jump to navigation

Tentang Sumber Sejarah Juni 17, 2008

Posted by hudzayfah in Sejarah.
Tags: , ,
trackback

Kita sudah sepakat bahwa sejarah merupakan ilmu yang berkaitan dengan ruang, waktu dan manusia. Alur ceritanya memanjang dalam waktu, menggambarkan pengaruh sebuah peristiwa yang terjadi bagi kehidupan manusia dan perkembangannya kemudian. Permasalahannya sekarang, di mana kita mendapatkan informasi tentang sebuah peristiwa tersebut?

Saat kita mencari sebuah kerangka yang utuh dari suatu peristiwa, maka analisis terlebih dahulu jejak-jejak sejarah yang ditinggalkan oleh peristiwa tersebut. Karena jejak-jejak inilah yang kemudian akan membawa kita pada sebuah peristiwa sejarah.

Jejak sejarah merupakan sebuah efek atau atau lebih tepatnya akibat yang disebabkan oleh sebuah peristiwa sejarah. Bagaimana perkembangan masyarakat Aceh sebelum dan sesudah terjadinya gempa dan tsunami hanya akan diketahui saat kita berhasil menemukan akibat apa yang kemudian ada setelah terjadinya gempa dan tsunami tersebut.

Banyaknya korban jiwa, kerugian materiil, banyaknya orang asing yang datang atas nama LSM, dan akibat-akibat lainnya inilah yang kemudian kita telusuri hingga akhirnya kita dapat menemukan sebuah kenyataan bahwa gempa dan tsunami yang terjadi pada bulan Desember tahun 2004 ini merupakan peristiwa sejarah yang tidak bisa dilupakan begitu saja. Karena peristiwa ini memberikan efek bagi terjadinya perubahan kondisi manusia (bahkan) secara kolektif di Aceh.

Seperti itulah seorang sejarawan bekerja. Ia tidak boleh lelah untuk mencari dan menggali informasi. Mencari saksi yang mungkin masih bisa memberikan banyak informasi. Mencari data dalam arsip pemerintah, perpustakaan, jurnal, surat kabar, laporan kegiatan LSM atau sekedar catatan pribadi (diary) seorang yang memang sempat terlibat, baik langsung ataupun tidak langsung dalam sebuah peristiwa sejarah.

Sedangkan dalam mengumpulkan data sejarah untuk peristiwa yang cukup lama, dapat kita gali informasi dari benda-benda yang ditinggalkan, baik yang masih terdapat di lokasi atau yang sudah dipindahkan ke museum. Arsip-arsip kuno, seperti naskah-naskah perjanjian, dan catatan-catatn kuno juga merupakan sumber sejarah primer yang kemudian menjadi wajib bagi kita yang ingin meneliti permasalahan tersebut.

Lalu, bagaimana dengan babad, legenda, dan karya sastra sejarah yang sempat diwariskan oleh peradaban masa lalu?

Permasalahan ini dapat kita atasi saat kita berhasil mengkritik sumber-sumber yang ada. Pada dasarnya, sumber apapun bisa digunakan selama bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Artinya, kita bisa melakukan teknik perbandingan teks (koroborosi), yaitu dengan membandingkan data yang ada pada satu teks dengan data pada teks yang lain.

Untuk itu, dalam menelaah sumber, sejarah membutuhkan ilmu-ilmu pendukung seperti filologi (ilmu tentang teks) atau arkeologi (ilmu tentang benda-benda kuno). Tanpa dukungan ilmu-ilmu yang lain, kita tidak bisa melakukan kritik dengan benar, terutama yang berkaitan dengan teks atau benda-benda kuno.

Sampai di sini, kita sudah mendapatkan gambaran umum mengenai sumber sejarah. Secara umum, sumber sejarah dapat berupa sumber tertulis, seperti prasasti, silsilah, piagam, jurnal, surat, arsip, catatan harian, notulen, laporan kegiatan, dll; sumber benda, seperti masjid, candi, relief, table statistic, peta, potret, microfilm, film documenter, dll; dan sumber lisan, seperti folklore, cerita rakyat, dan sejarah lisan. Ketiga sumber ini bersifat saling bergantung dan saling melengkapi.

Aspek yang perlu kita perhatikan juga adalah mengenai keabsahan sumber. Dalam metode sejarah, sifat sumber dibagi dua. Pertama, yaitu apabila sumber atau penulis sumber terlibat secara langsung, melihat, atau mendengarnya secara langsung sebuah peristiwa. Dia bukanlah orang kedua, apalagi ketiga. Sumber seperti ini biasa disebut sebagai sumber primer (primary sources).

Kedua, yaitu apabila sumber atau penulis sumber mendapatkan cerita dari orang lain. Ia bukanlah orang yang terlibat secara langsung, melihat, atau mendengarnya sendiri. Ia merupakan orang kedua yang telah mendapatkan data dan telah mengolah sumber-sumber tersebut. Artinya, sudah ada interpretasi yang dilakukan oleh peneliti.

Dapat kita lihat, dari kedua sifat sumber tersebut bahwa kita harus benar-benar teliti menelaah sumber yang telah ada. Karena jika sumber ini merupakan sumber sekunder atau sumber turunan, maka perlu ketelitian yang cermat saat melakukan analisis dan sintesis data yang ada. Maka, kita akhirnya dapat menentukan sumber mana yang dapat kita gunakan atau tidak.

Wallahu a’lam

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: