jump to navigation

Sejarah Apa Adanya Juni 17, 2008

Posted by hudzayfah in Sejarah.
Tags: , , ,
trackback

Kenyataan bahwa sebuah kebenaran mutlak itu memang ada tidak bisa lagi dipungkiri. Tidak seperti apa yang difikirkan oleh mereka yang menamakan dirinya sebagai post-modernisme. Mengutip pernyataan Taufik Abdullah bahwa kalau sekiranya semua memang relatif, bukankah teori post-modernisme juga relatif? Kalau semua hal harus mengalami dekontruksi, bukankah karya yang post-modernisme juga mengalami dekontruksi?

Artinya, tidak dapat disangkal lagi bahwa kenyataan sejarah berlawanan arah dengan teori relativitas, walaupun dalam tulisan atau kisah sejarah terdapat sebuah subjektivitas, bukan berarti ia merupakan selembar harapan yang terkungkung oleh teori kebenaran relatif-nya post-modernisme. Mengapa? Karena sejarawan dituntut memiliki kejujuran dan sifat yang objektif dalam menilai segala masalah yang ada, sebagaimana kembali “Dewa Sejarah” Taufik Abdullah mengungkapkan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam sebuah penelitian memang murni hasil subjektif dari para sejarawan, namun adalah bagaimana sejarawan itu bisa objektif dalam mencari jawaban. Karena hal ini pun sesuai dengan apa yang saya fikirkan, yaitu bahwa setiap jawaban dari segala pertanyaan memang tidak terdapat dalam satu tempat, yang pasti akan melahirkan cara pandang yang berbeda. Padahal, dengan fakta yang sama saja setiap sejarawan dapat menginterpretasikannya berbeda-beda. Jadi, yang dimaksud Ranke dengan wie is eigentlich gewessen ist[1] adalah bagaimana sejarawan bisa objektif menilai semua sumber, baik primer maupun sekunder sehingga kenyataan bahwa sejarah memang dapat ditulis sebagaimana peristiwa itu terjadi dapat terealisasi.

Bukankah sudah banyak teori yang menjelaskan bagaimana kita mencari sumber dan mengolahnya? Teori koroborosi, kritik eksternal, dan internal terhadap sumber akan lebih menguatkan argumen kita berdasarkan fakta-fakta yang ada. Sebuah historiografi hanya akan menjadi seperti sebuah catatan khayalan dan fantasi jika ia tidak didukung oleh metode sejarah yang benar, dari mulai heuristic sampai interpretasi. Jadi, tidak ada lagi alasan bagi para sejarawan untuk melakukan penelitian sejarah demi sebuah kepentingan duniawi, entah itu eksistensi, kekayaan, jabatan, ataupun kekuasaan. Bagaimana mungkin seorang sejarawan yang seharusnya menjadi sebuah ikon dalam menemukan arah menuju ke kebenaran dan kenyataan sejarah malah kembali dijadikan alat untuk kepentingan-kepentingan tertentu yang bersifat pragmatis-individualis? Sudah lewat masanya para Mpu[2] itu menjadi penulis sejarah dan kita pun tidak menginginkan lahirnya Mpu-Mpu baru yang hanya menulis kisah sejarah berdasarkan ‘pesanan-pesanan’ para penguasa.

Sejarah memang terus berkembang dan berubah, namun adalah bagaimana para sejarawan atau penulis sejarah tetap berada di atas rel objektivitas untuk menilai segala sumber yang ada. Karena, kembali penulis mengutip pernyataan Taufik Abdullah bahwa perdebatan sejarah akan terus berlanjut. Tetapi tanpa keyakinan bahwa kebenaran empiris dan historis itu adalah sesuatu yang bisa didapatkan, kita hanya akan menggeranyang dalam kegelapan. Hanya dengan keyakinan ini pula bukan saja sejarah mempunyai masa depan, tetapi juga, dan lebih penting, dengan sejarahlah kita lebih mungkin membayangkan wilayah masa depan yang masih belum berpeta ini.

Sungguh pernyataan yang luar biasa dan sudah seharusnya direnungi oleh setiap orang yang menginginkan perbaikan di masa yang akan datang. Bahkan beliau (Taufik Abdullah) melanjutkan pernyataannya bahwa perdebatan sejarah bukanlah anarki dalam keilmuan tetapi pantulan dari kegelisahan intelektual untuk menjangkau kenyataan historis, yang terasa bisa -dan memang bisa- dijangkau lalu terlalu berharga untuk dibiarkan diam tak berbicara. Sedangkan masa depan terlalu penting untuk dibiarkan selamanya tak berpeta.

Mungkin karena itulah kini bangsa kita seperti kehilangan sebuah kendali yang kemudian -seharusnya- menjadi penentu arah negeri ini. Mungkin karena itu pula begitu banyak para kaum terdidik yang bergelar profesor hanya bisa menulis jika ada sesuatu di belakangnya. Begitu pragmatis dan ironis.[3] Saat bangsa tertatih kehilangan arah, para sejarawan yang seharusnya memegang kendali malah terpinggirkan. Sekali ada sejarawan yang mencoba memegang kendali itu, ia tidak mengarahkannya ke jalan yang menunjukan cahaya kebenaran, malah membawa negeri ini ke lembah jurang kenistaan. Karena hati nuraninya dibiarkan terbungkam, tanpa rasa, tanpa kata…

Wallahu a’lam


[1] Kalimat ini digunakan oleh sejarawan Leopord von Ranke. Artinya menuliskan sejarah sebagaimana peristiwa itu terjadi

[2] Pada masa Hindu-Budha, setiap peristiwa dituliskan oleh para Mpu, namun jarang di antara mereka yang menuliskannya demi kepentingan sejarah itu sendiri. Artinya, pemilihan kisah-kisah yang sesuai dengan kehendak Sang Penguasa kerap terjadi. Selain itu, para Mpu biasanya lebih mengedepankan aspek sastra dibandingkan aspek sejarah

[3] Banyak hal telah terjadi. Khususnya pada masa orde baru di mana para sejarawan menulis kisah sejarah demi kepentingan rezim yang berkuasa

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: