jump to navigation

Keshalihan Sosial dan Petugas Keamanan Juni 3, 2008

Posted by hudzayfah in Coretan Kecil, Perjalanan Sang Waktu.
Tags:
trackback

Ust. Anis Matta pernah ditanya, jika (syari’at) Islam ditegakkan di Indonesia (saat ini), bagaimana nasib mall-mall besar yang notabene-nya identik dengan kemakshiyatan. Lalu, beliau menjawab bahwa mall-mall tersebut akan dirawat dengan penuh kesungguhan, jika perlu diperluas dan fasilitasnya ditingkatkan, serta segala kebutuhan yang dapat mendukung eksistensi mall tersebut dipenuhi. Namun, beliau menambahkan, harus ada satu syarat yang dipenuhi, yaitu diadakan polisi ‘amar ma’ruf nahyi munkar.

Sedangkan di tempat lain, seorang aktivis da’wah kampus (ADK) tengah terburu-buru mengendarai sepeda motor sederhananya menuju kampus tercinta di Jatinangor. Di tengah jalan, Allah swt. menakdirkan ia mengalami kecelakaan. Tanpa sengaja, ia bertubrukkan dengan sepeda motor lain yang juga terlihat sedang terburu-buru dari arah yang berlawanan. Apa yang terjadi kira-kira?

Bukan, tidak seperti yang dibayangkan. Orang-orang yang menyaksikan hal tersebut memang terlihat tegang. Mereka khawatir akan terjadi percekcokan atau bahkan perkelahian dari dua pengendara sepeda motor tersebut. Karena memang hal seperti itu yang biasa terjadi, padahal, semua itu adalah takdir Allah swt., bukan kesalahan satu pihak manapun. ADK tadi, yang terjatuh dan sedikit mengalami luka ringan langsung bergegas menemui pengendara motor yang juga terlihat mengalami luka ringan. Hal ini membuat orang-orang yang ada di sekitar tempat ini semakin tegang, karena bisa saja dia berbuat hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, ia (ADK itu) menjadi orang yang pertama kali menolong pengendara motor, memapahnya dan menanyakan keadaannya. Tentu saja, pengendara motor tadi pun terlihat tidak merasa marah atau kesal. Hal tersebut diketahui saat kedua pengendara motor itu melepas helm-nya sehingga raut wajah mereka terlihat jelas.

Bahkan, setelah keduanya menanyakan kabar masing-masing, mereka bukan saling menyalahkan, tapi bersalaman dan cipika-cipiki (cium pipi kanan – cium pipi kiri). Setelah diketahui, orang yang kedua merupakan seorang ustadz yang biasa memberikan taujih kepada aktivis da’wah di sela-sela aktivitasnya. Luar biasa..!

Apa hubungannya pernyataan Ust. Anis Matta dengan kisah aktivis da’wah di atas..? Sepintas memang tidak terlihat berhubungan. Namun, adalah keberadaan Polisi ‘amar ma’ruf nahyi munkar yang mengganggu fikiranku dari tadi. Mengapa..? Karena jika keshalihan individu telah menyebar ke setiap penjuru bumi, mereka tidak harus ada. Selain menghemat keuangan negara, keberadaan mereka hanya akan menambah daftar petugas keamanan yang memakan gaji buta di negeri ini. Toh, kenyataannya orang-orang (yang berusaha) shalih tidak pernah sedikit pun mengharapkan (atau membutuhkan) keberadaan petugas keamanan. Apapun namanya.

Kita lihat contoh dari kisah nyata di atas. Kedua orang tersebut (yang diketahui keduanya adalah orang yang terlibat dalam aktivitas da’wah), tidak membutuhkan keberadaaan petugas keamanan. Artinya, petugas keamanan adalah sebuah perangkat negara yang diadakan saat penduduknya belum memiliki keshalihan, baik individu ataupun sosial. Atau lebih tepatnya, mereka belum memliki kecenderungan untuk melakukan perbaikan diri ataupun perbaikan kolektif.

Permasalahannya bukan pada apakah orang tersebut sudah shalih atau belum. Karena setiap orang tidak bisa mengklaim dirinya sudah shalih, apalagi membandingkan keshalihan dirinya dengan orang lain, sehingga akhirnya dia hanya menganggap dirinya saja yang sudah shalih, sedangkan orang lain tidak.

Membentuk keshalihan sosial ternyata lebih utama dibandingkan menciptakan wadah (sistem) yang dapat mendukung aktivitas keshalihan sosial. Aku sepakat, bahwa terkadang, manusia harus dipaksa untuk melakukan sebuah kebaikan, contohnya adalah dengan diadakannya polisi ‘amar ma’ruf nahyi munkar. Namun, sampai kapan kondisi tersebut harus terus berlangsung..? Padahal, sekali lagi, bahwa petugas keamanan diadakan hanya untuk orang-orang yang belum memiliki kesadaran untuk men-shalih-kan dirinya secara individu atau kolektif. Bahkan, jika dipaksakan terus-menerus, yang ada adalah pemberontakkan, baik secara pemikiran, mental, ataupun fisik.

Kita lihat Afghanistan. Setelah terusirnya Sovyet dari tanah jihad tersebut, Taliban mengambilalih pemerintahan dan dengan cepat, sistem Islam ditegakkan di sana. Namun, apa yang terjadi..? Islam sama sekali tidak bisa menjadi rahmatan, bahkan bagi pemeluknya sendiri. Ummat Islam di sana yang masih belum terbiasa dengan nilai-nilai keshalihan sosial merasa terkekang dengan aturan-aturan yang diterapkan Taliban. Mereka belum siap, baik secara pemikiran ataupun mental. Hal ini akhirnya mempermudah Amerika meruntuhkan Taliban. Amerika melancarkan propaganda pemberontakkan terhadap nilai-nilai syari’at tersebut, dan benarlah, Taliban pun tumbang, bersama nilai-nilai keshalihan sosial yang dibawanya. (syari’at) Islam menjadi sesuatu yang menakutkan di sana.

Aku pun kembali berfikir. Lalu, bagaimana jika syari’at Islam atau kekhalifahan ditegakkan di tengah-tengah komunitas ummat yang masih belum siap menerima ini semua (baca: Indonesia)..? Berapa banyak mereka yang harus dicambuk karena kebiasaannya berjudi..? Berapa banyak para pemuda atau pemudi yang (mungkin) harus dicambuk atau bahkan dirajam karena perzinaan yang mereka lakukan..? Atau akan berapa banyak penduduk yang kehilangan lengan mereka karena harus mencuri untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka..?

Padahal, kehadiran syari’at Islam adalah untuk melindungi jiwa, akal, keturunan, harta, dan diin. Jika hal seperti disebutkan di atas yang terjadi, akan berapa banyak orang pula yang sakit hati dan melakukan makar dan bughat..?

Bukan aku membela para pelaku kejahatan. Tentu saja pelaku kejahatan harus dihukum seberat mungkin agar mereka jera. Yang jadi permasalahan di sini adalah saat kebaikan atau nilai-nilai kashalihan sosial itu diterapkan tanpa kesadaran dan pemahaman dari dalam tubuh ummat. Islam –kufikir– tidak akan menjadi rahmatan, bahkan bagi pemeluknya sendiri, apalagi bagi seluruh alam.

Maka dari itu, aku katakan bahwa membentuk keshalihan sosial ternyata lebih utama dibandingkan menciptakan wadah (sistem) yang dapat mendukung aktivitas keshalihan sosial. Artinya, membina keluarga, masyarakat, ataupun tataran struktural birokrasi dan pemerintahan menuju kashalihan sosial ternyata jauh lebih penting daripada berteriak lantang menegakkan syari’at Islam atau khilafah tanpa memikirkan kesadaran serta pemahaman dalam tubuh ummat. Walaupun aku sepakat bahwa propaganda terhadap tegaknya syari’at juga harus terus digalakkan. Namun, langkahnya jangan terhenti sampai di sana.

Dengan kesadaran dan pemahaman yang bertahap diberikan melalui pembinaan yang intens dan komprehensif, maka kita tidak perlu berlelah letih untuk melakukan aksi revolusioner untuk menegakkan syari’at Islam. Negara pun tidak perlu mengeluarkan anggaran untuk membayar gaji polisi ‘amar ma’ruf nahyi munkar. Karena secara sadar atau tidak, setiap masyarakat yang telah berada di dalam lingkaran keshalihan sosial, akan menjadi polisi (petugas keamanan) yang tidak mengharapkan gaji dari pemerintah. Mereka ber ‘amar ma’ruf nahyi munkar karena kewajiban.

Itulah mungkin gambaran negeri yang berkah dengan tegaknya syari’at Islam di tengah-tengah masyarakat karena keinginan masyarakat itu sendiri. Keshalihan sosial telah melahirkan banyak polisi ‘amar ma’ruf nahyi munkar yang tidak memiliki surat tugas dari negara, tapi mereka sadar bahwa Allah swt, telah memberikan SK dan surat tugas itu dalam al-Quran dan as-Sunnah. Benarlah ungkapan ‘ulama Salaf ash-Shalih, “Tegakkan Islam dalam dirimu, niscaya ia kan tegak di bumimu.”

Wallahu a’lam

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: