oleh tubuh kita. Wallahu a’lam.

7. Mulai makan dari pinggir tempat makan

Dari ‘Umar ibn Abi Salamah ra, bahwa Nabi saw. bersabda kepadanya, “Sebutlah nama Allah, lalu makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari yang ada di dekatmu.” (Muttafaq ‘Alayh).

Akhlaq yang dicontohkan oleh Rasulullah pada saat makan di antaranya adalah memakan dengan memulai yang ada di dekat beliau saw.. Hal ini dilakukan sebagai penghormatan kepada orang-orang yang makan bersama di sekitarnya. Beliau saw. tidak asal serobot mengambil makanan. Beliau saw. mengambil makanan dengan tenang dari yang paling dekat terlebih dahulu sebelum ke tempat yang lebih jauh dari dirinya. Dalam riwayat yang lain, dari Ibn ‘Abbas disebutkan bahwa beliau saw. pernah bersabda, “Barakah turun di tengah-tengah makanan, maka makanlah dari sisi-sisinya, dan jangan kalian makan dari tengah.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi).

Walaupun demikian, para ‘ulama, sebagaimana dikutip oleh al-Ustadz Abduh Zulfidar Akaha,[4] memberikan sedikit pengecualian apabila makanan yang dihidangkan berbeda-beda, sehingga jika ada seseorang yang ingin mengambil sesuatu yang ia sukai maka ia boleh mengambil, baik yang di depannya, meskipun terletak lebih jauh. Termasuk pada saat pesta pernikahan pada zaman sekarang, tidak mengapa kita mengambil makanan yang lebih jauh, selama itu semua dilakukan dengan menjaga adab-adab dalam makan dan minum.

8. Makan dengan tiga jari

Rasulullah saw. memang biasa menggunakan tiga jarinya pada waktu makan. Beliau saw. hanya menggunakan lebih dari tiga jari jika memang memakan makanan yang membutuhkan empat atau lima jari untuk menyantapnya. Namun, hal tersebut sangat jarang beliau lakukan. Dari Ka’b ibn Malik ra., ia berkata, “Aku melihat Rasulullah saw. makan dengan tiga jari. Dan setelah selesai, beliau menjilati jari-jemarinya.” (HR. Muslim).

Walaupun demikian, tidak ada dalil yang menunjukkan beliau saw. menyuruh para shahabat untuk melakukan hal serupa. Hal tersebut dikarenakan seseorang bisa menggunakan tiga, empat, atau lima jari sesuai dengan makanan yang akan dimakannya. Apalagi, untuk kondisi saat ini, di mana banyak sekali makanan berkuah yang tidak mungkin kita menyantapnya kecuali dengan sendok atau lima jari sekaligus.

Penggunaan tiga jari juga memang sangat sesuai dengan apa yang beliau saw. makan pada saat itu. Pada zamannya, rata-rata makanan bersifat kering, seperti roti gandum, kurma, atau daging. Hal ini juga sekaligus menunjukkan kesederhanaan beliau saw. yang tidak memakan makanan yang terlalu mewah.

Namun, tetap menggunakan tiga jari merupakan cara terbaik menyantap makanan selama kita bisa melakukannya. Karena kita tidak mungkin menggunakan satu jari, sedangkan makan dengan dua jari disebutkan sebagai cara syaithan pada waktu menyantap makanan. Di sisi lain, memakan dengan empat atau lima jari akan menyebabkan makanan menyerang lambung lebih banyak sehingga proses pencernaan tidak bisa optimal dilakukan di dalam perut. Bisa jadi organ-organ di dalam sistem pencernaan mengalami keletihan yang luar biasa sehingga menyesakkan lambung dan organ pencernaan lainnya. Hal ini tentu saja tidak mengenakkan.

9. Tidak pernah makan di depan meja makan

Di antara salah satu bukti kesederhanan kehidupan Rasulullah saw. adalah bagaimana beliau saw. tidak pernah makan di atas “khiwan” sebagaimana yang disampaikan oleh pelayan beliau, Anas ibn Malik ra., “Nabi saw. tidak pernah makan di atas ‘khiwan’ hingga meninggal. Dan beliau juga tidak pernah makan roti empuk hingga meninggal.” (HR. Bukhari)

“Khiwan” merupakan sejenis tempat di mana di atasnya dihidangkan berbagai macam makanan. Kebiasaan menggunakan ‘khiwan’ merupakan kebiasaan para bangsawan pada masa Rasulullah yang bisa di artikan dengan meja makan pada masa kini, dan beliau saw. tidak pernah menggunakannya karena pada pembahasan sebelumnya kita sudah ketahui bahwa Rasulullah biasa makan dengan duduk iq’a di atas lantai.

10. Menjilati jari-jemari dan tempat makan selesai makan

Bagi seorang muslim, menyantap makanan bukan sekedar memenuhi kebutuhan perut (fisik) saja. Saat memakan makanan yang halalan thayyiban diiringi dengan niat untuk beribadah kepada Allah swt., berarti makan bagi seorang muslim adalah sedang menggali keberkahan, dan kita tidak pernah tahu di mana letak keberkahan pada satu porsi makanan yang dihidangkan. Dari Jabir ibn Abdillah ra, bahwa Rasulullah saw. memerintahkan untuk menjilati jari-jemari dan tempat makan. Beliau saw. bersabda, “Sesungguhnya kalian tidak tahu di manakah barakan makanan kalian.” (HR. Muslim).

Lebih dari itu, Rasulullah saw. pun melarang kita untuk membersihkan jari-jemari sebelum sisa-sisa makanan tersebut dijilati. Sabdanya, “Apabila salah seorang dari kalian makan suatu makanan, maka janganlah ia membasuh jari-jemarinya sebelum menjilatinya atau dijilati orang lain.” (Muttafaq ‘Alayh). Jadi, kita disunnahkan untuk mencari di manakah berkah dari makanan yang kita makan. Karena bisa jadi berkah dari makanan tersebut justru pada makanan yang masih melekat di tangan atau tempat makan kita. Sehingga jika kita segera membersihkan tanpa menjilatinya, tentulah kita tidak mendapatkan keberkahan dari makanan yang kita makan.

Anas ibn Malik sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bercerita bahwa Rasulullah saw., apabila selesai makan beliau menjilati tiga jarinya. Dan beliau memerintahkan kami (para shahabat) agar membersihkan bekas makanan. Jadi, sekiranya kita makan dengan menggunakan piring, maka piring itulah yang kita bersihkan.

Kita tidak perlu berfikir bahwa menjilati sisa-sisa makanan di tangan merupakan kebiasaan yang dianggap tidak sopan atau menjijikan. Karena justru inilah ujian keimanan bagi seorang muslim. Apakah ia akan mengikuti Rasulullah saw. atau lebih mengalah kepada persepsi dan anggapan orang-orang. Apalagi jika kita sedang makan di luar. Padahal, bisa jadi terdapat banyak hikmah yang belum kita temukan saat ini. Sabdanya lagi dari Turmudzi (di dhaif kan oleh Al-Albani), “Barangsiapa makan di piring, lalu ia menjilatinya, maka piring itu akan memohonkan ampun untuknya.”

11. Tidak minum langsung setelah makan atau selama makan

Kita dianjurkan untuk minum setidaknya 2,5 liter dalam sehari. Namun, minum pada saat makan justru akan membahayakan tubuh kita. Minum air langsung setelah makan atau ketika makan dapat meminimalisir pengeluaran asam lambung, sehingga makanan tidak dapat dicerna dengan baik. Selain itu, banyaknya air tersebut justru akan mempersulit gerak makanan di dalam usus. Seorang yang sedang makan mendaknya menahan diri dari minum air, dan jika pun harus meminum air karena makanan yang tersendat di kerongkongan, maka satu atau dua teguk air sudah cukup untuk mengantarkan makanan ke dalam lambung. Sedangkan setelah selesai makan, hendaknya menahan sekitar 30 menit dari meminum air, agar lambung dapat dengan optimal mengeluarkan asam lambungnya. Setelah itu, barulah kita meminum air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh terhadap air.

Langsung meminum air pada saat lelah atau selepas berolahraga juga kurang baik, demikian juga setelah berhubungan badan, sebelum makan langsung, atau sesudah makan buah-buahan, meskipun pada sebagian makanan tidak menjadi masalah. Sama halnya juga dengan sesudah dari kamar mandi atau bangun tidur. Semua hal tersebut dapat mengganggu kesehatan. Begitu menurut Imam Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah.

12. Mengambil nafas tiga kali ketika minum

Kebiasaan Rasulullah saw. dalam minum adalah tidak langsung menghabiskan air dengan sekali teguk, melainkan dengan beberapa kali teguk, dan beliau menyelinginya dengan mengambil nafas di sela-sela minum tersebut sebanyak tiga kali. Dari Anas ibn Malik diriwayatkan, “Bahwa Rasulullah saw. selalu mengambil nafas tiga kali ketika minum.” (Muttafaq ‘Alayh). Rasulullah saw. senantiasa melakukan cara ini karena menurut beliau saw., “Cara itu lebih memuaskan, lebih enak, dan lebih sehat.” (HR. Bukhari, Abu Dawud, Ahmad, Turmudzi, Nasa’i,, dan Ibn Majah). Maksud dari mengambil nafas saat minum adalah dengan menjauhkan terlebih dahulu cangkir atau gelas yang digunakan dari mulut, baru bernafas, dan setelah itu meneruskan minumnya kembali, sebagaimana dalam riwayat lain disebutkan, “Apablia salah seorang di antara kalian minum, janganlah ia, bernafas dalam air, tetapi hendaknya dijauhkan dulu cangkir minumnya dari mulutnya.”

Cara minum seperti ini lebih selamat untuk menghadapi panas lambung dan lambung tidak terserang hawa dingin dengan sekaligus dalam satu waktu. Penggempuran secara spontan dapat mengganggu metabolisme pada organ lambung dan liver. Kondisi seperti ini biasanya terjadi pada orang yang sangat kehausan sehingga ia minum air dengan sekaligus. Padahal, haus itu pun tidak akan hilang dengan meneguk air sekaligus. Rasa haus yang amat sangat hanya akan hilang dengan sempurna dengan meneguk air secara perlahan. Abdullah Ibn Mubarrak, Al-Bayhaqi, dan ‘ulama lainnya meriwayatkan dari Said ibn Manshur, Ibn as-Sunni, dan Abu Nu’aim, bahwa Nabi saw. pernah bersabda, “Kalau salah seorang di antara kalian minum, hendaknya ia meneguknya seperti orang menghisap, bukan seperti orang menuang air. Penyakit liver (al-kubaad/ hepatitis) di antaranya karena minum seperti itu.” Rasulullah saw. juga pernah bersabda, “Janganlah kalian minum sekaligus seperti seekor unta, akan tetapi minumlah dua atau tiga kali teguk.” (HR. Turmudzi)

Diusahakan pula untuk tidak banyak meminum air yang terlalu panas atau terlalu dingin karena dapat merusak lambung. Air yang terlalu panas dapat membakar lidah, tenggorokan, serta menambah panas lambung yang mengakibatkan udara di dalam lambung meluap hingga dada dan otak. Kondisi seperti ini dapat menyebabkan sesak di dada atau migrain. Sedangkan air yang terlalu dingin dapat menghambat proses sekresi di dalam lambung dan juga dapat menyebabkan infeksi pada selaput yang tersembunyi di lambung.

13. Minum dengan duduk dan berdiri

Sebagaimana pada saat makan, Nabi saw. senantiasa membiasakan minum dengan posisi duduk. Bahkan dalam sebuah hadits, diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah melarang minum sambil berdiri. Anas ibn Malik ra. berkata, “Bahwa Rasulullah saw. melarang seseorang minum dengan berdiri.” (HR. Muslim). Namun, dalam riwayat shahih yang lain juga dikisahkan bahwa Rasulullah saw. minum sambil berdiri. Dari Amru ibn Syu’ayb dari ayahnya dari kakeknya ra., ia berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah saw. minum sambil duduk dan berdiri. Sebagian besar ‘ulama sependapat bahwa riwayat yang kedua (minum berdiri) menghapus hukum pada riwayat pertama (melarang minum berdiri).

Hal tersebut ditegaskan dalam sebuah kisah disebutkan bahwa Imam ‘Ali ibn. Abi Thalib ra. pernah minum sambil berdiri, lalu seorang shahabat memprotes perbuatan tersebut. ‘Ali ra. menjawab, “Aku tidak akan melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah saw.” Namun, sebagian ‘ulama menegaskan bahwa minum sambil berdiri hanya diperbolehkan dalam keadaan mendesak saja. Karena dalam riwayat di atas, yang menceritakan bahwa Rasulullah saw. minum sambil berdiri adalah pada saat terdesak. Pada waktu itu orang-orang berebut untuk mengambil air zamzam, beliau saw. berusaha juga untuk mengambilnya, dan melihat kondisi seperti ini, Ibn ‘Abbas ra. memberikan air kepadanya lalu beliau meminumnya sambil berdiri. Beliau ra. berkata, “Aku pernah memberi minum air zamzam kepada Rasulullah saw., dan beliau saw. meminum sambil berdiri.” (Muttafaq ‘Alayh)

Minum sambil berdiri memang dinilai dapat merusak kesehatan, terutama bagi yang tidak terbiasa melakukannya. Hal ini dikarenakan air yang turun secara langsung dan cepat dikhawatirkan akan menyebabkan konfrontasi pada suhu panas di dalam tubuh yang akan mengganggu proses metabolisme, sebagaimana yang diakibatkan dari meminum air yang sangat banyak sekaligus. Tentu saja hal ini berbahaya bagi yang meminumnya. Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah pun menegaskan bahwa minum dengan berdiri sangat tidak baik bila menjadi kebiasaan.

14. Menutup bejana tempat minum

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jabir ibn Abdullah, ia bercerita: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Tutuplah bejana dan tutuplah tempat minum, karena satu tahun itu ada satu malam dimana wabah penyakit turun. Setiap kali wabah itu melewati bejana yang tidak tertutup atau tempat minum yang tidak tertutup, pasti akan menaruhkan bibit penyakitnya di tempat tersebut.”

Menutup bejana atau tempat minum dapat menghalangi kotoran atau serangga yang membawa bakteri ataupun virus jatuh ke dalamnya. Dengan demikian, air akan terjaga kebersihannya sehingga terbebas dari penyakit. Bahkan Rasulullah saw. memerintahkan agar bejana itu ditutup meski dengan sebatang kayu. Hal ini merupakan sikap yang sangat preventif yang diajarkan oleh Rasulullah saw.. Beliau sangat berhati-hati sehingga jangan sesekali meninggalkan bejana atau tempat minum dalam kondisi terbuka.

15. Tidak meminum langsung dari bejana (teko)

Kebiasaan para raja dan bangsawan pada zamannya adalah dengan meminum langsung air dari bejana atau teko. Ini menunjukkan keangkuhan dan kesombongan diri mereka. Selain itu, dilihat dari sudut pandang medis, hal tersebut merupakan kebiasaan yang buruk dan harus dihindari.

Orang yang meminum air langsung dari bejana akan bernafas berkali-kali. Tentu saja hal ini mengotori kandungan air yang ada dalam bejana tersebut. Selain itu, seorang yang langsung meminum dari bejana tidak akan tahu apakah air tersebut masih bersih atau sudah tercampur dengan kotoran karena ia tidak sempat melihatnya terlebih dahulu. Atau bisa jadi air yang masuk ke dalam perut terlalu berlebihan sehingga dapat membahayakan dirinya sendiri.

16. Tidak minum dari cangkir yang terpecah

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dari Abu Sa’id al-Khudri ra., ia berkata, “Rasulullah saw. melarang minum dari bagian cangkir yang terpecah dan melarang untuk bernafas dalam air.” Dalam Ath-Thibb An-Nabawi, Imam Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah menyebutkan setidaknya ada lima buah hikmah yang dapat kita petik dari dilarangnya meminum dari bagian cangkir yang terpecah, yaitu.

1. Kotoran yang biasanya ada di permukaan air, akan berkumpul di bagian cangkir yang sompel, lain halnya bagian pinggir cangkir yang mulus.

2. Itu bisa mengganggu saat minum. Minum melalui bagian cangkir yang sompel atau pecah tidak bisa optimal dan baik.

3. Kotoran dan sejenisnya biasa terkumpul di cangkir yang pecah, karena tidak ikut terbersihkan saat dicuci, sebagaimana bagian cangkir yang masih baik.

4. Bagian yang sompel adalah bagian yang jelek pada cangkir, yakni lokasi yang tidak bagus sehingga harus dihindari, lebih baik dicari bagian yang masih baik. Karena bagian yang buruk dari segala sesuatu pasti tidak ada baiknya. Ada salah seorang ‘ulama as-Salaf ash-Shalih yang membeli barang yang jelek kualitasnya. ‘Ulama tadi berkata, “Jangan lakukan itu. Tidakkah dengkau mengetahui bahwa Allah mencabut keberkahan dari segala barang yang jelek.”

5. Bisa jadi bagian yang pecah itu memiliki belahan atau bagian runcing yang bisa melukai mulut orang yang minum lewat bagian tersebut. Dan banyak lagi bahaya-bahaya lainnya.

Memang bisa jadi masih banyak lagi keburukan yang belum kita temukan saat ini. Namun, lebih dari itu, hal ini juga menjadi bukti ketaatan dalam mengikuti sunnah Nabawiyah. Karena bagi seorang muslim sejati, diketahui ataupun tidak hikmah yang terkandung dalam syari’at tetap akan ia laksanakan dengan sepenuh hati.

17. Tidak bernafas dalam air minum

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa Rasulullah saw. biasa mengambil nafas tiga kali dalam sekali minum, namun beliau saw. tidak melakukannya pada saat mulut masih berada di atas gelas. Dari Ibn ‘Abbas, ia bercerita, “Rasulullah saw. melarang meniup air dan bernafas dalam air minum.” (HR. Turmudzi). DR. Musthafa Sa’id, sebagaimana dikutip al-Ustadz Abduh Zulfidar Akaha, menyatakan bahwa hendaknya kita mengambil nafas jauh dari tempat minumnya, karena hal ini bermanfaat bagi kesehatannya. Karena saat seorang bernafas di atas gelas yang berisi air akan menyebabkan air tersebut tercemar yang diakibatkan oleh karbondioksida yang dikeluarkan. Rasikonya, menimbulkan bau busuk pada air yang akan diminum, terutama pada sebagian orang yang memiliki masalah bau mulut.

Selain itu, beberapa kebiasaan lain yang juga patut kita perhatikan adalah bahwa beliau saw.. tidak pernah menggabungkan dua jenis makanan yang sama-sama panas, sama-sama dingin, sama-sama lengket, sama-sama kasar, sama-sama bersifat pencahar, sama-sama kental, atau sama-sama cair. Beliau saw. juga tidak pernah mencampuradukkan makanan yang memiliki unsure saling berlawanan, antara yang berserat kasar dengan yang bersifat pencahar, antara makanan yang dipanggang dengan makanan yang dimasak, atau antara yang segar atau yang sudah dikeringkan/ di buat dendeng. Maka kita akan menemukan bahwa Rasulullah saw. tidak pernah mencampur susu dengan ikan, susu dengan yoghurt, susu dengan telur, atau daging dengan susu. Beliau juga tidak suka dengan makanan kemarin yang dihangatkan lagi, atau makanan yang berbau amis dan terlalu asin, seperti makanan yang diawetkan, acar dan ikan, atau daging asin.

Kebiasaan makan yang baik juga berkaitan dengan cara mengunyah makanan. Gangguan pencernaan biasanya diawali dari masuknya makanan yang masih kasar dan sulit dicerna ke dalam tubuh. Maka, Prof. Dr. Abdul Basith Muhammad as-Sayyid menegaskan bahwa tidak ada yang membuat lebih kacau dibandingkan sarapan yang dilakukan secara tergesa-gesa atau makan saat tengah bekerja.

Ia juga melanjutkan bahwa gigi yang baik dan bersih juga berperan penting dalam proses pencernaan makanan. Maka perbanyaklah mengonsumsi makanan yang kaya akan vitamin C dan garam mineral karena memiliki unsur yang penting bagi pemeliharaan dan penjagaan gigi dari karies dan sakit di gusi.

Kita pun harus berhati-hati dengan fast food yang mengandung banyak bahan kimia sintetis sebagai campuran. Makanan-makanan instan memang praktis dan memudahkan, namun sungguh sangat tidak baik bagi kesehatan. Bahan pengawet, misalnya, biasanya terbuat dari asam benzoate dan garamnya, asam methanol dan garamnya, serta asam sulfat dan garamnya. Bahan-bahan tersebut jelas sangat membahayakan tubuh jika terus menerus dikonsumsi. Karena kandungan yang sedikit pada setiap jenis fast food atau makanan instan lainnya akan menjadi banyak jika kita terus menerus mengonsumsinya.

Begitu pun dengan bahan-bahan pencegah oksidasi (Butylated hydroxytolune, Butylated hydroxyanisole, Propyl gallate, Stannous chloride), bahan emulsi (Mono & diglycerides, Poly glycerol esters, Lecithin), zat pewarna (Gyms, Cellulose, Gelatin, Carrageenan), zat pewangi aktif yang terbuat dari monosodium glutamate, serta pemanis buatan pengganti gula (sakarin) yang sangat berbahaya bagi tubuh. Kita harus bisa memperhatikan daftar unsur-unsur yang terkandung pada setiap jenis makanan yang akan kita konsumsi. Kita harus sebisa mungkin menhindari berbagai jenis makanan yang mengandung bahan-bahan kimia sintetis yang telah disebutkan tadi.


[1] Pola Makan Rasulullah, terjemahan dari at-Taghdziyyah al-Islamiyyah, karya Prof. Dr. Basith Muhammad as-Sayyid

[2] Lihat 165 Kebiasaan Nabi saw..

[3] Lihat juga QS. Al-Waqi’ah, 56: 27-47

[4] Lihat 165 Kebisaan Nabi saw.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: