jump to navigation

Egoisitas Persaudaraan Juni 3, 2008

Posted by hudzayfah in Coretan Kecil, Perjalanan Sang Waktu.
Tags:
trackback

Beberapa tahun yang lalu, aku begitu heran saat seorang aktivis da’wah justru enggan atau setidaknya meminimalisir untuk melakukan transaksi bisnis dengan aktivis da’wah yang lainnya. Apalagi, jika diketahui bahwa orang (yang lainnya itu) bukan seorang enterpreuner. Sehingga muncullah berbagai keluhan seperti, nggak nguntungin bisnis sama ikhwah mah. Padahal, menurutku, seharusnya seseorang akan lebih nyaman melakukan hubungan apapun dengan komunitasnya sendiri, termasuk hubungan bisnis, atau sekedar jual-beli biasa.

Selang beberapa tahun kemudian, barulah aku sadar mengapa mereka bersikap seperti itu. Saat aku terjun dalam dunia wirausaha, perdagangan, atau enterpreuner. Aku baru merasakan rasanya berniaga dengan orang-orang yang katanya saudara (makanya biasa disebut ikhwah; ikhwah = saudara) seperjuangan dalam Islam dan da’wah. Aku seringkali mendapati seorang al-Akh menawar harga sangat rendah dengan alasan ini kan harga ikhwah. Sedangkan al-Akh yang lainnya seringkali nunggak begitu lama sampai akhirnya aku (sudah hampir) melupakan hutang-hutang tersebut.

Aku tidak tahu, sebenarnya harus bersikap seperti apa menghadapi orang-orang seperti itu. Karena dalam kenyataannya justru memang lebih nyaman berniaga itu dengan orang-orang yang tidak satu komunitas, lebih jauh, yang tidak dikenal sama sekali. Kepercayaan yang terbangun tidak memiliki alasan apa-apa sehingga kejujuran pun diuji, namun, semuanya dalam rangka mencari win-win solution.

Maka dari itu, ada yang perlu dibenahi. Karena ternyata permasalahan seperti ini tidak hanya terjadi dalam kasus perniagaan saja. Termasuk di dalamnya adalah pinjam-meminjam barang yang (menurutku) tidak syar’i. Seperti tidak meminta izin terlebih dahulu kepada yang memilikinya atau tidak mengembalikan pinjaman sesuai dengan kesepakatan.

Perlu diketahui bahwa karakter setiap orang berbeda-beda. Ada orang yang memang terbiasa dengan pola hidup yang seperti itu (kurang rapi dan teratur) dan ada pula orang yang terbiasa dengan segala sesuatu yang teratur dan terencana dengan baik.

Siapapun dia, kita harus bisa memposisikan diri kita sebagai seorang yang berusaha untuk menjadi orang yang yang teratur dan rapi. Bukankah salah satu sifat ataupun kepribadian muslim adalah munadzhamun fii su’unihi..? Jika kita terdiam dalam ketidakaturan kita, maka akan banyak orang yang tersakiti, walaupun memang ia tidak akan menampakkan kesakithatiannya. Namun, kita yang seharusnya sadar bahwa jika kita mengharapkan seorang al-Akh yang berjualan menurunkan harganya atas nama Ikhwah, seharusnya kita malu. Mengapa..? Karena kita seharusnya meninggikan harga tersebut untuk membantu usahanya agar lebih lancar atas nama Ikhwah.

Begitu pun dalam kasus yang lainnya. Segala hal yang kita lakukan atas nama ikhwan namun hakikatnya adalah demi kepentingan diri kita sendiri, untuk memenuhi egoisitas diri kita, sebaiknya kita malu dan dengan segera meninggalkan perbuatan tersebut.

Sebagai seorang yang bersaudara, sudah selayaknya kita saling menghargai orang lain. Karena persaudaraan justru seharusnya adalah saling menebar manfaat bukan memanfaatkan. Hal (yang mungkin terasa) kecil seperti ini seringkali tidak terperhatikan dengan baik oleh kita. Namun, cobalah untuk memahami lagi hadits Rasulullah saw., dari Anas ra., beliau saw. bersabda Tidak beriman (seorang muslim) di antara kalian, hingga kalian mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri. Jadi, tidak ada lagi alasan untuk memanfaatkan saudara kita demi kepentingan pribadi kita. Juga tidak ada lagi egoisitas yang muncul atas nama ikhwah, karena sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat untuk orang lain. Wallahu a’lam…

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: