jump to navigation

Filsafat Ideologis Rabbaniy Juni 9, 2008

Posted by hudzayfah in Coretan Kecil, Perjalanan Sang Waktu.
Tags: ,
trackback

Dalam skema alam ini, manusia mencari sebuah corak yang sesuai dengan kondisi ideal dirinya. Artinya ia akan menggapai harapan-harapan untuk menuju pada satu titik yang disebut dengan kebahagiaan. Sebuah proses pencarian hakikat kehidupan alam disebut filsafat. Jadi, dapat dikatakan bahwa pada saat manusia berhenti berfilsafat, maka pada saat itu pula kehidupan akan berhenti berputar. Setidaknya tidak akan ada lagi sebuah peradaban yang menjadi batasan ruang dan waktu tempat dimana manusia itu berfilsafat.

Proses pencarian atau pemikiran ini memiliki sebuah pijakan dasar yang akan dijadikan setiap manusia untuk mengukur segala pertanyaan dan jawaban akhir apa yang ia inginkan. Dengan kata lain, ia terikat sebuah nilai yang menjadi dasar dari segala sesuatu atau sebuah nilai ideal seseorang. Nilai idealis ini adalah keniscayaan. Ia lahir dari kehendak dan harapan, sehingga pada saat nilai itu telah menjadi bingkai individu dalam sebuah kolektif masyarakat, ia biasa disebut dengan ideologi.

Filsafat adalah sebuah proses dan ideologi adalah pijakan dasar yang digunakan oleh manusia untuk melakukan proses berfilsafat. Dari ide dan gagasan individu, manusia berusaha untuk memengaruhi suara mayoritas agar kemudian apa yang dia bawa dari ide dan gagasannya dapat diterima oleh suara mayoritas masyarakat. Pada tahap ini, berarti masyarakat telah menjadikan ide dan gagasan tadi sebagai sebuah pengetahuan sekaligus kebudayaan. Atau identitas yang ditawarkan dari ide dan gagasan individu telah berubah dan berkembang menjadi sebuah identitas kolektif dimana masyarakat kemudian menerima konsekwensi dari nilai-nilai yang dibawa individu tadi. Dengan menjadikannya identitas sekaligus mempertahankan identitasnya tersebut dari serangan ideologi lain.

Sebuah identitas kolektif yang terjaga dengan baik akan berkembang. Mereka akan terus berfilsafat untuk menemukan ilmu dan pengetahuan serta menciptakan teknologi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Lebih dari itu, mereka akan membutuhkan sebuah ruang dalam satuan waktu yang akan mengorganisir sebuah kekuatan baru untuk mempertahankan identitas kolektif yang mereka bawa.

Ruang dalam satuan waktu itu adalah sebuah kompleksitas yang di dalamnya anggota masyarakat tadi dapat mengapresiasi segala ekspresi dalam sebuah keteraturan. Ia merupakan sebuah state of human social development and organization atau dalam istilah Bahasa Indonesia, ia dapat diartikan sebagai peradaban.

Jadi, peradaban lahir dari sebuah filsafat ideologis. Ia adalah ide yang muncul atas dasar nilai ideologis lalu berubah menjadi identitas kolektif yang memunculkan pengetahuan serta kebudayaan. Dari identitas kolektif ini masyarakat berkembang menemukan ilmu dan menciptakan teknologi yang pada akhirnya membutuhkan sebuah peradaban untuk menjadi semacam istana yang akan menjadi ruang sekaligus benteng bagi sebuah komunitas untuk bertahan hidup dan mencapai nilai-nilai ideologis dari identitas kolektif yang mereka miliki.

Jika kita menyepakati bahwa sebuah filsafat ideologis didasarkan atas kondisi ideal individu dan masyarakat, maka hanya ada satu idealisme yang akan membawa, baik individu ataupun masyarakat ke dalam sebuah ruang yang di sana tidak akan ditemukan kesenjangan antara harapan dengan kenyataan. Peradaban yang lahir dari kebutuhan itu pun merupakan peradaban yang kokoh, tidak lekang oleh zaman karena ia akan senantiasa bergerak mengikuti kehendak zaman. Bagaimana tidak? Ia lahir dari sebuah nilai yang diturunkan langsung oleh Sang Pemilik Zaman. Jadi, tidak mungkin ada sedikit pun cacat dalam peradaban yang dibangun.

Filsafat ideologis yang lahir atas dasar kehendak Sang Pemilik Zaman melalui wahyu disebut filsafat ideologis rabbaniy. Karena ia mencitrakan nilai atau sifat-sifat ketuhanan dalam proses perputaran dari ide menuju peradaban. Fase ke-rabbaniy-an dimulai sejak ide dan gagasan itu hadir. Maka, tidak ada yang lebih berhak untuk menuangkan ide kehidupan selain mereka yang telah mendapatkan kemuliaan dengan menerima wahyu langsung dari Sang Pemilik wahyu atau seorang yang kita kenal dengan sebutan rasul (utusan).

Dalam konteks Islam, Rasulullah saw. merupakan peletak batu pertama sendi-sendi kehidupan ummat. Rasulullah saw. merupakan individu yang sanggup mencitrakan nilai-nilai rabbaniy dengan sempurna hingga ketika ‘A`isyah ra. ditanya bagaimana akhlaq Rasulullah, ia ra. menjawab “Akhlaq Rasulullah adalah al-Qur’an”.

Dapat kita lihat di sini, sebuah filsafat ideologis yang dilakukan oleh Rasulullah saw. adalah pencitraan dari nilai-nilai rabbaniy yang tercantum dalam al-Qur’an, sehingga setiap perkataan, perbuatan, dan perintahnya semata-mata adalah penjabaran dari apa yang terdapat di dalam al-Qur’an.

Begitu pun pada saat beliau saw. mendirikan sebuah state of human social development and organization di Yatsrib lalu mengubah namanya dengan Madinah al-Munawarah atau Madinah ar-Rasul. Walaupun peradaban Madinah belum mencapai pada tingkat kompleksitas yang tinggi, namun dasar-dasar nilai rabbaniy yang dikandungnya sanggup melahirkan peradaban yang lebih kompleks di Andalusia, India, Iraq, Mesir, dan Turki.

Hal ini bisa terjadi bukan karena kekuatan kolektivitas semata-mata, tapi adalah apa yang menjadi dasar dari tegaknya peradaban itu sendiri, yaitu nilai-nilai rabbaniy yang tidak boleh terpisahkan dari setiap sendi kehidupan ummat. Jika Ibn. Khaldun menyebutkan sekelompok manusia harus memiliki ashabiyah untuk mempertahankan identitas kolektifnya, maka ashabiyah seorang muslim adalah bagaimana ia tetap bisa komitmen dalam keislamannya pada setiap jengkal ruang dan waktu.

Jika dalam tubuh ummat tidak lagi tampak nilai-nilai rabbaniy, maka hal tersebut akan berakibat negatif seperti yang tampak pada beberapa abad setelah Rasulullah saw. dan para Shahabat telah tiada. Percampur-bauran nilai terjadi dan hal ini yang sebenarnya mempercepat proses keruntuhan peradaban Islam. Nilai ideologisnya lebih dahulu runtuh, lalu diikuti oleh keruntuhan state pada tahun 1924 di Turki.

Begitu pun kita yang saat ini tengah mengusung tegaknya peradaban, jika filsafat ideologis kita tidak didasarkan pada nilai-nilai rabbaniy, maka peradaban yang dilahirkan tidak akan jauh berbeda dengan apa yang dilahirkan China, Mesir Kuno, Romawi atau Yunani. Mereka besar, terlihat kuat, padahal begitu rapuh dan mudah hancur. Karena mereka membangun peradaban syahwati sedangkan peradaban yang akan kita bangun adalah peradaban berbasis nilai-nilai rabbaniy atau bisa kita sebut dengan peradaban rabbaniy.

Wallahu a’lam

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: