jump to navigation

Ashabiyah Juni 9, 2008

Posted by hudzayfah in Coretan Kecil, Perjalanan Sang Waktu.
Tags: ,
trackback

Kadangkala, dalam jangka waktu yang cukup panjang, sebuah penurunan nilai dari satu generasi ke generasi selanjutnya mengalami pergeseran yang semakin hari semakin menjauh dari nilai yang dianut oleh generasi awal. Terlepas apakah nilai tersebut baik atau tidak, namun hal tersebut hampir terjadi dalam setiap aspek kehidupan. Dalam konteks ajaran agama, pergeseran nilai seperti ini biasa disebut dengan heresy (bid’ah).

Maka dari itu, Allah swt. mengirimkan Rasul-Nya di setiap masa untuk meluruskan kembali ajaran tauhid yang – secara syari’at – pertama kali dibawa oleh nabi Nuh as.. Nabi Ibrahim hadir di Mesopotamia untuk meluruskan kembali manusia yang pada saat itu telah menyimpang dari ajaran tauhid. Mereka membuat berhala dan kemudian berhala tersebut disembahnya. Nabi Ibrahim as. berda’wah dengan membawa ajaran yang termuat dalam shuhuf-shuhuf Ibrahim, namun kaumnya senantiasa mengingkari sampai akhirnya beliau as. dibakar hidup-hidup.

Walaupun demikian, ajarannya tetap dilestarikan oleh kedua puteranya yang juga menjadi rasulullah, Isma’il, yang kemudian tinggal di daerah Petra[1], dan Ishaq yang meneruskan da’wah ayahnya di Babilonia. Bani Hasyim merupakan sedikit di antara mereka yang masih memegang teguh ajaran nabi Ibrahim as. yang dibawa nabi Isma’il as.. Ajaran tersebut dikenal dengan nama millah Ibrahima hanifa (millah Ibrahim yang lurus)[2].

Begitu pun dengan nabi Musa as. yang hadir di tengah-tengah kecongkakan Fir’aun, dimana pada saat itu ia mengaku sebagai Tuhan yang wajib disembah oleh penduduk Mesir, hingga akhirnya nabi Musa as. membawa Yahudi yang telah diusir dari Babilonia menuju “tempat yang dijanjikan” ditemani oleh adiknya, Harun as.. Sikap bangsa Yahudi yang angkuh harus dilawan dengan hukum Taurat yang keras, hingga banyak di antara Yahudi yang sebenarnya tidak mau berhukum dengan Taurat. Kebanyakan dari mereka hanya takut dan sebagian lagi canggung dengan kewibawaan seorang Musa as.. Hal ini dapat kita lihat setelah nabi Musa as. meninggal, Joshua[3], penggantinya, tidak sanggup menjaga keangkuhan Yahudi yang pada akhirnya terbagi-bagi menjadi 12 suku yang bergeser dari ajaran tauhid. Mereka mengganti hukum Taurat dan menghalalkan apa-apa yang diharamkan oleh Taurat, serta sebaliknya, mengharamkan apa-apa yang dihalalkan oleh Taurat, walaupun sebagian dari suku Benyamin[4] masih berpegang pada ajaran tauhid.

Pada saat demikian, lahirlah ‘Isa al-Masih ibn. Maryam as. untuk meluruskan kembali ajaran tauhid. Beliau as. hadir sebagai utusan Allah swt. untuk Bani Isra’il, namun mereka menganggap nabi ‘Isa sebagai nabi palsu karena beliau as. bukan keturunan Yahudi, atau bukan bagian dari Bani Isra’il[5]. Apalagi, kekuasaan Romawi pada saat itu memegang teguh ajaran paganisme[6], yang membuat nabi ‘Isa pada saat itu dianggap seorang teroris yang akan melakukan makar terhadap pemerintahan Romawi, hingga akhirnya beliau as. ditangkap dan disiksa di tiang salib[7]. Namun, makar Allah swt. ternyata sanggup “membutakan” mata tentara Romawi dan kaum Yahudi yang menganggap beliau as. telah wafat. Padahal, mereka tidak pernah menyalibnya atau membunuhnya[8].

Pasca “wafat”-nya nabi ‘Isa al-Masih as., seorang Yahudi penipu dari Tarsus, Saulus atau Paulus yang kemudian menjadi Paus, mendirikan agama baru di atas reruntuhan agama tauhid yang dibawa oleh nabi ‘Isa as., Nashrani, serta mengklaim agama baru ciptaannya merupakan penerus sekaligus pembaharu ajaran Nashrani yang dibawa oleh nabi ‘Isa as.. Mereka menyesatkan jutaan manusia dengan menyebarkan ajaran trinitas, kematian dan kebangkitan ‘Isa al-Masih as., dosa turunkan dan surat pengampunan dosa, serta mengubah isi Injil dengan menghalalkan apa-apa yang diharamkan oleh Injil, serta sebaliknya, mengharamkan apa-apa yang dihalalkan oleh Injil. Paulus menamakan agamanya ini dengan Kristen[9].

Seluruh murid nabi ‘Isa as. yang masih memegang teguh ajaran tauhid dibantai. Mereka disiksa dan dihukum tanpa proses pengadilan. Namun, Allah swt. masih menjaga sebagian kecul di antara mereka, yang al-Quran menyebutnya sebagai Ashhab ul-Kahfi. Mereka yang kemudian membawa ajaran Nashrani hingga sampai pada dada seorang Waraqah ibn. Naufal, paman Siti Khadijah, ibunda muslimin sedunia. Mereka menyebarkan kabar tentang kelahiran Ahmad (rasulullah Muhammad saw.) dan menjadi bagian dari penolong agama Allah swt.. Semoga Allah swt. meridhai mereka di dunia dan di akhirat.

Setelah begitu banyaknya penyimpangan, melalui sebuah proses pembinaan mental yang dilakukan oleh Allah swt. dari masa ke masa, di antara peradaban thaghut Yunani dan Romawi, lahirlah secercah cahaya di atas cahaya yang menyinari kelamnya peradaban Arabia. Dialah rasulullah tercinta Muhammad saw.. Beliau saw. hadir untuk meluruskan ajaran tauhid yang dibawa oleh nabi Nuh as. hingga nabi ‘Isa al-Masih as.. Beliau saw. hadir untuk seluruh alam, berbeda dengan nabi dan rasul sebelumnya yang hanya diutus bagi kaum (bangsa) tertentu di tempat tertentu. Namun, perjuangan menyebarkan agama Allah swt. tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Beliau saw. dan para pengikutnya harus mengalami berbagai siksaan dan perang hingga akhirnya saat kemenangan tiba, berbondong-bondonglah manusia memeluk dien ini dengan sukarela dan tanpa paksaan.

Sebuah dien yang kaaffah kemudian ditegakkan sebagai upaya penghambaan yang sempurna kepada Allah swt.. Maka, terciptalah sebuah peradaban yang didirikan di atas “filsafat” ideologis rabbaniy[10]. Ia merupakan terjemahan dari “filsafat” al-Quran berbasis nilai-nilai rabbaniy, dan tentu saja, hanya rasulullah saw. yang berhak menerjemahkan al-Quran, dan terjemahan itu terdapat dalam sunnahnya. Atau secara sederhana, dapat dikatakan bahwa peradaban Islam adalah sebuah peradaban yang didirikan di atas nilai-nilai rabbaniy berdasarkan al-Quran dan Sunnah.

Dalam perjalanannya, Islam pun mengalami pergeseran nilai, di samping bahwa Allah telah berjanji (wa’d) untuk menjaga al-Quran dan as-Sunnah sepanjang zaman. Bentuk-bentuk heresy-pun tampak dalam kehidupan sehari-hari ummat muslim. Maka, bermunculanlah faham yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dibawa oleh generasi awal Islam, yaitu rasulullah Muhammad saw. dan para Shahabat. Dari penyimpangan ‘aqidah (Sabaiyah, Rafidhah, Ahmadiyah, Khawarij, Mu’tazilah, dll) sampai sinkretisme[11] (Kejawen, dll).

Penyimpangan nilai-nilai Islamy ini mulai muncul pasca wafatnya ‘Umar ibn. Khattab. Pada awalnya terjadi perpecahan politik yang kemudian berujung pada lahirnya dua faham besar yang menyimpang, Khawarij dan Syi’ah[12]. Kondisi seperti ini mendorong lahirnya berbagai faksi yang saling berebut kekuasaan pasca syahidnya Imam al-Husaiyn di Karbala. Apalagi, keruntuhan nilai-nilai rabbaniy sebenarnya telah tampak sejak diangkatnya Yazid oleh Mu’awiyah untuk menggantikan dirinya. Artinya, tidak ada lagi mekanisme musyawarah yang menjadi salah satu ciri dari nilai rabbaniy dan pemerintahan khas Islam, Khilafah telah bergeser menjadi theokrasi atau kerajaan atau sebagian menyebutnya Kesultanan.

Pada fase-fase selanjutnya, nilai-nilai rabbaniy semakin terkikis dan Allah swt. membuktikan kuasa-Nya dengan memberikan pelajaran bagi ummat Islam agar berbenah dengan meruntuhkan Kesultanan Turki Osmani (Ottoman) pada tahun 1923, serta berlakunya hukum sekular menggantikan hukum Islam di Turki beberapa negara “Islam” lainnya pada tahun 1924. Hal tersebut membuktikan bahwa dalam setiap generasi, penurunan nilai tidak berjalan dengan sempurna, maka Allah swt. melalui rasul-Nya menyatakan bahwa akan ada di setiap generasi (100 tahun), seorang mujtadid (pembaharu). Maksudnya adalah seorang yang akan memperbaharui nilai-nilai yang telah diturunkan tersebut agar berada di atas manhaj yang rabbaniy, sesuai dengan apa yang dibawa oleh generasi awal Islam ini berdiri.

Islam sebagai sebuah dien yang kaaffah tidak bisa dipisahkan dari peradaban yang akan dilahirkannya sekaligus akan menjadi sebuah sarana untuk beribadah secara sempurna. Bahkan, bisa dikatakan dien ul-Islam adalah peradaban Islam itu sendiri.

Dalam kaitannya dengan regenerasi serta penurunan nilai, peradaban Islam yang didirikan di atas nilai-nilai rabbaniy tentu hanya akan menjadi sempurna saat nilai-nilai yang dibawanya tidak mengalami pergeseran atau masih sesuai dengan al-Quran atau as-Sunnah. Artinya, saat peradaban ini mengalami degradasi nilai, maka hal tersebut akan diikuti oleh keruntuhan tiang-tiang peradaban yang berarti runtuhnya peradaban itu sendiri. Hal ini telah dialami oleh peradaban Islam masa lalu, dimana pasca Khulafa u Rasydin memimpin telah terjadi keruntuhan nilai-nilai rabbaniy sehingga segala macam proses yang dibangun oleh generasi selanjutnya tidak memiliki tolak ukur nilai yang benar sebagaimana yang telah digariskan oleh Rasulullah saw.. Hal ini yang menyebabkan peradaban selanjutnya begitu rapuh dan akhirnya benar-benar berakhir pada masa Turki Osmani.

Menyikapi hal ini, dibutuhkan sebuah kekuatan mental untuk mempertahankan nilai tersebut menjadi identitas individu seorang muslim sekaligus identitas kolektif ummat. Ibn. Khaldun menyebutkan bahwa satu kekuatan yang akan memberikan pemahaman tentang realita sebuah identitas adalah ashabiyah. Walaupun secara sederhana ashabiyah memiliki kesamaan dengan chauvinism. Namun, para sejarawan muslim kontemporer lebih memahami makna ashabiyah sebagai kemampuan bagi sebuah komunitas untuk mempertahankan identitas dirinya sebagai kekuatan kolektif, dengan berbagai konsekwensi yang harus diterima setiap anggota dalam komunitas tersebut untuk tetap memegang teguh apa yang seharusnya menjadi identitas bersama. Dengan ini, menurut Ibn. Khaldun, sebuah komunitas akan bertahan dan bahkan dapat menjadi trend setter peradaban dunia.

Kini, permasalahannya kembali kepada diri kita sendiri sebagai seorang individu muslim sekaligus sebagai bagian kolektif yang tidak terpisahkan dari tubuh ummat. Akan ada konsekwensi saat kita mempertahankan nilai-nilai rabbaniy untuk tidak bergeser sedikit pun dari apa yang telah digariskan oleh Allah swt. dan rasul-Nya. Hal ini yang akan kita senantiasa tampakkan dalam setiap jengkal kehidupan kita, di manapun dan kapanpun kita berada.

Ashabiyah Islamiyah dalam pengertian di atas harus tertanam, bahkan menghujam di dalam relung hati yang terdalam. Kita harus menyadari dan meyakini bahwa ini adalah konsekwensi dari kata Laa ilaaha illa Allah, Muhammad ar-Rasulullah. Bahwa saat kita mengucapkannya berarti kita telah berikrar, bersumpah dan berjanji setia untuk ta’at dan patuh terhadap aturan Allah dan rasul-Nya. Tidak ada lagi cinta di atas kecintaan terhadap Allah dan rasul-Nya, tidak ada lagi rindu sebesar kerinduan terhadap Allah dan rasul-Nya. Tidak ada lagi aktivitas yang tertuju kepada selain Allah dan rasul-Nya, serta tiada lagi harapan, sandaran, serta kehendak di luar apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan rasul-Nya.

Ini adalah konsekwensi. Konsekwensi untuk mempertahankan nilai, demi tegaknya sebuah peradaban Islam sebagai rahmatan lil-’alamin. Akan ada keringat, bahkan darah tercucur, namun itulah pengorbanan. Akan ada harta dan jiwa yang melayang. Namun, apalah artinya semua itu dibandingkan kenikmatan berjumpa dengan Allah swt. dan rasul-Nya di syurga?!

Wallahu a’lam


[1] Petra disebutkan oleh Perjanjian Baru sebagai tempat dimana suku Kedar berada, yaitu tempat munculnya pasukan unta yang membawa cahaya. Saat rasulullah Muhammad saw. dilahirkan, wilayah Petra dikenal dengan nama Hijjaz

[2] Kata “millah” dapat disinonimkan dengan kata “dien”, walaupun dalam kompleksitas-nya akan terlihat berbeda

[3] Pada awalnya, nabi Harun as. dipersiapkan untuk menggantikan nabi Musa as., namun ia as. menemui Rabbnya terlebih dahulu sehingga kepemimpinan ummat diserahkan kepada Joshua pasca wafatnya nabi Musa as.

[4] Salah satu nama dari 12 suku Yahudi adalah Benyamin. Suku-suku tersebut dinisbatkan kepada nenek moyang mereka yaitu Bani Israil atau Bani Ya’qub (Israil merupakan gelar bagi nabi Ya’qub) yang merupakan 12 saudara nabi Yusuf ibn. nabi Ya’qub as.

[5] Nabi ‘Isa as. merupakan Bani Ibrahim. Beliau as. keturunan nabi Ibrahim as. dari nabi Ishaq as.

[6] Penyembah berhala

[7] Salib berasal dari kata “sulbi”, artinya menyiksa hingga menghancurkan tulang sulbi pada tiang salib

[8] Sebagian ulama berpendapat, wajah nabi Isa diserupakan dengan yang lain, sehingga nabi ‘Isa as. tidak pernah ditangkap atau disiksa. Sedangkan sebagian lagi berpendapat bahwa kematiannya yang diserupakan, sedangkan yang ditangkap dan disiksa adalah nabi ‘Isa as., wallahu a’lam

[9] Berasal dari kata “Christ”, dinisbatkan pada nabi ‘Isa as. yang mereka yakini sebagai juru selamat atau christus hingga kita kenal sekarang sebutan Jesus Christus atau ‘Isa Sang Juru Selamat.

[10] Filsafat merupakan proses berfikir. Sedangkan peradaban Islam bukanlah hasil dari pemikiran manusia. Ia adalah hasil “pemikiran” Rasulullah saw. di atas keniscayaan wahyu Allah swt.

[11] Pencampurbauran antara kebudayaan setempat dengan agama

[12] Khawarij muncul pada masa pemerintahan Khalifah ‘Ali ibn. Abi Thalib kw., sedangkan Syi’ah mulai menyimpang pasca syahidnya Imam al-Husaiyn di Karbala

Komentar»

1. aboezaid - Juni 17, 2008

ya akhi…ana mohon untuk berhati-hati dalam menyikapi perselisihan yang pernah terjadi antara mu’awiyyah dan Ali, dan apapun yang mereka lakukan ..radhiallahu anhuma…
lebih baik kita tawaquf terhadap perselisihan yang terjadi di antara sahabat, karena mereka pada hakikatnya adalah mujtahid..

2. hudzayfah - Juni 17, 2008

Syukran katsiiran ya akhi…
Insya Allah ana tidak bermaksud untuk menyalahkan satu di antara ‘Ali Kw ataupun Mu’awiyah ra.. Ana hanya ingin melihat sebuah perjalanan sejarah peradaban Islam yang memang di sana banyak terjadi pro-kontra. Dan satu hal yang ingin ditegaskan di sini adalah bahwa Kekhalifahan Islam itu telah runtuh sejak wafatnya Imam Husayn ra.. Bukan pada tahun 1924. Berlakunya hukum sekular Turki pada tahun 1924 bukanlah menggantikan kekhalifahan Islam tapi menggantikan Kesultanan Islam. Harap diperhatikan.
Di sini kita tentu saja tidak menginginkan pertentangan seperti itu terjadi (lagi). Maka, ana mencoba menguraikan hal tersebut dari sudut perjalanan sejarahnya. Agar kita bisa melihat perjalanan sejarah Kesultanan setelahnya yang semakin menjauh dari nilai-nilai Islam, dan itu disebabkan karena para pengusungnya yang memang telah bergeser dari nilai2 islam yang sebenarnya (tapi, bukan berarti ana menyalahkan Mu’awiyah ra., hanya saja memang secara kasat mata kita melihat ada sebuah kekeliruan yang berakibat besar di kemudian hari). Sehingga kita bisa belajar, kekeliruan sekecil apapun ternyata dapat berakibat besar, dan itu yang harus kita perhatikan sekarang dalam perjuangan kita membangun kembali peradaban Islam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: