jump to navigation

Ath-Thibb An-Nabawi (5) Januari 27, 2009

Posted by hudzayfah in Metode Pengobatan Nabi saw..
Tags: , , , ,
trackback

KEBERSIHAN DAN KESUCIAN (THAHARAH)

URGENSI THAHARAH

Hampir dalam setiap kitab fiqh, para fuqaha selalu menyimpan pembahasan thaharah sebagai sesuatu yang dibahas di awal BAB. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kebersihan atau kesucian dalam Islam. Selain dapat menjaga ummatnya dari berbagai penyakit, thaharah dalam Islam juga berperan sebagai syarat dari sahnya sebuah peribadahan. Seseorang tidak dapat beribadah saat ia memiliki hadats. Ia pun tidak dapat beribadah saat pakaian atau tempat yang akan dilaksanakannya peribadahan terkena najis. Karena urgensinya dalam menegakkan tiang-tiang diin ini, Rasulullah saw. bersabda tentang thaharah, “Ath-Thahuur (suci) itu sebagian daripada Iman.” Dalam al-Quran, Allah swt. menegaskan betapa pentingnya thaharah dalam Islam. Allah swt. berfirman.

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah, 2: 222)

“Dan pakaianmu bersihkanlah.” (QS. Al-Muddatstsir, 74: 4)

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams, 91: 9-10)

Allah juga berfirman tentang kewajiban berwudhu untuk membersihkan hadats kecil serta mandi untuk membersihkan hadats besar. “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka bersucilah.” (QS. Al-Maa’idah, 5: 6)

Artinya, tidak akan diterima setiap ibadah yang kita lakukan jika tidak dilakukan dalam kondisi badan yang suci dan bersih. Begitulah Islam mengajarkan sebuah sikap yang sangat menjaga kebersihan dan kesucian. Rasulullah, dalam sabdanya yang lain memberikan gambaran bahwa Allah swt. hanya menyukai yang baik-baik. “Sesungguhnya Allah itu thayyib dan tidak menerima sesuatu kecuali yang thayyib.” Sebagaimana sabdanya juga “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.”

Kebersihan dan kesucian adalah hal yang thayyib yang akan menjadi syarat diterimanya segala sesuatu. Maka dari itu, tidak ada alasan bagi setiap mu’min untuk tidak menjaga kebersihan dan kesucian diri dan lingkungannya. Jika seorang mu’min tidak peduli terhadap kondisi lingkungannya, maka tentulah imannya belum sempurna sebagaimana seorang yang sedang shalat yang kemudian melupakan salah satu dari rukun shalat. Sudah tentu shalatnya tidak diterima. Jangan sampai, keimanan kita tidak diterima oleh Allah swt. dikarenakan kita lalai dalam menjaga kebersihan dan kesucian, baik diri maupun lingkungan kita.

AIR

Air merupakan alat penyuci yang utama dalam thaharah. Syari’at telah menetapkan bahwa selama masih ada air, maka hendaklah kita tidak menggunakan alat yang lain. Karenanya, kita perlu mengetahui jenis air apa saja yang boleh digunakan sebagai penyuci.

Macam-Macam Air

H. Sulaiman Rasjid menyebutkan dalam Fiqh Islam bahwa air, dalam pandangan syari’at terdiri atas beberapa jenis, yaitu.

1. Air yang suci dan menyucikan

Air jenis ini halal untuk diminum serta dapat digunakan untuk bersuci membersihkan hadats dan najis. Air jenis ini adalah seluruh air yang turun dari langit atau keluar dari bumi yang masih tetap keadaannya, seperti air hujan, air laut, air sumur, air es yang mencari (salju yang mencari), air embun, air yang bercampur dengan sesuatu yang suci dan air yang keluar dari mata air. Firman Allah swt.

“(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu air dari langit untuk menyucikan kamu dengannya dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaithan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu).” (QS. Al-Anfaal, 8: 11)

Sabda Rasulullah saw. Dari Abu Hurayrah. Ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw. tentang laut. “Air laut itu suci dan menyucikan. Bangkainya halal dimakan.” (HR. Abu Dawud, Turmudzi, Nasa`i, Ibn Majah, dan Ibn Abi Syaybah, di Shahih-kan oleh Ibn Khuzaymah dan Turmudzi).

Dengan demikian, kita bisa menggunakan jenis air yang sebagaimana disebutkan sebagai penyuci ataupun air minum. Namun, khusus untuk air yang akan dikonsumsi, hendaknya dilakukan uji coba terlebih dahulu untuk mengukur kadar thayyiban-nya. Yaitu ujicoba persentase kandungan mikroba serta mineral dan logam di dalamnya.

2. Air suci, tapi tidak menyucikan

Air dapat berubah hukumnya menjadi tidak menyucikan. Perubahan itu meliputi perubahan sifatnya yang meliputi warna, rasa, dan bau. Jika salah satunya berubah, maka dapat dipastikan bahwa air tersebut tidak dapat digunakan untuk bersuci, walaupun bisa saja kandungan secara dzati masih suci dan halal dikonsumsi. Termasuk jenis air seperti ini adalah.

a) Air yang telah berubah salah satu sifatnya dengan sebab bercampur dengan suatu benda suci seperti air kopi, teh, dan sejenisnya.

b) Air pohon-pohonan atau air buah-buahan, seperti air yang keluar dari tekukan pohon kayu, air kelapa, dan sejenisnya.

c) Air yang kurang dari dua qullah. Walaupun demikian, jika kemutlakannya masih terpelihara, yaitu terjaga warna, rasa, dan baunya, maka menurut Ust. Sayyid Sabiq masih tetap menyucikan. Begitu pun untuk jenis air yang ketiga. ‘Ulama yang mengategorikan air dua qullah sebagai air suci yang tidak menyucikan berpegang pada riwayat ‘Abdullah ibn ‘Umar. Beliau berkata bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Apabila air itu dua qullah, maka ia tidak akan mengandung kotoran”. Dalam riwayat yang lain disebutkan “tidak akan menjadi najis”. (HR. Abu Dawud, Turmudzi, Nasa`i, Ibn Majah, dan Ibn Abi Syaybah, di shahih-kan oleh Ibn Khuzaymah dan Turmudzi).

Mereka menafsirkan bahwa air yang kurang dari dua qullah tidak memenuhi syarat yang disebut dalam hadits tersebut, sehingga tidak bisa digunakan untuk bersuci. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan air dua qullah..? Menurut madzhab Syafi’i, yang dimaksudkan air dua qullah adalah air yang memenuhi satu tempat yang lebar, panjang, dan dalamnya masing-masing satu seperempat hasta (+/- 60 cm).

Sedangkan fuqaha yang lain berpegang pada pendapat bahwa selama air tersebut belum berubah warna, rasa, atau baunya, maka ia masih boleh digunakan sebagai penyuci. Hal ini dikarenakan bahwa tidak ada satu hadits pun yang menetapkan ukuran dua qullah dengan satu seperempat hasta atau lainnya. Pendapat ini dipegang oleh Imam Ibn Hajjar al-Atsqalani serta beberapa ‘ulama lainnya. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Majah dan Bayhaqi dari Abi Umamah al-Bahili. Ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Air itu tidak bisa dinajiskan oleh apapun, kecuali oleh sesuatu yang mengubah bau, rasa, dan warnanya” Bahkan, menurut Ibn Hajjar al-Atsqalani dalam Bulughul Maram, hadits dua qullah di atas ternyata dilemahkan oleh banyak Imam.

Namun, jikapun kita berpegang pada hadits ini, maka yang paling kuat adalah menetapkan makna dua qullah sebagai jumlah air tidak mengalir yang masih belum berubah warna, rasa, dan baunya. Apabila air tersebut telah berubah warna, rasa, dan baunya, maka hendaklah kita tidak menggunakannya sebagai penyuci walaupun jumlahnya lebih dari ukuran satu seperempat hasta. Sebaliknya, jika air tersebut masih belum berubah, baik warna, rasa, serta baunya, dapat kita gunakan sebagai penyuci walaupun jumlahnya tidak memenuhi satu seperempat hasta. Karena, sebagai penegas, bahwa tidak ada satu hadits pun yang menetapkan ukuran dua qullah.

Lalu bagaimana pendapat sebagian ‘ulama tentang tidak bolehnya kita menggunakan air telah terpakai atau digunakan untuk bersuci. Mereka berpendapat bahwa air tersebut adalah air musta’mal yang tidak dapat digunakan lagi untuk bersuci. Jawaban untuk pertanyaan ini adalah sebagaimana penjelasan air dua qullah di atas. Selama masih belum berubah warna, rasa, dan baunya, maka dapat digunakan untuk bersuci. Artinya, air musta’mal tetap suci lagi menyucikan.

Hal ini juga ditegaskan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Ibn ‘Abbas, bahwa Rasulullah saw. pernah mandi dengan (air) sisa (mandi) Maymunah. Dalam riwayat yang lain juga disebutkan bahwa Rasulullah saw. biasa berwudhu dalam sebuah bejana dengan mencelupkan tangannya ke dalam bejana, sedangkan bejana tersebut juga dipakai wudhu oleh keluarganya dengan cara yang sama dengan yang beliau saw. lakukan. Wallahu a’lam.

3. Air yang bernajis

Air bernajis yaitu air yang telah berubah, baik warna, rasa, dan baunya disebabkan oleh adanya najis yang mengenainya. Hukum air ini tidak bisa digunakan, baik sebagai penyuci ataupun untuk dikonsumsi. Baik jumlahnya sedikit ataupun banyak, berdasarkan kesepakatan kita pada pembahasan dua qullah di atas. Namun, jika perubahannya bukan karena sesuatu yang najis, maka hukum air tersebut adalah tetap suci tapi tidak menyucikan.

Perubahan warna, rasa, dan bau yang disebabkan oleh benda najis tidak akan membuat air itu menjadi najis, apabila air tersebut adalah air mengalir. Hal ini berdasar atas hadits, “Air laut itu suci lagi menyucikan”. Wallahu a’lam.

4. Air Sisa Minum (asy-syu’ar)

Air sisa minuman yaitu air yang masih terdapat dalam wadah/ bejana setelah diminum. Hukum dari sisa air tersebut akan sangat bergantung kepada siapa yang meminumnya. Air sisa minum manusia, baik mu’min maupun kafir, dalam keadaan junub, haid, atau nifas, maka hukumnya tetap suci dan menyucikan selama kemutlakannya terjaga. Begitu pun dengan sisa binatang yang halal dagingnya. Abu Bakr Ibn Mundzir mengatakan, “Para ‘ulama berijma’ bahwa sisa minuman binatang yang halal dagingnya boleh diminum dan dipakai untuk berwudhu.”

Sisa minuman bagal, keledai, dan binatang buas juga suci dan menyucikan, berdasarkan hadits dari Jabir ra. bahwa Nabi saw. pernah ditanya tentang bolehkah berwudhu dengan sisa minuman keledai, beliau saw. menjawab, “Boleh..!”. Demikian pula dengan sisa minuman semua binatang buas. (HR. Syafi’i, Daruquthni, dan Bayhaqi). Hal yang sama berlaku bagi minuman sisa kucing. Rasulullah saw. pernah bersabda, “Kucing itu tidak najis. Ia termasuk binatang yang berkeliling dalam lingkunganmu.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, dan Nasa’i).

Adapun sisa minuman Anjing, maka hal tersebut adalah najis yang harus dijauhi. Dari Abu Hurayrah ra., Rasulullah saw. bersabda, “Bila anjing minum pada bejana salah seorang di antara kamu, hendaklah tempat bekas minumnya dicuci sebanyak tujuh kali.” (HR. Bukhari – Muslim).

Dalam riwayat Ahmad ditambah, “dan cucian yang pertama mestilah dengan tanah.” Begitu pun dengan Babi, air sisa minumnya adalah najis karena kotor, menjijikan, dan berdasarkan nash-nash al-Quran yang sudah jelas.

DEBU

Dari Jabir ra., bahwasanya Nabi saw. bersabda, “Aku diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada orang sebelumku: Aku diberi kemenangan dari perjalanan sebulan, dan dijadikan bumi itu sebagai tempat shalat dan penyuci; …” (Muttafaq ‘Alayh). Diriwayatkan oleh Muslim dari Hudzayfah, “…dan dijadikan tanah itu penyuci bagi kita apabila kita tidak mendapatkan air”. Diriwayatkan oleh Ahmad dari ‘Ali ibn Abi Thalib, “…dan dijadikan tanah bagiku sebagai penyuci”. Tanah atau debu merupakan alat penyuci selain air. Saat air tidak ditemukan, maka debu bisa digunakan. Proses penyucian hadats dengan menggunakan debu disebut tayammum.

Tayammum berlaku untuk membersihkan hadats kecil atau besar dan hanya digunakan untuk melaksanakan ibadah saja. Artinya, setelah ibadah tersebut selesai dilaksanakan, maka secara hakiki hadatsnya belum dibersihkan sepenuhnya hingga ditemukannya air. Jika air belum ditemukan hingga akan melaksanakan ibadah lagi, maka tayammum kembali dilakukan untuk memenuhi syarat pelaksanaan ibadah tersebut.

Walaupun demikian, sebagian ‘ulama berpendapat bahwa penyucian hadats dengan debu sama derajatnya dengan penyucian hadats yang menggunakan air. Artinya, hadats tersebut secara hakiki benar-benar telah bersih sehingga dapat beribadah tanpa harus mengulang tayammum untuk setiap ibadah. Golongan ini berbeda pendapat saat telah menemukan air. Pendapat pertama mengemukakan bahwa seseorang yang telah bertayammum harus mengulang penyuciannya dengan air saat telah menemukan air, sedangkan pendapat kedua tidak apa untuk tidak mengulangnya, karena dirinya telah suci, kecuali jika dirinya kembali berhadats, maka harus menggunakan air. Wallahu a’lam.

Dalam sebuah riwayat disebutkan pula bahwa debu pun bisa membersihkan najis. Bahkan untuk menghilangkan najis yang berat, sesuatu harus dicuci tujuh kali dengan satu kali penyucian menggunakan debu. Rasulullah saw. bersabda, “Bersihnya bejana seorang di antara kalian yang airnya telah dijilat anjing adalah setelah ia dicuci tujuh kali, yang pertamanya dicampur dengan tanah.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat yang lain, dari Ibn ‘Umar, beliau berkata : “Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa menjulurkan pakaiannya (di tanah), Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat”. Ummu Salamah bertanya : “Apa yang harus dilakukan para wanita dengan ujung-ujung baju mereka?”, Rasulullah menjawab: “Mereka menurunkannya (di bawah mata kaki) hingga sejengkal”. “Kalau begitu akan tersingkap kaki-kaki mereka”, jelas Ummu Salamah. Rasulullah saw. berkata (lagi): “Mereka turunkan hingga sehasta dan jangan melebihi kadar tersebut”. Ummu Salamah berkata lagi: “Bagaimana jika terkena najis?” Rasulullah saw. menjawab: “Sapuan yang kedua adalah penyucinya.” Maksudnya adalah pada saat kain yang menjulur itu mengenai najis yang ada di tanah, maka sesungguhnya najis itu telah dibersihkan oleh debu-debu yang juga menyapu kain tersebut.

Kita lihat bagaimana Rasulullah saw. memberikan rukhshah bagi para wanita untuk mengenakan pakaian hingga satu hasta di bawah mata kaki, karena memang demikianlah yang diperintahkan oleh Allah swt., yaitu menutup aurat dengan sempurna. Sedangkan lebih dari satu hasta merupakan perbuatan yang berlebih-lebihan dan tidak ada faedahnya sama sekali.

Sama halnya dengan pria, tidak ada faedahnya untuk menjulurkan pakaiannya hingga menyentuh tanah. Walaupun sapuan kedua merupakan penyucinya, namun hal ini tidak berlaku bagi pria. Sabda Rasulullah saw., “Dan janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apapun. Engkau berbicara dengan saudaramu sambil bermuka manis juga merupakan kebaikan. Angkatlah sarungmu hingga tengah betis. Jika engkau enggan maka hingga kedua mata kaki. Waspadalah engkau dari isbal karena sesungguhnya hal itu (isbal) termasuk kesombongan. Dan Allah tidak menyukai kesombongan”. (HR. Ahmad (V/64) no 20655, Abu Dawud (IV/56) no 4084, dan dari jalannya al-Bayhaqi dalam as-Sunan al-Kubra (X/236) no 20882, dan di-shahih-kan oleh Syaikh al-Albani)

PERMASALAHAN NAJIS

Pengertian Dalam Fiqh Sunnah, Ust. Sayyid Sabiq berkata, “Najis adalah kotoran yang setiap muslim wajib menyucikan diri darinya dan menyucikan setiap sesuatu yang terkena kotoran najis tersebut.” Benda-Benda Najis Segala sesuatu di muka bumi ini adalah suci, selama tidak ada dalil (baik al-Quran maupun Hadits) yang menunjukkan dengan qath’i bahwa sesuatu tersebut adalah najis. Di antara benda najis tersebut adalah.

1. Bangkai binatang selain dari mayat manusia

Binatang yang tercekik, terbunuh, dan mati tanpa disembelih menjadi najis. Maka, diharamkan untuk memakannya. Barangsiapa yang menyentuhnya, maka yang tersentuh tersebut harus dibersihkan hingga tidak meninggalkan bekas. Namun, Rasulullah saw. telah menghalalkan dua buah bangkai, yaitu ikan dan belalang. (HR. Ahmad, Syafi’i, Ibn Majah, Bayhaqi, dan Daruquthni dari Ibn ‘Umar).

Bangkai binatang yang tidak mempunyai darah mengalir, seperti semut, lebah, dan lainnya, maka ia adalah suci. Jika ia jatuh ke dalam sesuatu dan kemudian mati, maka tidaklah menyebabkan tempat tersebut najis. Begitu pun dengan tulang bangkai, tanduk, bulu, rambut, kulit, kuku serta perkara yang sejenis dengan itu, maka dikategorikan suci. Karena asalnya suci dan tidak ada satu dalil pun yang menyatakan najis. Begitu menurut Ust. Sayyid Sabiq.

2. Darah dan Nanah

Segala macam darah itu adalah najis, akan tetapi darah yang sedikit dimaafkan. Satu atau dua tetes darah, atau darah yang tersisa pada daging, darah yang menempel pada luka, darah nyamuk, serta darah bisul, maka ia dimaafkan berdasarkan atsar. Begitu pun bagi nanah. Imam Ibn Taymiyah tidak menghukumi nanah sebagai najis, beliau berkata, “Tidak mengapa karena yang disebut Allah hanyalah darah dan tidak ada yang menyebutkan tentang nanah.”

3. Daging Babi

“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu najis (rijsun) – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-An’aam, 6: 145)

Sudah jelas bahwa babi memang najis (rijsun). Namun, sebagian ‘ulama memperbolehkan bulu babi untuk digunakan sebagai benang jahit. Wallahu a’lam…

4. Muntah, Kencing, dan Kotoran Manusia

Para ‘ulama telah bersepakat bahwa semuanya najis. Namun, tidak demikian bagi muntah yang sedikit. Begitu pun air kencing bayi laki-laki yang hanya meminum ASI. Kedua hal tersebut diringankan dan cara membersihkannya adalah cukup dengan memercikkan air ke atasnya.

5. Wadi, Madzi, dan Mani

Wadi adalah cairan putih kental yang keluar mengiringi air kencing, hukumnya najis dan harus dibersihkan sebagaimana membersihkan air kencing. Sedangkan madzi, dijelaskan Dr. Yusuf al-Qaradhawi dalam Fiqh Kontemporer sebagai, “Cairan putih, jernih, dan rekat, yang keluar ketika sedang bercumbu, atau melihat sesuatu yang merangsang, atau ketika sedang mengkhayalkan hubungan seksual. Keluarnya madzi tidak disertai syahwat yang kuat, tidak memancar, dan tidak diahkiri dengan kelesuan (loyo, letih), bahkan kadang-kadang keluarnya tidak terasa. Madzi hukumnya seperti hukum kencing, yaitu membatalkan wudhu (dan najis) tetapi tidak mewajibkan mandi. Bahkan Rasulullah saw. memberi keringanan untuk menyiram pakaian yang terkena madzi itu, tidak harus mencucinya.” Begitu pun menurut Ust. Sayyid Sabiq, beliau berkata, “Mendapatkan keringanan sebagaimana kencing bayi laki-laki”. Sedangkan mani menurut pendapat yang kuat adalah suci. Cara membersihkannya cukup menghapusnya dengan secarik kain atau dengan dedaunan.

6. Kencing dan Kotoran yang Haram Dagingnya Ust. Sayyid Sabiq berkata, “Keduanya termasuk najis berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Ibn Majah, dan Ibn Khuzaymah dari Ibn Mas’ud ra.. Rasulullah saw. berkata, “Ini adalah najis”. Sedangkan bagi binatang yang halal dagingnya tidak najis, karena Rasulullah saw. pernah menggunakan air kencing unta sebagai obat. Imam Syawkani mengatakan, “Pendapat yang kuat ialah kencing dan sisa makanan dari setiap hewan yang halal dagingnya adalah suci.” Begitu pun pendapat Imam Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah dalam ath-Thibb an-Nabawi. Sementara ‘ulama yang lain berpendapat bahwa hadits tersebut hanya menunjukkan kencing unta saja, tidak berlaku pada hewan yang lainnya. Namun, Ust. Sayyid Sabiq menegaskan bahwa yang kuat adalah tidak najis bagi hewan yang halal dagingnya.

7. Binatang Jallalah Binatang jallalah yaitu segala jenis binatang yang memakan kotoran. Binatang jallalah dihukumi najis karena adanya larangan mengendarai, memakan daging, serta meminum susunya. Ibn ‘Abbas berkata, “Rasulullah saw. melarang meminum air susu binatang jallalah.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, dan Turmudzi). Dalam riwayat lain disebutkan, “Rasulullah saw. melarang mengendarai binatang jallalah.” Sedangkan dari ‘Amr ibn Syu’ayb, dari ayah, dari kakeknya ra. berkata, “Rasulullah saw. melarang keledai piaraan dan binatang jallalah, baik untuk dikendarai maupun untuk dimakan dagingnya.” (HR. Ahmad, Nasa’i, dan Abu Dawud).

8. Khamr Jumhur ‘ulama berkata bahwa arak merupakan benda najis sebagaimana QS. Al-Maa’idah, 5: 90, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah rijsun (keji, kotor, atau najis), termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”. Sedangkan sebagian lainnya tidak. Mereka berpendapat bahwa yang dimaksud rijsun pada ayat tersebut adalah dari sisi ma’nawi, bukan pada zatnya (dzati). Sebagaimana kata rijsun pada QS. Al-Hajj, 22: 30. “Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang rijsun itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta”. Berhala tidak najis bila disentuh, maka begitu pun dengan khamr. Karena memang kata rijsun dalam kedua ayat tersebut menunjukkan rijsun dari sisi ma’nawi bukan dzati. Sedangkan hukum haramnya khamr telah qath’i dan tidak bisa dibantah lagi. Satu ataupun dua tetes, khamr tetap diharamkan.

9. Anjing Anjing adalah najis dan wajib mencucinya apa saja yang terkena jilatnya, Dari Abu Hurayrah ra., Rasulullah saw. bersabda, “Bila anjing minum pada bejana salah seorang di antara kamu, hendaklah tempat bekas minumnya dicuci sebanyak tujuh kali.” (HR. Bukhari – Muslim). Dalam riwayat Ahmad ditambah, “dan cucian yang pertama mestilah dengan tanah”. Sedangkan bulu anjing, tidak ada satupun dalil yang menyatakan najis.

Cara Membersihkan Najis

Dalam bersuci, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Khususnya yang berkaitan dengan penggunaan air. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Berhemat-hematlah dalam menggunakan air, sekalipun menggunakan air mengalir”. Berlebih-lebihan dalam menggunakan air merupakan sifat yang tercela, karena sifat berlebih-lebihan (mubadzir) adalah sifat syaithan yang dibenci oleh Allah swt.. Perlu diingat pula bahwa setiap tetes air yang kita gunakan akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Allah swt. berfirman dalam al-Quran.

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al-Zalzalah, 99: 7-8)

1. Buang Air Rasulullah saw. melarang seseorang buang air kecil pada air yang tidak mengalir karena dikhawatirkan hal itu akan membuat najis air tersebut. Diriwayatkan dari Abu Hurayrah, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah seseorang di antara kalian kencing pada air yang tidak mengalir.” (HR. Muslim).

Beliau saw. juga melarang seseorang mandi junub pada air yang tidak mengalir dengan mencelupkan badannya. Beliau saw. bersabda, “Janganlah seseorang di antara kalian mandi pada air yang tidak mengalir, padahal ia sedang berjunub.” Selain itu, salah satu kebiasaan beliau saw. yang juga patut kita contoh adalah bahwa beliau saw. buang air kecil dengan jongkok. ‘A`isyah ra. berkata, “Barangsiapa yang menceritakan kepada kalian bahwa Nabi saw. kencing sambil berdiri, maka janganlah kalian percaya. Beliau tidak pernah kencing kecuali sambil duduk (jongkok)”. (HR. Turmudzi).

Selain merupakan sunnah Nabi saw., kencing dengan jongkok juga lebih baik dan lebih sehat. Kencing berdiri memungkinkan air kencing tidak keluar dengan sempurna sehingga akan menyebabkan endapan pada ginjal. Sisa-sisa air kencing yang mengendap ini, jika dibiarkan terlalu lama akan menyebabkan pengerasan dan pada akhirnya dapat menimbulkan batu ginjal. Kencing sambil jongkok dapat menuntaskan air kencing sampai ke titik terakhir sehingga endapan di ginjal dapat diminimalisir. Bahkan, lebih baik lagi, pada pria khsusunya, untuk mengurut kemaluan tiga kali agar dapat mengeluarkan sisa-sisa air kencing hingga tuntas.

Dalam Risalah fii Amradhil Qulub, Imam Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah mengulang pernyataan Imam Ibn Taymiyah yang melarang melakukan hal demikian (mengurut tiga kali, berdehem, atau yang lainnya). Menurutnya, perbuatan demikian adalah perbuatan orang-orang yang ragu, sedangkan orang-orang yang ragu lebih dekat dengan syaithan. Imam Ibn Taymiyah juga menegaskan bahwa seluruh hadits yang berkaitan dengan hal demikian adalah dhaa`if dan tidak bisa dijadikan hujjah. Menurutnya, kantung air kencing seperti kantung susu, jika tidak diurut maka ia tidak akan keluar.

Perlu difahami bersama bahwa pendapat saya bukan bermaksud menentang pendapat Imam Ibn al-Qayyim ataupun Imam Ibn Taymiyah dalam masalah waswas. Ilmu modern senantiasa berkembang dan saat ini telah menemukan bahwa kencing yang tidak tuntas dapat mengakibatkan berbagai penyakit kronis. Tentu saja, sebagaimana kesepakatan di awal bahwa langkah preventif dalam Islam lebih diutamakan daripada langkah kuratif. Artinya, tidaklah termasuk golongan muwaswis (orang-orang yang ragu) orang yang melakukan hal demikian untuk mencegah penyakit yang berbahaya. Bahkan, bisa jadi mendapat nilai kebaikan di sisi Allah swt.. Bisa jadi, Imam Ibn Taymiyah berpendapat demikian karena banyaknya muwaswis pada masanya yang menyebarkan rasa waswas pada ummat sehingga dapat membahayakan, sedangkan di sisi lain, ilmu pengetahuan pun belum berkembang seperti pada saat masa kini. Apalagi, dalam permasalahan furu’iyyah, fatwa bisa berubah sesuai dengan tempat dan masa.

2. Menyucikan Badan dan Pakaian

Menurut Ust. Sayyid Sabiq, pakaian dan anggota badan yang terkena najis hendaknya dicuci dengan air hingga hilang dan tidak tampak lagi wujudnya. Namun, bila setelah dicuci bekasnya masih ada, maka hal tersebut dimaafkan. Jika najisnya tidak terlihat seperti air kencing, maka cukuplah mencuci walaupun hanya satu kali. Jika najis tersebut adalah pakaian bawah wanita, maka tanahlah yang menyucikan sehingga tidak perlu khawatir akan kesuciannya sebagaimana yang telah dibahas dalam Sub Bab Debu.

Begitu pun dengan bagian bawah sandal atau sepatu. Tanah adalah penyucinya. Sedangkan bila yang terkena najis bagian atasnya, maka menyucinya adalah dengan menghilangkan terlebih dahulu najisnya. Bekasnya cukup dilap dengan benda keras sebanyak tiga kali, sebagaimana membersihkan tempat istinja’. Bila yang terkena najis berupa cermin, pisau, pedang, kuku, bejana berkilat, serta setiap kepingan yang tidak memiliki lubang, menurut Ust. Sayyid Sabiq, cukup dilap atau digosok hingga bersih.

3. Menyucikan Tanah

Setiap tanah yang kering atau debu adalah suci dan menyucikan. Jika terkena najis yang kering, maka cukup dibuang najis tersebut. Sedangkan jika najisnya cair, maka menyucinya adalah dengan menyiramkan air di atasnya, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. saat membersihkan air kencing seorang badwi yang kencing di masjid, yang diriwayatkan oleh Jama’ah kecuali Imam Muslim dari Abu Hurayrah, “Ada seorang badwi berdiri lalu kencing di dalam masjid. Lantas para shahabat pun berdiri untuk menangkapnya.

Nabi saw. bersabda, ‘Biarkanlah dia dan siramlah kencingnya dengan seember air, sebab kalian diutus untuk memberi keringanan, bukan untuk menyebabkan kesukaran kepada orang lain.”

4. Menyucikan Makanan yang Terkena Benda Najis Menyucikan makanan yang terkena najis juga bergantung pada sifat najis dan sifat makanan tersebut. Jika najis mengenai benda beku (kering), maka buanglah najis tersebut dan benda yang terkena najisnya, sedangkan sisanya tetap suci. Bila makanannya bersifat cair (minuman), maka seluruhnya menjadi najis berdasarkan kesepakatan ‘ulama. Sedangkan bila minuman tersebut dihinggapi lalat, maka celupkanlah lalat itu, dan kemudian bisa diminum. Sebagaimana sabda Nabi saw., “Apabila seekor lalat masuk ke dalam minuman salah seorang kalian, maka celupkanlah ia, kemudian angkat dan buanglah lalatnya sebab pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya ada obatnya”. (HR. Bukhari, Ibn Majah, dan Ahmad).

Dalam riwayat yang lain: “Sungguh pada salah satu sayap lalat ada racun dan pada sayap lainnya obat, maka apabila ia mengenai makananmu maka perhatikanlah lalat itu ketika hinggap di makananmu, sebab ia mendahulukan racunnya dan mengakhirkan obatnya”. (HR. Ahmad dan Ibn Majah).

Permasalahan lalat ini telah dibuktikan secara ilmiah oleh para peneliti dari IIIM (International Institute of Islamic Medicine), sebagaimana dikutip oleh islamicmedicine.org. Dari hasil penelitian tersebut ditegaskan bahwa bagian sayap dari lalat memproduksi zat sejenis enzim yang berukuran sangat kecil. Zat tersebut dinamakan Bakter Yofaj, yaitu tempat tubuhnya bakteri. Tempat ini menjadi tumbuhnya bakteri pembunuh dan bakteri penyembuh yang ukurannya sekitar 20:25 mili mikron. Karenanya, jika seekor lalat mengenai minuman atau makanan yang cair, maka celupkanlah keseluruhan bagian dari lalat tersebut agar bakteri penyembuh juga ikut dikeluarkan.

5. Menyucikan Kulit Binatang

Menyucikan kulit binatang yang sudah mati, baik bagian luar ataupun bagian dalamnya, sebagaimana yang diucapkan oleh Ust. Sayyid Sabiq adalah dengan cara menyamaknya. Hal ini berdasarkan hadits Ibn ‘Abbas, “Nabi saw. pernah bersabda, ‘Jika kulit disamak, maka ia menjadi suci’.” (HR. Bukhari dan Muslim).

6. Beberapa Masalah Lainnya

Dengan dalih kehati-hatian, kita lihat beberapa orang begitu berlebihan dalam thaharah, sehingga pada akhirnya memberikan kesulitan bagi ummat. Padahal, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Permudahlah jangan mempersulit”. Sebagaimana yang telah disampaikan para ‘ulama salaf bahwa ciri seorang yang faqih adalah mereka yang mudah dalam bersuci. Jika seorang terkena sesuatu yang tidak jelas najis atau tidaknya, maka tidak perlu ia mencaritahu apakah zat tersebut najis atau tidak, karena Allah swt. telah memaafkannya.

Hal ini pernah dilakukanoleh ‘Umar ibn Khattab yang pernah terkena suatu benda yang dibuang oleh seseorang, lalu kemudian beliau ra. mendiamkannya, bahkan ketika seorang shahabat bertanya kepada orang tersebut apakah benda itu najis atau tidak, ‘Umar ibn Khattab malah berkata, “Pertanyaan itu tidak perlu dijawab”. Namun, bila seorang yang ingin membersihkan najis dari suatu tempat atau pakaian, sedangkan ia tidak tahu pasti tempat najis tersebut, maka ia wajib menyucikan keseluruhannya.

Jika seseorang shalat padahal pakaiannya terkena najis dan belum dibersihkan atau ia lupa membersihkannya dan hal tersebut baru ia ketahui atau ia ingat setelah selesai shalat, maka ia harus membersihkan pakaian tersebut tanpa harus mengulang shalatnya. Allah swt. berfirman, “…Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya…” (QS. Al-Ahzaab, 33: 5).

Wallahu a’lam

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: