jump to navigation

Kesalahan Mencinta Juni 3, 2008

Posted by hudzayfah in Inilah Cinta.
Tags:
trackback

Saat seorang sanggup bertaruh serta mengorbankan untuk sesuatu yang ia cintai, itulah cinta sejati. Namun, siapakah sejatinya yang kita berikan loyalitas seperti itu..? Tentu saja, tiada lain dan tiada bukan, Dialah Sang Pemilik Cinta. Dari Dia lah semua berasal dan kepada-Nya pula kita kembali. Maka, tidak ada alasan bagi kita untuk mencintai sesuatu melebihi cinta kita kepada-Nya.

Walaupun demikian, bukan berarti kita tidak boleh ataupun dilarang untuk mencintai sesuatu selain diri-Nya. Karena pada hakikatnya, cinta adalah fithrah yang diberikan-Nya kepada setiap insan di dunia ini. Setiap manusia bernyawa pasti lah memiliki cinta. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak memiliki cinta. Yang berbeda hanyalah kadar kecintaan-Nya saja. Serta dasar ataupun alasan kita untuk mencinta.

Ketika kita telah mencintai-Nya dengan kadar kecintaan hingga tahap tatayyum, yang berarti ada konsekwensi penghambaan di sana, maka cinta kepada Rasul-Nya haruslah sampai pada kadar al-‘isyq, yaitu mesra dengan ajaran yang dibawanya, sehingga kita sanggup mengikutinya dengan sempurna, semampu tenaga kita, seoptimal mungkin. Dua tingkatan teratas dalam mencinta ini hanya diberikan kepada yang berhak saja. Karena kadar tatayyum merupakan konsekwensi logis dari kalimat laa ilaaha illallah, sedangkan kadar cinta al-‘isyq merupakan konsekwensi logis dari kalimat muhammad ar-rasuulullah.

Cinta-cinta yang ada selain untuk Allah dan Rasul-Nya tentu saja harus berada di bawah kecintaan kita terhadap Allah dan Rasul-Nya. Jika pun ada cinta untuk sesuatu kepada selain Allah dan Rasul-Nya, maka tentu saja harus didasarkan pada kecintaan kita terhadap Allah dan Rasul-Nya. Bahkan tidak sekedar kadarnya, namun cara kita mencinta pun harus sesuai dengan apa yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya. Sehingga kita benar-benar mencintai sesuatu itu sebagai upaya dari kita sendiri untuk menaati Allah dan Rasul-Nya, bukan mengadakan tandingan-tandingan baru bagi-Nya.

Walaupun demikian, tidak jarang di antara manusia yang mencintai sesuatu yang berada di bawah kecintaan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya, namun caranya tidak mereka tempuh sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Akhirnya, mereka terjebak pada kesalahan-kesalahan mencinta. Sama seperti tiga orang baduy yang melakukan kesalahan-kesalahan ibadah. Mereka mengatakan karena cinta namun Rasulullah menolaknya.

Orang yang pertama berkata bahwa ia sanggup berpuasa setiap hari, namun Rasulullah memberikan anjuran untuk berpuasa Senin-Kamis. Saat orang itu berkata bahwa ia masih sanggup untuk lebih dari itu, maka Rasulullah saw. menjawab, “Berpuasalah sehari dan berbukalah sehari. Sesungguhnya tidak ada yang lebih baik dari ini.”

Orang Baduy yang kedua dikabarkan sanggup shalat semalam suntuk, sedangkan seorang Baduy yang ketiga dikabarkan sanggup tidak menikah. Namun, ibadah mereka, yang mereka mengatakan itu semua karena cintanya terhadap Allah, tidak disukai oleh Rasulullah saw.. Bahkan Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah diriku, namun aku berpuasa, akupun berbuka, aku shalat, akupun tidur, dan akupun tidak membujang, tapi aku menikah, karena sesunngguhnya menikah adalah sunnahku. Maka, barangsiapa meninggalkan sunnahku, ia bukanlah bagian dari ummatku.”

Mereka mencinta, namun mereka salah merealisasikannya. Padahal, Rasulullah saw. adalah bayaan (penjelas) dari apa yang tertuang dalam al-Quran. Rasulullah merupakan tauladan sepanjang zaman, yang ketika seorang mencintai Allah namun tidak membuktikan cintanya sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw., maka cintanya tertolak. Ia bukanlah bagian dari ummat Muhammad. Mungkin karena ini pula al-Quran menggambarkan orang-orang Nashara sebagai generasi bingung, generasi yang terlalu mencintai ‘Isa al-Masih as. sehingga mereka menuhankannya, menjadikannya sebagai tandingan bagi Allah swt..

Hal itu pula yang dilakukan kaum Rafidhah. Mereka terlalu mencintai ‘Ali kw. sehingga mereka terjebak pada fanatisme dan kebencian terhadap shahabat-shahabat Rasulullah saw.. Bahkan mereka mengkafirkan Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman,. Begitu pun Khawarij. Mereka keluar dari sebuah firqah karena cintanya terhadap Allah swt., namun mereka terjebak pada pemahaman yang menyimpang sehingga ibadah mereka memang lebih banyak dari kita, dan mereka pun lebih sering membaca al-Quran, sayangnya al-Quran itu hanya sampai di kerongkongan mereka saja. Tidak sampai menyentuh hati mereka. Sedangkan Rabi’ah al-Adawiyah terjebak pada kecintaan yang tergila-gila pada Allah swt. sehingga merelakan diri untuk tidak menikah. Padahal, Rasulullah saw. pernah bersabda bahwa nikah adalah sunnahnya, barangsiapa tidak melaksanakan sunnahnya, maka ia bukanlah bagian dari ummatnya.

Wallahu a’lam.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: