jump to navigation

Minor Creativity Juni 9, 2008

Posted by hudzayfah in Coretan Kecil, Perjalanan Sang Waktu.
Tags: , , ,
trackback

Dalam pemikiran Arnold Joseph Toynbee, “munculnya peradaban memang mengandung kehadiran agama yang dikendalikan para pemimpin yang memiliki visi masa depan serta memiliki kemampuan luar biasa dalam mengorganisir dan dalam mengajak manusia untuk mau diatur bagi kerja proyek-proyek jangka panjang yang hanya akan membuahkan hasil yang jauh. Itulah, menurut pendapat saya, gelombang pertama dari kemajuan spiritual, dan apa yang disebuat peradaban merupakan buahnya.”

Artinya, tegaknya sebuah peradaban harus ditunjang oleh seorang atau sekelompok kecil manusia yang memiliki visi jangka panjang di mana ia bisa merepresentasikan pemikirannya untuk mendukung kemajuan kolektif dari komunitasnya, sehingga pada fase selanjutnya kelompok minoritas itulah yang kemudian duduk menjadi pemimpin untuk menentukan arah serta wajah peradaban yang dilahirkannya.

Seorang atau sekelompok manusia inilah yang kemudian dikenal dengan istilah minor creativity. Minor creativity menjadi kekuatan inti bagi tegak atau runtuhnya sebuah peradaban. Mengapa? Karena dalam hal ini, mereka tidak sekedar menjadi manajer bagi peradaban tersebut, tapi juga sekaligus menjadi presiden direktur dan innovator bagi berkembangnya perusahaan peradaban tempat dimana ia hidup dan menghirup nafas. Ia lah yang akan menggoreskan berjuta catatan dalam lembar kehidupan kolektif komunitasnya. Ia pula yang akan mewarnai lukisan-lukisan perjalanan sejarah bangsanya.

Hampir setiap pemikir yang pernah mengeluarkan tesis tentang peradaban mengerucut pada kesimpulan bahwa peradaban akan melalui tiga fase dalam perjalanannya. Saya lebih senang menyimpulkannya dengan kata-kata yang sederhana, yaitu.

1. Fase lahirnya peradaban

Dalam fase ini, akan ada kemungkinan lahirnya beragam kebudayaan sebagai representasi dari ide ataupun gagasan minoritas yang kemudian diikuti oleh mayoritas. Kehadiran budaya yang baru tersebut memberikan warna yang baru bagi kehidupan sebuah komunitas. Jika kebudayaan yang hadir itu lebih dari satu, maka tinggal bagaimana sang ‘pemilik’ kebudayaan untuk menyebarkan ide dan gagasannya sehingga pada akhirnya ia yang hadir menjadi trend setter bagi mayoritas.

Dalam masa ini, banyak pendapat mengenai faktor apa yang akan menjadi kekuatan sebenarnya bagi minor creativity untuk menyebarkan ide dan gagasannya menjadi sebuah trend bagi mayoritas. Namun, faktor pengaruh dan nilai lebih yang ditawarkan minoritas menjadi yang paling utama dibandingkan faktor yang lainnya. Saat mayoritas telah mengikuti satu pola tertentu dari apa yang ditawarkan oleh minoritas tadi, maka di sinilah sebuah peradaban akan lahir sebagai identitas kolektif untuk mencapai ide, gagasan, serta visi-visi jangka panjang yang dibawa oleh minor creativity.

2. Fase tumbuh dan berkembangnya peradaban

Setelah sebuah peradaban tumbuh menjadi identitas kolektif anggotanya, maka ia akan berkembang sebagaimana sebuah kehidupan menjalani segala aktivitasnya. Namun, perlu diperhatikan bahwa fase ini merupakan fase penentuan yang akan menjadi batas, apakah peradaban tersebut dapat bertahan atau justru hancur dan akhirnya mati.

Kekuatan kolektif lain yang juga mengusung identitas bersama akan hadir sebagai kompetitor untuk menyebarkan ide dan gagasan yang diusung oleh komunitasnya. Hal ini akan menyebabkan sebuah pertarungan peradaban atau menurut tesis Huntington adalah apa yang disebut dengan clash of civilization. Bahkan jauh lebih dari itu, peradaban yang lebih dahulu mapan biasanya akan lahir sebagai sebuah peradaban yang diharapkan anggotanya dapat menjadi kiblat peradaban dunia. Artinya, yang kemudian terjadi saat dua peradaban ini bertemu adalah bukan clash of civilization, melainkan crushed the civilization, atau menghancurkan peradaban.

Hal tersebut yang terjadi pada saat ini, dimana peradaban barat yang mendominasi dunia mencoba menghancurkan segala macam peradaban yang sedang tumbuh dan berkembang pasca kemenangannya melawan peradaban komunis. Jika peradaban-peradaban baru itu tidak memiliki sebuah kekuatan minoritas yang akan membawa identitas bersama dalam sebuah panggung pertarungan ini, maka dapat dipastikan bahwa ia akan hancur di bawah bendera peradaban yang mapan tadi.

Maka dari itu, Ibn. Khaldun menyatakan bahwa satu kekuatan yang akan memberikan pemahaman tentang realita sebuah peradaban adalah ashabiyah. Maksudnya adalah ia yang akan mengibarkan bendera perlawanan terhadap penghancuran yang dilakukan kompetitor peradabannya. Walaupun secara sederhana ashabiyah memiliki kesamaan dengan chauvinism. Namun, para sejarawan muslim kontemporer lebih memahami makna ashabiyah sebagai kemampuan bagi sebuah komunitas untuk mempertahankan identitas dirinya sebagai kekuatan kolektif, dengan berbagai konsekwensi yang harus diterima setiap anggota dalam komunitas tersebut untuk tetap memegang teguh apa yang seharusnya menjadi identitas bersama. Dengan ini, menurut Ibn. Khaldun, sebuah komunitas akan bertahan dan bahkan dapat menjadi trend setter peradaban dunia.

3. Fase runtuhnya peradaban

Selain invasi yang dilakukan oleh peradaban lain, runtuhnya peradaban bisa juga disebabkan oleh tidak sanggupnya minoritas menjawab tantangan-tantangan yang hadir kemudian. Mengutip pernyataan Toynbee, bahwa pada saat minoritas menjadi lemah dan kehilangan daya ciptanya, maka tantangan-tantangan dari alam tidak dapat dijawab lagi. Minoritas menyerah, mundur dan tidak akan ada pertumbuhan lagi, karena mayoritas sudah kehilangan arah untuk menentukan langkah hidupnya. Apabila keadaan sudah mencapai puncaknya, maka keruntuhan (decline) mulai tampak. Toynbee sendiri berpendapat bahwa keruntuhan sebuah peradaban itu terjadi dalam tiga masa yaitu.

a) Kemerosotan kebudayaan. Dikarenakan minoritas kehilangan daya cipta serta kehilangan kewibawaannya, maka mayoritas tidak lagi bersedia mengikuti minoritas. Hal ini membuat hubungan antara minoritas dengan mayoritas terpecah dan tunas-tunas hidupnya peradaban akan lenyap, seiring dengan lenyapnya identitas kolektif yang pada awalnya ‘diciptakan’ minoritas.

b) Kehancuran peradaban. Masa ini mulai tampak setelah tunas-tunas peradaban itu mati dan pertumbuhan terhenti. Toynbee menyebut masa ini sebagai petrification, karena sisa-sisa peradaban yang mati itu akan membatu menjadi fosil.

c) Lenyapnya kebudayaan. Yaitu suatu masa Dimana tubuh peradaban yang sudah membatu itu hancur-lebur, lenyap dan tidak bersisa.

Dapat kita lihat bersama bahwa kehadiran minor creativity menjadi kartu As bagi tumbuh dan berkembangnya sebuah peradaban. Keruntuhan peradaban yang disebabkan oleh melemahnya minoritas biasanya terjadi dalam selang waktu yang cukup panjang. Jika Islam merupakan peradaban yang lahir dari kekuatan minoritas Jazirah Arab, dalam hal ini Rasulullah Muhammad saw. dan generasi Shahabat, maka keruntuhan peradaban Islam tampak setelah minoritas itu telah tiada.

Pada fase peralihan kekuasaan seperti ini memang rawan terjadi konflik. Hal ini disebabkan oleh kekuatan minoritas yang menjadi trend setter nilai telah tiada. Hal ini kemudian membuat beberapa kelompok di bawahnya mengklaim menjadi pewaris tunggal dari peradaban yang telah tegak tadi. Sehingga kita pun mendengar kisah-kisah tragis yang begitu politis pasca Kekhalifahan Hasan ibn. Ali ibn. Abu Thalib. Akhirnya, muncul Kesultanan Islam yang membawa identitas kolektifnya masing-masing, melupakan identitas bersama yang dibawa oleh Rasulullah saw. dan para Shahabat. Identitas ashabiyah bangsa arab muncul kembali setelah sekian lama ia terbenam oleh fajar Islam yang gemilang. Bahkan pada fase selanjutnya, ashabiyah yang ditawarkan telah bercampur dengan kebudayaan yang asing sebagai bentuk akibat dari tidak adanya kekuatan minoritas-minoritas baru – para pewaris peradaban – untuk membawa mayoritas ke dalam satu identitas yang bisa meluluhlantakkan sekat-sekat perbedaan demi sebuah visi kolektif yang dibawa generasi pertama peradaban Islam.

Akibatnya, peradaban Islam yang berbasis nilai ‘resmi’ runtuh setelah Mu’awiyah menjadi Sultan bagi Kerajaan Islam. Saya menyebutnya Kerajaan Islam karena Mu’awiyah kemudian menghilangkan mekanisme musyawarah yang menjadi ciri khas peradaban Islam. Ia menunjuk anaknya, Yazid sebagai pengganti dirinya. Sedangkan di tempat lain, muncul kekuatan minoritas baru yang ingin mengembalikan kereta api peradaban Islam ini ke atas relnya. Sayangnya, pengaruh yang ditawarkan Mu’awiyah mendapat dukungan lebih besar – terlepas bagaimana peran kaum munafik dan kafir di dalamnya, yang pasti pada masa ini kekuatan kolektif Husaiyn ibn. Ali ibn. Abi Thalib ternyata justru menjadi api fitnah yang menyebabkan dengan mudahnya kedua kelompok muslim ini bertempur dahsyat di Karbala. Sejak saat itulah peradaban Islam yang dibawa Rasulullah saw. mengalami keruntuhan nilai, sehingga segala macam proses yang dibangun oleh generasi selanjutnya tidak memiliki tolak ukur nilai yang benar sebagaimana yang telah digariskan oleh Rasulullah saw.. Hal ini pula yang menyebabkan peradaban selanjutnya begitu rapuh dan akhirnya benar-benar berakhir semenjak diberlakukannya hukum sekuler di Turki pada tahun 1924 menggantikan hukum Islam.

Kini, peradaban Islam sedang dalam proses menuju kelenyapan. Bahkan di antara sisa-sisa peradabannya benar-benar telah membatu menjadi fosil. Maka, saat ini Islam tengah menanti minor creativity yang baru, yang dapat mengarahkan dan memimpin ummat untuk mempertahankan identitas mereka sebagai seorang muslim, sebagaimana yang dilakukan oleh generasi Shahabat untuk memunculkan sebuah kekuatan kolektif, untuk mencapai mimpi dan visi kolektif ummat.

Wallahu a’lam

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: