jump to navigation

Hati dan Cinta Juni 3, 2008

Posted by hudzayfah in Inilah Cinta.
Tags:
trackback

Hati kadang memang sulit untuk dikendalikan. Maka, jagalah ia agar tetap bersih dan suci. Jangan sampai debu-debu menodainya lalu menutupi cerahnya. Jangan tunggu hatimu pekat saat kau ingin membersihkannya. Karena jika hatimu telah pekat, ia akan sulit menemukan cinta sejati. Saat ia tidak menemukan cinta sejati, maka ia tidak bisa membedakan antara cinta dengan nafsu. Dalam kondisi seperti ini, Allah menyebutnya sebagai hati yang sakit. Maka, jangan tunggu ia mati. Saat hatimu sakit, maka sembuhkanlah. “Hanya dengan dzikrullah, hatimu menjadi tentram..”[1]

Jadi obat hati yang paling utama adalah dzikrullah. Hati seperti tubuh yang juga membutuhkan gizi untuk membuatnya tetap sehat. Jika tubuh kita membutuhkan gizi berupa makanan yang halal dan baik. Maka, hati kita membutuhkan gizi berupa dzikrullah. Dengan dzikrullah hati akan menemukan kembali kesuciannya. Sehingga hati menjadi bersih, putihnya memancarkan cahaya yang akan membedakan antara cinta dengan nafsu. Sehingga hati akhirnya dapat menemukan cinta sejati. Jadi, dzikrullah adalah jalan untuk meraih cinta sejati. CintaNya Sang pemilik cinta yang tidak adakan pernah surut, apalagi padam.

Penghambaan tertinggi adalah dengan mencurahkan cinta sejati, sedangkan jalan menuju cinta sejati adalah dengan dzikrullah. Maka, benarlah bahwa Allah swt. menyebut mereka yang beriman sebagi orang-orang yang mengingat Allah pada waktu berdiri, duduk, dan berbaring.[2] Saat mereka mengingat-Nya bergejolaklah hati mereka, dan saat ayat-ayatNya dibacakan, maka bertambahlah cintanya kepada Allah swt..[3] Sedangkan orang-orang munafik, sang pengkhianat cinta, digambarkan sebagai orang-orang yang hatinya sakit, mereka sedikit menyebut namaNya. Tidak berpengaruh apakah dibacakan ayat-ayatNya atau tidak, mereka tetap dalam keadaan yang seperti itu. Apa yang ada di lisan berbeda dengan apa yang dirasakan di dalam hati.[4] Semoga kita tidak termasuk ke dalam orang-orang hatinya sakit.

Semoga pula kita tidak termasuk ke dalam orang-orang yang hatinya mati. Allah telah menutup penglihatan, pendengaran, dan perasaannya.[5] Na’udzubillah. Yaa muqallibal-qulb, tsabbit qulubana ‘ala ad-diinika. Yaa muqallibal-qulb, tsabbit qulubana ‘ala ath-tha’atika. Aamiin.


[1] QS. Ar-Ra’du, 13: 28

[2] Lihat QS. Aali ‘Imraan, 3:191

[3] Lihat QS. Al-Anfaal, 8:2

[4] Lihat QS. Al-Baqarah, 2: 8-20

[5] Lihat QS. Al-Baqarah, 2: 6-7

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: