jump to navigation

Tsabat Juni 3, 2008

Posted by hudzayfah in Coretan Kecil, Perjalanan Sang Waktu.
Tags:
trackback

Tiba-tiba seorang yang agak asing bagi sebagian masyarakat Makkah mendatangi Ka’bah dan berteriak dengan lantang. “Saksikanlah bahwa aku berkata tiada illah melainkan Allah dan aku membenarkan bahwa Muhammad adalah utusan Allah yang mulia.”

Spontan, hal tersebut membuat geram orang-orang musyrik Makkah dan dengan segera mendatangi orang tersebut lalu memukulinya bertubi-tubi. Namun, kejadian ini tidak membuat orang tersebut gentar ataupun berhenti bersyahadat di depan Ka’bah. Walaupun akhirnya ‘Ali ibn. Abi Thalib KW, akhirnya menasihatinya agar tidak melakukan hal itu lagi, dan akhirnya ia menuruti kata-kata ‘Ali KW.

Tahukan anda siapa orang tersebut..? Dia datang jauh dari Bani Ghiffar, kaum yang terkenal sebagai perampok dan barbar. Dia datang sendirian berjalan melintasi padang pasir yang ganas hanya untuk bertemu dengan Rasulullah tercinta. Dialah orang yang mengucapkan Salamun ‘Alaika yang kemudian menjadi sunnah bagi diin ini. Dialah Abu Dzarr Al-Ghiffary, yang setelah syahadatnya di hadapan Rasulullah saw., ia kembali menemui penuduk Ghiffar dan berhasil meng-Islamkan seluruh penduduk Ghiffar, mengubah akhlaqnya dan memuliakan kedudukan kaumnya. Walaupun keringat dan bahkan darah harus tercucur dari dalam tubuhnya.

Begitulah da’wah. Bukanlah sebuah perjuangan jika jalannya bertabur mawar dan permata..! Bukan sebuah pengorbanan jika di sana terdapat kesenangan dan harta..! Jalan da’wah adalah jalan panjang yang berliku. Ia dipenuhi duri dan aral yang menghadang. Hal tersebut adalah sunnatullah. Itu merupakan shira’ al-haqq wal-bathil.[1]

Bahkan Rasulullah saw. pun tidak lepas dari gunjingan manusia. Lebih dari itu, Rasulullah saw. bahkan dicaci dan dimaki hingga dijuluki sebagai rasul palsu, orang gila, penyihir, dan yang lainnya. Setiap perkataan yang terasa menjatuhkan itu harus disikapi secara positif, sehingga ia akan berubah menjadi kekuatan yang membangun keberanian dalam tubuh kita, bukan kemudian melahirkan sifat pengecut yang membuat kita lari dari arena perjuangan. Padahal, Rasulullah saw. tidak sekedar menerima celaan atau hinaan. Beliau saw. mendapatkan sikap yang represif hingga pemboikotan Bani Hasyim dan serangan fisik yang membuat Beliau saw. dan para pengikutnya saat itu harus rela meninggalkan harta, saudara, dan segala yang dimiliknya untuk pergi menuju Yatsrib.

Namun, itu semua tidak menyurutkan langkah Rasulullah saw., karena sesungguhnya seorang da’i atau mujahid adalah bukan mereka yang tidak pernah mendapatkan caci maki atau gunjingan musuh-musuh Allah swt.. Adalah bagaimana mereka bisa sekuat mungkin untuk tetap tsabat hingga akhir hayatnya. Sehingga pada saat ia meninggal, ia mengakhirinya dalam keadaan syahid. Allahu akbar..! Adapun setiap celaan ataupun perkataan yang menjatuhkan tidak lagi ia resapi dalam jiwa.

“setiap perkataan yang menjatuhkan

tak lagi ku dengar dengan sungguh

juga tutur kata yang mencela

tak lagi ku cerna dalam jiwa”[2]

Mengapa harus seperti itu..? Karena menjadi seorang da’i ataupun mujahid berarti meninggalkan keinginan yang berlebih terhadap dunia yang fana.

“aku bukanlah seorang yang mengerti

tentang kelihaian membaca hati

ku hanya pemimpi kecil yang berangan

tuk mengubah dunia”[3]

Wallahu a’lam


[1] Pertarungan antara yang haqq (benar) dengan yang bathil (jahat)

[2] PADI – Sang Penghibur

[3] PADI – Sang Penghibur

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: