jump to navigation

Teori dan Implementasi Juni 3, 2008

Posted by hudzayfah in Coretan Kecil, Perjalanan Sang Waktu.
Tags:
trackback

Sudah menjadi kebiasaan. Bahkan sejak pertama kali aku masuk kuliah pada tahun 2005. Di sela-sela kuliah atau saat sudah tidak ada lagi kelas, aku biasa berteduh di lingkungan Mushalla yang terletak di sudut Barat Fakultas. Lokasinya di tempat yang tinggi sehingga untuk mencapainya perlu melewati anak tangga yang cukup menguras tenaga. Satu alasan yang membuat para mahasiswa lebih memilih untuk menunda shalat-nya. Capek, katanya. Mendingan ntar aja sekalian pulang di kosan. Yang dalam praktiknya, alasan tinggal alasan dan shalat pun tertinggal dan akhirnya tidak dilaksanakan. Wallahu a’lam.

Namun, aku sedang tidak ingin membahas itu. Di samping mushalla terdapat sebuah ruangan yang bernama AMC (Al-Mushlih Centre) –nama Mushalla itu Al-Mushlih. Di tempat itulah segala perlengkapan dan arsip-arsip disimpan, sekaligus tubuh-tubuh lelah berbaring menikmati semilir angin sambil berdiskusi dan bercerita.

Sejak tahun 2005, selalu saja ada kata-kata yang sama, saat jama’ah yang melaksanakan shalat berjama’ah itu berwudhu, pasti selalu ada komentar, DKM (Al-Mushlih) niy nggak ada pengurusnya ya, kotor banget…

Di satu sisi, itu (mungkin) kesalahan para pengurus yang jarang membersihkan seluruh bagian Al-Mushlih dan lingkungannya. Namun, di sisi yang lain, mereka tidak pernah sadar bahwa ternyata pengurus DKM Al-Mushlih bukan superman yang setiap hari bisa membersihkan setiap bagian Al-Mushlih. Apalagi, aku tahu bahwa pengurus yang benar-benar aktif jumlahnya tidak lebih dari seluruh jari yang ada di tanganku sendiri.

Tahun-tahun berikutnya pun sama. Hingga Allah swt. mengamanahkan tugas pelayanan ummat (baca: ketua) DKM Al-Mushlih padaku. Pada saat itu, aku berusaha semampu tenaga untuk senantiasa memperhatikan segala aspek yang berhubungan dengan peralatan dan perlengkapan ibadah dan kesekretariatan. Namun, yang terjadi adalah bahwa barang-barang inventaris Al-Mushlih seringkali hilang entah kemana. Padahal, setiap harinya selalu ada tuntutan dari jama’ah untuk dilayani dengan sebaik-baiknya.

Tenaga terbatas. Begitu pun financial. Namun, aku tetap berusaha menjaga semua itu agar Al-Mushlih bisa melayani jama’ah dengan sebaik-baiknya.

Sayangnya, kondisi seperti ini tidak diiringi oleh semangat bersama dari seluruh pengurus. Bahkan, kata-kata yang beberapa tahun lalu diucapkan oleh jama’ah, hari itu diucapkan oleh pengurus sendiri. Aku pun sebenarnya bingung. Koq bisa ya dia bilang begini dan begitu. Misalnya dengan berkomentar, berantakan banget niy sekre, nggak ada yang rapiin apa..? atau kotor banget di sini, pada buang sampah sembarangan. Hanya komentar. Tanpa ada usaha sekecil apapun. Sekali lagi, tanpa ada usaha sekecil apapun, bahkan untuk membuang sampah yang sudah ada di depan mata dan jelas-jelas mengganggu pemandangan serta berpotensi untuk mengotori ruangan, tidak dilakukannya.

Padahal, harusnya mereka tahu dan mengerti seorang ketua bukan superman, dan segala kerja da’wah, baik itu kecil ataupun yang besar, merupakan kerja keras dari supertim, bukan superman.

Maka dari itu, hampir dalam setiap rapat, seringkali kutegaskan bahwa wallahi, sampah tidak akan pergi dan masuk dalam tong sampah saat kita berkomentar dan mencaci makinya. Sampah akan pergi dari hadapan kita saat kita berinisiatif membersihkannya. Jika kita tidak sanggup membersihkannya, maka jagalah kebersihan dengan tidak mengotorinya. Begitu pun kondisi sekre yang berantakan.

Apakah peralatan dan perlengkapan itu akan dengan sendirinya merapikan barisan dan mengindahkan dirinya dengan berbagai hiasan yang sedap dipandang mata, saat kita hanya mengulang-ulang komentar dan saling menyalahkan orang lain yang tidak melaksanakan piket pekanan, misalnya..?

Kadang, teori-teori yang sudah terlalu lama mengendap dalam fikiran menjadi usang saat kita tidak menggunakannya dalam langkah nyata. Itu baru masalah kebersihan dan kerapihan. Bagaimana dalam masalah yang jauh lebih besar..?

Saat kita hanya mampu berteori tanpa implementasi, maka apa jadinya agama ini..? Islam tidak tegak hanya dengan ilmu yang mengendap di otak, lalu usang dan membusuk, sehingga baunya pun terasa hingga ke setiap pelosok tempat di sekitar kita.

Benteng Khaibar tidak akan runtuh hanya dengan komentar-komentar pesimis para pengecut. Tapi, adalah kekuatan yang menghujam dalam hati dan teraplikasi dalam kenyataan ini. Itulah yang membuat ‘Ali Al-Haydar bin Abi Thalib sanggup membelah raksasa Yahudi, Marhab menjadi dua bagian dan merebut Khaibar ke tangan muslim.

Begitulah Islam berjaya. Bukan dengan diskusi-diskusi panjang tanpa implementasi, bukan dengan jidal-jidal tanpa amal, bukan dengan dialektika tanpa amal nyata. Islam adalah diinul-ilm wal-amal. Islam adalah agama ilmu dan amal. Berilmu sebelum beramal, dan langsung beramal saat telah mendapatkan ilmu tentang hal tersebut. Islam, sekali lagi, bukanlah agama teori tanpa implementasi. Bukan pula agama hafalan tanpa pemahaman yang mendalam. Maka, benarlah Imam asy-Syahid menyebut mereka yang menjadi muslim sejati adalah mereka yang menjadi qawmun ‘amaliyyun (kaum yang beramal). Mengapa? Karena kita tahu bahwa Yahudi dilaknat oleh Allah swt. karena mereka tidak pernah mengamalkan ilmu yang telah didapatkannya. Mereka biarkan ilmunya mengendap, bahkan dengan ilmu yang dimilikinya mereka menghalalkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah dan mengharamkan apa-apa yang dihalalkan oleh Allah. Sedangkan Nashara menjadi generasi bingung saat banyak beramal tanpa dasar ilmu yang benar tentangnya. Sehingga amal mereka diibaratkan seperti debu-debu yang ditiup angin. Maka, berdoalah ihdina ash-shiraat al-mustaqiim, shiraat al-ladziina an’amta ‘alayhim, ghayril maghdhu bi ‘alayhim wa la adh-dhaallin.

Wallahu a’lam

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: