jump to navigation

Al-Ikhlash Juni 3, 2008

Posted by hudzayfah in Coretan Kecil, Perjalanan Sang Waktu.
Tags:
trackback

Imam Hasan al-Banna menempatkan Al-Ikhlash sebagai rukun kedua setelah Al-Fahmu. Jika beliau merinci penjelasan mengenai Al-Fahmu yang kemudian membingkainya dalam Ushul-‘Isyrin (dua puluh prinsip), maka beliau hanya menjabarkan kandungan Al-Ikhlash hanya dalam beberapa baris tulisan saja. Namun di samping itu semua, dalam beberapa baris itu terdapat kandungan yang luar biasa yang beliau ambil dari al-Quran dan as-Sunnah. Beliau mengutip sebuah ayat al-Quran yang beliau katakan harus menjiwai slogan Allah Ghayatuna dan Allahu Akbar wa Lillahil-Hamd.

Dalam al-Quran banyak disebutkan kata Al-Ikhlash dalam berbagai turunannya, namun yang pasti dari sekian banyak ayat tersebut, semuanya mengarahkan kita terhadap sebuah pemahaman bahwa segala aktivitas amal da’wah dan jihad kita tiada lain dan tiada bukan hanyalah untuk mengharapkan Syurga dan Ridha-Nya semata. Setiap aktivitas yang kita lakukan tidak berhak kita berikan untuk sekedar eksistensi pribadi atau golongan, keridhaan manusia atau keuntungan duniawi lainnya. Karena itu merupakan suatu bentuk syirik yang Allah pernah berfirman dalam hadits Qudsi bahwa setiap amalan yang tidak ditujukan untuk-Nya semata maka akan kembali kepada tujuannya semula.

Sifat Ikhlash bukan berarti pula tidak mengharapkan syurga seperti pemahaman para sufi yang telah menyimpang sehingga di antara mereka terjebak dalam sikap uthopis yang tidak pernah diajarkan oleh Sunnah Rasulullah SAW. Di antara kesesatan tersebut tampak dalam beberapa syair yang masyhur seperti1

Aku tak layak ke Syurga dan aku pun tak ingin ke Neraka

Jika seperti itu, ke mana ia akan pergi? Karena demi Allah, di akhirat hanya ada dua pilihan, tidak ada yang ketiga atau keempat.

Atau sebuah syair lain yang berbunyi2

Jika aku dapat pergi ke syurga, maka akan kubakar ia

Agar tiada lagi orang yang beribadah karena mengharapkan syurga-Nya

Dan jika aku dapat pergi ke neraka, maka akan kusiram apinya dengan air yang kubawa

Agar tiada lagi orang yang beribadah karena takut akan neraka-Nya

Demi Allah, Rasulullah SAW yang mulia mengajarkan sebuah do’a

“Yaa Allah sesungguhnya aku mengharapkan ridha-Mu dan syurga-Mu serta lindungilah aku agar dari murka-Mu dan neraka-Mu.”

Lalu, apakah kita akan mengikuti para penyair itu atau kita memilih jalan yang mulia yang telah diajarkan oleh Rasulullah tercinta?

Ikhlashnya seorang mujahid da’wah haruslah tampak dalam setiap aktivitasnya yang meliputi niat, perkataan, amal, da’wah, dan jihad. Tiada akan berarti sejuta aktivitas yang kita lakukan jika tidak ada niat yang Ikhlash dari dalam hati ini. Sebaliknya, amal yang dilakukan seorang mukhlish begitu berarti di hadapan-Nya walaupun sedikit. Karena pada hakikatnya amalan hati itu lebih utama dibandingkan amalan fisik. Sebagaimana sabda Rasulullah.

Niat seorang mu’min itu lebih baik daripada amalannya sedangkan amalan seorang munafiq itu lebih baik daripada niatnya

Ibadah yang utama itu ada di dalam hati. Maka bersihkanlah hati ini agar senantiasa memancarkan cahaya yang akan menerangi setiap jengkal langkah da’wah ini. Kita berlindung dari segala keburukan dan kemunafikan agar kelak kita tidak menjadi seorang yang mati di medan perang namun kemudian ia harus diseret ke dalam neraka karena ia berperang hanya mengharapkan agar disebut sebagai pemberani dan pahlawan, atau seorang yang senantiasa membagi-bagikan hartanya namun harus merasakan panasnya api neraka hanya karena ia mengharapkan agar orang melihatnya sebagai seorang yang dermawan. Begitupun dengan seorang yang senantiasa mempelajari al-Quran namun Allah menolaknya masuk syurga dan melemparkan ia ke dalam neraka hanya karena ia ingin dilihat sebagai seorang ‘alim dan qari’.3 Niat yang tidak lurus inilah yang kemudian harus kita luruskan kembali. Awali aktivitas kita dengan basmallah sebagai sebuah upaya pemurnian niat, iringi dengan istighfar, dan akhiri dengan hamdallah. Semoga Allah senantiasa melindungi…

Catatan Kaki

1 Sya’ir yang ucapkan oleh Abunawas

2 Sya’ir yang pernah ditulis oleh Rabi’ah Al-Adawiyah

3 Hadits Qudsi

Wallahu a’lam…

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: