jump to navigation

Al-Fahmu Juni 3, 2008

Posted by hudzayfah in Coretan Kecil, Perjalanan Sang Waktu.
Tags:
trackback

Yahudi merupakan karakter bangsa yang dikaruniai Allah dengan keluasan ilmu dan pengetahuannya. Namun, disebabkan kelebihannya itu pula Allah melaknatnya. Karena mereka tidak pernah mengamalkan ilmu serta pengetahuan yang dimilikinya tersebut sesuai dengan apa yang Allah perintahkan. Dengan ilmunya, justru mereka menjadi bangsa yang congkak, angkuh, dan merendahkan bangsa yang lain. Maka, Allah menyebut mereka sebagai kaum maghdhu bi ‘alaiyhim (yang dilaknat atasnya).

Sedangkan pada sisi lain, muncul generasi bingung – begitu Salim A. Fillah menyebutnya, yang banyak mengedepankan aspek amal, begitu humanist, dan menebar kebaikan di setiap tempat di mana mereka berada. Namun, Al-Quran mencatat bahwa amal mereka layaknya debu yang tertiup angin. Tidak ada nilainya sama sekali. Maka, Allah menyebut generasi bingung ini dengan sebutan kaum yang dhaallin (sesat). Merekalah Nashrani yang telah mengubah-ubah Injil dengan hawa nafsu mereka.

Sebuah keniscayaan bahwa amal haruslah dilandasi ilmu, dan ilmu haruslah berbuah amal. “Ilmu sebelum ‘amal”, Begitulah ucapan ‘ulama salaf ash-Shalih.

Lalu, mengapa Imam asy-Syahid mengganti rukun bai’at yang pertama, al-‘ilm menjadi al-fahm? Karena jika Allah menghendaki keselamatan bagi hamba-Nya, maka Dia jadikan seorang hamba itu faqiih fii ad-Dien (faham dalam ber-dien). Maka, ilmu adalah sarana untuk mencapainya, sedangkan Tujuannya sendiri adalah pemahaman (al-fahmu). Seorang yang ingin menyelamatkan diri, tidak hanya cukup dengan sebanyak-banyaknya amal atau sebanyak-banyaknya ilmu. Namun, kedua hal tersebut harus berjalan beriringan berdasar atas kefahaman yang benar. Inilah karakter seorang yang faqih. Ia berilmu, ia faham, ia beramal berdasarkan pemahamannya tersebut.

Dalam konteks amal-jama’i, yang dimaksud al-fahmu adalah kesatuan fikrah (ideologi) aktivis da’wah. Kesatuan pemahaman aktivis da’wah dalam “apa yang dibawa” serta “bagaimana membawakannya”. Dua hal inilah yang kemudian menjadi titik fokus Imam asy-Syahid dalam merumuskan arkan al-Bai’ah.

Apa yang dibawa oleh seorang da’i? Tentu saja Islam. Islam yang mana? Ini yang kemudian dipaparkan oleh Imam asy-Syahid dalam ushul ‘isyrin (dua puluh prinsip). Ushul ‘isyrin bertujuan untuk menyatukan fikrah serta laju da’wah para da’i agar tidak terjebak pada perbedaan-perbedaan yang bersifat furu’ (cabang) dan akhirnya menciptakan perpecahan. Islam yang kita pegang teguh serta kita sebarkan adalah Islam yang sebagaimana Rasulullah saw. dan para shahabat memahaminya. Pemahaman generasi shahabat itulah yang kemudian dirangkum dalam dua puluh prinsip.

Saat telah tercipta kesatuan fikrah, maka yang muncul kemudian adalah kekuatan untuk bekerjasama menegakkan kalimah ilahi hingga tidak ada lagi fitnah di muka bumi ini.

Selanjutnya adalah bagaimana membawakannya, atau lebih tepatnya menda’wahkan dan menyebarkan Islam yang kita yakini tersebut?

Maka dari itu, Imam asy-Syahid kemudian menjelaskannya dalam sembilan rukun bai’at setelah al-fahmu. Begitulah da’wah yang diusung oleh generasi shahabat. Sembilan arkan al-bai’ah setelah al-fahmu merupakan qa’idah baku bagi da’wah untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan oleh jama’ah. Sehingga akan sangat mustahil jika da’wah dapat meraih kemenangan saat para pengusungnya masih buta dalam memahami fiqh da’wah. Sebagaimana mungkin Islam akan terjaga kemurniannya saat para da’i dan da’iyah masih belum memahami Islam seperti Rasulullah dan para Shahabat memahaminya.

Wallahu a’lam

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: