jump to navigation

Ath-Thibb An-Nabawi (4) Januari 22, 2009

Posted by hudzayfah in Metode Pengobatan Nabi saw..
Tags: , ,
trackback

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Calibri; mso-font-alt:”Century Gothic”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:Arial;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

KESEHATAN DALAM ISLAM



v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}

st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Calibri; mso-font-alt:”Century Gothic”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:Arial;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText {mso-style-noshow:yes; mso-style-link:” Char Char1″; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; text-indent:.5in; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:Arial;} span.MsoFootnoteReference {mso-style-noshow:yes; vertical-align:super;} span.CharChar1 {mso-style-name:” Char Char1″; mso-style-noshow:yes; mso-style-locked:yes; mso-style-link:”Footnote Text”; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:Arial; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US; mso-bidi-language:AR-SA;} span.gen {mso-style-name:gen;} /* Page Definitions */ @page {mso-footnote-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/ADMINI~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/03/clip_header.htm”) fs; mso-footnote-continuation-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/ADMINI~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/03/clip_header.htm”) fcs; mso-endnote-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/ADMINI~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/03/clip_header.htm”) es; mso-endnote-continuation-separator:url(“file:///C:/DOCUME~1/ADMINI~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/03/clip_header.htm”) ecs;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:96827042; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-78746070 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:1.0in; text-indent:-.25in;} @list l1 {mso-list-id:1310868872; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1975650494 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;} ol {margin-bottom:0in;} ul {margin-bottom:0in;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

DEFINISI SEHAT

WHO menegaskan bahwa yang dimaksudkan dengan kondisi sehat adalah kesehatan jasmani dan ruhani di mana tidak ada sedikit pun gangguan, baik secara fisik, mental, ataupun emosional. Definisi ini menuai banyak kritik karena dinilai terlalu ideal. Jika yang dimaksudkan sehat adalah sebagaimana yang ditetapkan WHO, maka dapat dipastikan lebih dari 85 % penduduk bumi berada dalam kondisi tidak sehat.

Walaupun demikian, kita sebagai muslim tidak melihat adanya kesalahan dari definisi yang diberikan WHO, bahkan definisi tersebut belum dinilai ideal dalam pandangan syari’at. Karena sesungguhnya Islam memandang bahwa kesehatan yang sesungguhnya adalah sehat jasad, akal, dan ruh. Artinya mencakup fisik, emosi, mental, serta spiritual. Keempat elemen ini saling berhubungan satu sama lain dan sangat memengaruhi kinerja dari organ-organ tubuh manusia.

Sedangkan jika dispesifikan dalam elemen fisik saja, maka yang dimaksudkan dengan kesehatan fisik adalah kondisi dimana seluruh organ dan sistem metabolisme tubuh berjalan dengan benar, sesuai fungsinya masing-masing. Tidak ada kelemahan sistem ataupun peradangan organ. Kondisi ini persis dengan kondisi dari bayi yang baru dilahirkan dalam kondisi normal. Hanya saja, definisi ini pun dinilai terlalu ideal sehingga sulit tercapai. Namun, memang demikian definisi sehat fisik yang sesungguhnya. Sekarang bukan saatnya kita menurunkan grade dari definisi kesehatan. Adalah bagaimana kita berusaha untuk mencapai kondisi yang ideal itu. Hal ini akan sangat memungkinkan jika kita benar-benar serius menjalankannya.

KEUTAMAAN MENJAGA KESEHATAN

Ma’rifatul Insan (Mengenal Manusia); Konsep Tawazun (Keseimbangan)

Manusia adalah makhluq Allah yang terdiri dari ruh dan jasad yang dilengkapi dengan potensi dan kelebihan dibandingkan makhluq lainnya. Allah swt. berfirman,

95_4

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tiin, 95: 4)

Berbeda dengan makhluq Allah yang lain, manusia dibekali potensi yang hanya dimiliki oleh manusia saja. Potensi tersebut adalah ruh, akal dan jasadnya. Kita lihat bahwa baik binatang ataupun tumbuh-tumbuhan tidak memiliki ketiganya sekaligus. Begitupun dengan Jin atau Malaikat. Dalam ruh manusia terdapat naluri untuk cenderung kepada kebaikan ataupun keburukan. Fithrah (naluri alamiah) manusia senantiasa cenderung kepada kebaikan, sedangkan nafsu seringkali menyeretnya dalam keburukan. Hal ini berbeda dengan Malaikat yang tidak dibekali nafsu sama sekali, sedangkan Jin, walaupun memiliki ketiga potensi yang sama dengan manusia, namun dalam beberapa riwayat dijelaskan bahwa fisik mereka tidak sebaik –bahkan jauh sekali bila dibandingkan dengan– manusia.

Dengan ruh manusia dapat ber’azzam dan meyakini ayat-ayat kauliyah. Dengan akal manusia dapat berilmu, berfikir, dan memahami ayat-ayat kauniyah. Serta dengan jasad manusia dapat beramal, berda’wah, dan berjihad fii Sabiilillah. Kelebihan dan kemuliaan manusia ini disediakan oleh Allah untuk menjalankan amanah di muka bumi yaitu beribadah. Firman Allah swt. di dalam al-Quran,

51_56

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepadaKu.” (QS. Adz-Dzaariyaat, 51: 56)

Peranan manusia di muka bumi ini harus ditunjang dengan kesehatan tiga potensi tadi. Tanpa kesehatan dari ketiganya, maka tidak mungkin tercipta kombinasi kekuatan dari dalam diri manusia. Maka, tidak ada pilihan lain kecuali menjaga ketiganya untuk tetap sehat.

Islam sangat memperhatikan kesehatan dari ketiga aspek tersebut. Kesehatan spiritual diatur sangat tegas dalam Islam, firman Allah swt.,

2_222

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah, 2: 222)

91_1091_9

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan (hati)nya, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams, 91: 9-10)

Masih banyak lagi ayat-ayat lainnya di dalam al-Quran yang menjelaskan keutamaan menjaga kesehatan hati (spiritual), serta bagaimana al-Quran menyuruh manusia untuk menjauhi sifat-sifat tercela yang dapat mengotori hati, seperti sifat sombong, ‘ujub, su’udzhan, berputus asa, suka menggunjing, dan lainnya. Hal tersebut dikarenakan bahwa penyakit hati inilah yang sangat berperan dalam menentukan kesehatan mental, emosional, dan fisikal manusia.

Pentingnya menjaga kesehatan akal juga dijelaskan dalam al-Quran sebagai bagian yang integral dari ketentuan syari’at. Betapa banyak ayat di dalam al-Quran yang menggunakan kata “li ulil albaab” (bagi orang-orang yang berakal) atau “li qawmi yatafakkaruun” (bagi kaum yang berfikir). Hal ini menunjukkan pada kita dengan jelas bahwa sungguh keutamaan bagi mereka yang mempergunakan akalnya untuk berfikir dan memikirkan kebesaran Al-Khaliq (Sang Pencipta) untuk kemudian memahami bahasa yang diberikan oleh alam (ayat-ayat kauniyah). Allah swt. bahkan memberikan kedudukan yang lebih tinggi bagi orang-orang yang berilmu. Allah swt. berfirman dalam al-Quran,

2_247

“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah Maha Luas pemberianNya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah, 2: 247)

39_9

“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar, 39: 9)

58_11

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujaadilah, 58: 11)

Tidak sampai di situ saja, Islam juga berusaha untuk melindungi dan memelihara fisik dari penyakit dan menjelaskan betapa pentingnya menjaga kesehatan fisik. Rasulullah saw. bahkan dalam sebuah haditsnya dengan tegas menyebutkan bahwa seorang mu’min yang kuat jauh lebih baik daripada mu’min yang lemah. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Mu’min yang kuat lebih baik dan lebih disukai di sisi Allah swt. dibandingkan mu’min yang lemah, dari segala sisi.” (HR. Muslim).

Begitu pun dalam beberapa kisah di dalam al-Quran. Kita akan dapatkan bahwa sejak dahulu kala Allah swt. lebih mengutamakan hamba-hambaNya yang tidak hanya memiliki kedekatan denganNya secara spiritual namun juga memilih di antara mereka yang kuat, yaitu sehat secara mental dan spiritual, sekaligus sehat secara fisik. Kekuatan fisik juga yang membuat Allah swt. memilih seseorang untuk menjadi pemimpin bagi kaumnya atau memilih seseorang untuk kemudian diangkat menjadi Nabi dan RasulNya.

Thalut Menjadi Raja Bagi Bani Israa’il

Satu kisah yang tidak mungkin terpisahkan saat kita menulis sejarah Nabi Dawud as. adalah kisah seorang Raja yang gagah perkasa bernama Thalut. Thalut merupakan seorang pemuka di kalangan Bani Israa’il yang memimpin peperangan melawan Jalut. Ialah yang membawa Bani Israel kembali berjaya setelah terjadinya eksodus pasca wafatnya Nabi Musa as..

Pada saat Bani Israa’il kehilangan seorang pemimpin sejak wafatnya Nabi Musa as., praktis tidak ada lagi seorangpun yang sanggup memimpin Bani Israa’il. Nabi Harun as. yang diharapkan menjadi pengganti Nabi Musa as. wafat terlebih dahulu mendahului Nabi Musa as.. Sedangkan Nabi Yoshua as. (Yusa ibn Nun) yang kemudian memimpin Bani Israa’il setelah wafatnya Musa as. tidak memiliki karakter kepemimpinan yang keras sebagaimana Nabi Musa as.. Watak Bani Israel yang keras memang hanya cocok dipimpin oleh orang-orang yang keras serta memiliki kekuatan fisik di atas rata-rata.

Dalam kondisi kehilangan pemimpin seperti itulah, terutama setelah wafatnya Yoshua as., Allah swt. mengutus Nabi Dawud as. untuk menyampaikan kabar gembira, yaitu akan adanya seorang yang memimpin dan menjadi raja bagi Bani Israa’il. Dengan kepemimpinannya inilah Bani Israa’il akan memperoleh kejayaannya kembali. Allah swt. berfirman,

2_247

“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendakiNya-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberianNya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah, 2: 247)

Perhatikan kalimat yang dicetak tebal. Ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa (‘ilm wa al-jism). Ilmu yang luas memberikan pengertian kepada kita bahwa ia adalah seorang yang cerdas, sekaligus sehat dalam hal mental, karena kecerdasan akal sangat erat kaitannya dengan kondisi mental seseorang. Sedangkan jism yang dartikan sebagai tubuh yang perkasa menggambarkan betapa untuk menjadikan seorang sebagai raja dibutuhkan kualitas kekuatan, khususnya kekuatan fisiknya. Dari sini jelaslah bahwa Allah swt. tidak semata-mata menjadikan seorang sebagai hamba pilihan itu dari kalangan mereka yang dekat denganNya dari sisi ruhiyah saja, namun juga harus diiringi dengan kekuatan fisik dan mental.

Benarlah, walaupun pada awalnya Bani Israa’il ragu bahkan menolak kepemimpinan Thalut, justru dengan kepemimpinan Thalut, orang-orang beriman yang bersamanya memperoleh kemenangan dalam sebuah peperangan melawan pasukan Jalut. Kemenangan terasa sangat sempurna saat Nabi Dawud as. membunuh raksasa Jalut dengan duel satu melawan satu, serta menjadikan Dawud as. sebagai raja Bani Israa’il setelah meninggalnya Thalut. Allah swt. mengabadikan kisah ini dalam al-Quran.

“Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Dawud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Dawud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendakiNya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian ummat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (QS. Al-Baqarah, 2: 251)

Musa as. Menjadi Menantu Syu’ayb[1]

Kisah Nabi Musa as. ini diawali dari kepergian Nabi Musa as. dari Mesir ke luar hingga singgah di Madyan. Ia mengembara setelah dalam sebuah kasus memukul seorang yang menyakiti kaumnya hingga meninggal. Allah mengisahkannya di dalam al-Quran,

28_15

“Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israa’il) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaithan sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).” (QS. Al-Qashash, 28: 15)

Setelah peristiwa ini, datanglah seorang yang memberikan kabar bahwa pasukan Fir’aun mencari Musa as. untuk membunuhnya.

28_20

“Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas seraya berkata: “Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini) sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu.” (QS. Al-Qashash, 28: 20)

Mendengar berita ini, “Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang dzhalim itu”.[2]

Dalam perjalanannya, Nabi Musa as. pergi dari Memphis (Mesir) hingga Madyan. Sesampainya di Madyan, ia kembali berdoa: “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar”.[3] Kemudian Nabi Musa as. tiba di sumber air kota Madyan.

28_23

“Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya.” (QS. Al-Qashash, 28: 23).

Mendengar jawaban dari wanita tadi, “Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”.[4]

Pada saat Nabi Musa as. sedang berteduh, “… datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.” Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’ayb) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’ayb berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang dzhalim itu”.[5]

Kemudian, “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.[6]

Perhatikan frasa yang dicetak tebal di atas. Memang begitulah kehendak syari’at. Bukan tanpa alasan saat Syu’ayb menerima Musa as. sebagai menantunya. Alasan yang dikemukakan puterinya tersebut sudah menjadi satu timbangan yang dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt. kelak. Sehingga saat Syu’ayb mendengar ucapan puterinya itu (Jursyum), Berkatalah dia (Syu’ayb): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”.[7]

Bagi seorang yang shalih (Syu’ayb), dalam mengambil keputusan tentu saja harus didasari pertimbangan syari’at yang matang. Ia menilai bahwa orang yang kuat dan dapat dipercaya memang salah satu keutamaan yang harus dimiliki oleh seorang mu’min sehingga ia menyetujui pernikahan antara Nabi Musa as. dengan Jursyum, puterinya.

Ayyub as.; Kekuatan Do’a yang Menyembuhkan

Kita pasti sudah sangat sering mendengar kisah ini. Nabi Ayyub as. merupakan seorang nabi yang sangat tabah dan sabar. Sakitnya yang parah tidak menyurutkan keimanannya, bahkan ia menjadi semakin beriman terhadap Tuhannya. Namun, dikisahkan dalam al-Quran bahwa Nabi Ayyub as. memohon kesembuhan dari sakitnya. Firman Allah,

21_8321_84

“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (QS. Al-Anbiyaa’, 21: 83-84)

Sesungguhnya, permohonan Nabi Ayyub as. kepada Allah swt. bukanlah sebuah gambaran bahwa ia merupakan orang yang gagal bertawakkal. Ia pun bukan orang yang tidak tabah terhadap penyakitnya. Namun, ia memohon kesembuhan dari sakitnya untuk menyempurnakan kualitas ibadahnya, yang selama beliau as. sakit tidak sempurna karena segala keterbatasan dalam dirinya. Maka, Allah swt. mengabulkan do’anya dan menyembuhkan sakitnya, bahkan Allah swt. memberikan rahmat yang berlipat ganda pada beliau as. sebagai hadiah atas lulusnya Nabi Ayyub as. dari ujian yang diberikan oleh Allah swt..

Hal ini dikarenakan seorang mu’min yang kuat dapat lebih sempurna dalam beribadah kepada Allah swt. dibandingkan seorang mu’min yang lemah. Mu’min yang kuat dapat dengan rutin melaksanakan shalat berjama’ah di masjid, shiyaam sunnah, berhajji, bahkan jihad qital fii Sabiilillah. Cobalah bandingkan dengan seorang mu’min yang lemah dan sering sakit-sakitan. Jangankan untuk pergi ke medan jihad, untuk shalat dengan berdiri saja mungkin kesulitan. Maka, tidak layak bagi seorang mu’min untuk tidak memperhatikan hak tubuhnya, karena tubuh kita pun memiliki hak untuk diberi gizi dan nutrisi. Ingatlah lima perkara sebelum lima perkara, dan salah satunya adalah kesehatan sebelum datangnya sakit.

Begitu banyak orang yang dilalaikan dari kenikmatan kesehatan ini. Rasulullah saw. bersabda, “Dua nikmat yang banyak orang tertipu oleh keduanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari). Nikmat Allah swt. haruslah kita syukuri, dan cara terbaik untuk mensyukuri nikmatNya adalah dengan menjaganya sekaligus mengoptimalkan potensi yang ada pada kenikmatan tersebut. Karena tubuh kita memiliki hak yang harus kita penuhi. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak yang harus engkau penuhi.” (HR. Bukhari, Ahmad, dan Nasa’i). Seorang mu’min yang lalai dalam memberikan perhatian kepada fisiknya berarti telah merusak dirinya sendiri. Kebiasaan begadang, merokok, minum kopi atau teh secara berlebihan, menyantap makanan instan yang tidak bergizi (tidak thayyiban) serta melupakan olahraga merupakan akhlaq yang tercela karena dapat merusak tubuh. Padahal, Allah swt. melarang kita untuk menyakiti diri kita sendiri.

Dengan demikian, tidak ada alasan lagi bagi kita untuk melupakan hak tubuh kita. Kita tidak boleh mendzhalimi diri kita sendiri. Saat kita aktif dalam berbagai kegiatan dan aktivitas yang memberikan manfaat untuk orang lain (berda’wah), tidak bisa dijadikan alasan bahwa kita dapat melupakan diri kita sendiri. Ingatlah bahwa tubuhmu pun memiliki hak yang sama untuk kau jaga. Olahraga yang teratur dengan dibarengi mengonsumsi makanan yang bergizi akan sangat membantu tubuh menjaga keseimbangan dan kesehatan. Bukan seorang mu’min yang sempurna kalau ia masih lalai dalam menjaga kesehatan fisiknya, karena, sekali lagi, bahwa tidak sempurna ibadah kita tanpa fisik yang sehat.

Kesiapan Fisik Muhammad saw.

Dalam perjalanan hidupnya, memang jarang sekali ahli sejarah yang menceritakan kehidupan beliau saw. sebelum menjadi seorang Rasul kecuali beberapa baris tulisan saja. Hal ini dapat dimaklumi karena memang sedikitnya riwayat yang bercerita tentang kehidupan Rasulullah saw.. Namun, dari kisah yang hanya beberapa bars saja tersebut, kita bisa melihat bagaimana Rasulullah Muhammad saw. ditempa dan dipersiapkan oleh Allah swt., secara fisik dan mental untuk menjadi pemimpin bangsa Arab, bahkan dunia.

Kita melihat bahwa Muhammad kecil tidak pernah melihat ayahnya karena Allah swt. memanggil ayahnya sejak beliau saw. di dalam kandungan. Kemudian, ibunya menyusul ayahnya pada saat beliau saw. berusia enam tahun. Maka, beliau diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Namun, beberapa tahun kemudian kakeknya juga wafat dan beliau saw. diasuh, dididik, dan dibimbing oleh Abu Thalib, salah seorang pamannya.

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Abu Thalib merupakan anggota keluarga yang tidak memiliki kekayaan sebagaimana Bani Abdul Muthalib lainnya. Maka, untuk mencukupi kehidupannya, Abu Thalib mengajarkan Muhammad kecil untuk mengembala domba, berdagang, dan menjadi pengantar barang dagangan.

Dari kisah ini dapat kita bayangkan, sebagai ghulam (seorang anak kecil yang belum mencapai usia baligh dalam istilah Arab dikenal dengan sebutan ghulam), Muhammad kecil sudah terlatih untuk berada di bawah terik matahari, di tengah-tengah padang pasir untuk mengembala dombanya. Ini merupakan persiapan fisik yang sengaja dianugerahkan Allah swt. kepada Muhammad kecil agar pada saat dewasa nanti beliau saw. bisa dapat dengan tangguh menaklukan panasnya padang pasir dalam da’wah dan jihadnya.

Menginjak fase syabaab (usia baligh), Muhammad muda dikenalkan dunia perdagangan lintas negeri oleh pamannya. Hal ini juga melatih kekuatan fisik beliau. Perjalanan lintas negeri Arab bukanlah sebuah perkara yang ringan. Perjalanan di atas padang pasir berpeluang mendapatkan banyak ancaman seperti badai pasir, kekurangan air minum, atau bahkan serangan dari para perampok.

Pengalaman demi pengalaman itulah yang kemudian menjadikan seorang Muhammad saw. dapat dengan kuat menjalankan tugas kenabiannya. Tanpa binaan mental dan fisik seperti itu, tidak mungkin beliau saw. sanggup menjadi orang yang kuat di kalangan bangsa Arab pada saat itu.

Ini yang harus kita contoh sekarang. Bahwa untuk menjadi pemimpin dibutuhkan kekuatan fisik yang memadi disertai bekal mental, emosional, dan spiritual yang juga sudah seharusnya sehat wal ‘afiyat. Maka, kita pun pernah mendengar kisah tentang pertarungan seorang Muhammad Rasulullah saw. dengan seorang ahli gulat di sebuah pasar yang dimenangkan oleh Rasulullah saw.. Begitu pun kisah ‘Umar ibn Khattab saat mendatangi halaqah al-Quran para shahabat untuk membunuh Nabi Muhammad saw.. Namun, kenyataan berkata lain, bukannya Nabi Muhammad yang terbunuh, ‘Umar pada saat itu justru dibanting oleh Rasulullah saw. dan kemudian masuk Islam tanpa paksaan.

Begitu banyak kisah-kisah lainnya yang menggambarkan betapa pentingnya kesehatan fisik dalam Islam. Salah satunya adalah kisah Thariq ibn Ziyad yang menaklukan Andalusia dengan menyebrangi sebuah gunung menggunakan perahu demi kejayaan Islam, hingga manusia mengabadikan namanya menjadi nama bagi gunung yang ditaklukannya (Jabal Thariq). Termasuk pula kisah para ‘ulama salaf ash-shalih yang senantiasa mengembara lintas negeri bahkan benua untuk menuntut ilmu dan menyebarkan Islam. Tanpa fisik yang kuat, tidak mungkin para ‘ulama dapat menuntut ilmu hingga keliling Arab, Eropa dan Afrika bagian utara. Sehingga kita pun di Asia Tenggara sanggup menikmati keindahan Islam karena kegigihan para pejuangnya.

Begitu pentingnya kesehatan dalam Islam, sampai-sampai Rasulullah saw., bersabda, “Allah mencintai (agar) kesehatan selalu menyertai darimu.” Beliau saw. juga bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang mendapati pagi hari dalam keadaan sehat wal ‘afiyat pada tubuhnya, aman dalam perjalanannya, dengan memiliki makanan untuk hari yang akan dilaluinya, maka seakan-akan dunia ini menjadi miliknya.” (HR. Turmudzi dan Ibn Majah). Bahkan, beliau saw. memerintahkan pamannya, ‘Abbas ra. untuk meminta kesehatan di dunia dan akhirat. Sabdanya, “Wahai ‘Abbas, mintalah kepada Allah ta’ala kesehatan di dunia dan akhirat.” (HR. al-Bazzar dan Turmudzi).

Saat seorang Badwi datang menemui Rasulullah saw., ia bertanya, “Apakah yang sebaiknya aku mohonkan kepada Allah setelah shalat?” beliau saw. menjawab, “Mintalah kesehatan.” Dalam riwayat yang lain, beliau saw. bersabda, “Mintalah ampunan dan kesehatan, karena tidaklah seseorang diberi sesuatu setelah keyakinan yang lebih baik daripada kesehatan.” (HR. Ahmad, Turmudzi, dan Nasa’i). Masih dari Rasulullah saw., beliau bersabda (dengan sanad gharib), “Tidaklah Allah dimintai sesuatu yang lebih Dia sukai melebihi kesehatan.” (HR. Turmudzi dan Hakim).

Maka dari itu, sudah selayaknya kita bersyukur terhadap nikmat kesehatan yang diberikan Allah swt., bukan justru lalai di dalamnya. Karena, sebagian ‘ulama salaf berdoa,[8] “Berapa banyak nikmat yang diam di bawah keringat. Ya Allah, anugerahkan kesehatan kepada kami di dunia dan akhirat.” Sehingga tidak salah jika ada orang yang berkata bahwa kesehatan adalah nikmat yang dilupakan. Bahkan sudah selayaknya kita mohonkan kesehatan sebagaimana yang diucapkan oleh Rasulullah saw., “Yaa Allah, sehatkanlah aku dalam badanku, sehatkanlah dalam pendengaranku, dan sehatkanlah dalam penglihatanku.” (HR. Abu Dawud). Juga sebagaimana sabdanya,

“Yaa Allah sesungguhnya aku minta maaf dan kesehatan kepadamu.” (HR. Abu Dawud)

“Yaa Allah berikanlah kesehatan kepadaku seperti orang yang engkau beri kesehatan.” (HR. Ibn Majah, Abu Dawud, Nasa`i, Turmudzi).

Islam juga menganjurkan ummatnya untuk berobat ketika sakit kepada dokter (thabib) yang ahli. Hal ini sebagaimana ucapan Rasulullah saw. kepada Sa’d ibn Abi Waqqash ketika ia menderita sakit pada livernya (hepatitis). Beliau saw. bersabda, “Sesungguhnya engkau terkena penyakit hepatitis, maka datangkanlah al-Harits ibn Kaldah, saudara Bani Tsaqif karena ia sesungguhnya seorang dokter yang pandai mengobati” (HR. Abu Dawud).

BAGAIMANA RASULULLAH MENJAGA KESEHATAN

Prinsip Dasar

Rasulullah saw. merupakan tauladan kita dalam setiap sendi kehidupan, termasuk di dalamnya dalam hal menjaga kesehatan. Allah swt. berfirman,

33_21

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzaab, 33: 21)

Maka dari itu, bagaimana seharusnya kita menjaga kesehatan pun sudah seharusnya mengacu pada bagaimana Rasulullah saw. melakukannya. Saat ini banyak orang yang mencukupkan menjaga kesehatan dengan seadanya, bahkan mereka menganggap bahwa tubuh mereka sudah sehat dan lepas dari belenggu-belenggu sakit atau peradangan organ. Mereka hanya mengingat sehat pada waktu sakit yang cukup parah menimpanya. Sebagian orang lain banyak melakukan penjagaan kesehatan dengan mengonsumsi obat-obatan sebagai suplemen dengan harapan dapat menjaga stabilitas tubuhnya. Padahal, kesehatan yang sebenarnya akan diperoleh dari kebiasaan hidup (life style) kita yang benar. Pola hidup yang baik akan menunjang kesehatan kita, walaupun kita tidak menambahkan suplemen ke dalam tubuh kita. Sedangkan pola hidup yang buruk, kendati pun banyak ditunjang oleh suplemen dan obat-obatan, tidak akan memperbaiki kondisi kesehatan. Apalagi jika suplemen ataupun obat-obatan yang digunakannya mengandung bahan-bahan kimia sintetis yang tidak alamiah atau bahan-bahan yang syubhat dari sisi syari’at. Maka, bagaimana mungkin kesehatan yang hakiki akan menaungi kehidupan kita..? Sungguh, mempelajari pengobatan Nabi saw. akan sangat percuma jika kita tidak mengawalinya dari perubahan pola hidup ke arah yang lebih baik, sebagaimana yang Rasulullah saw. contohkan.

Dalam konsep kesehatan Ibn Sina, tubuh kita terdiri dari empat unsur yang sangat memengaruhi kondisi tubuh kita. Saat salah satu unsurnya tidak seimbang, maka hal tersebut akan sangat memengaruhi proses metabolisme tubuh, sehingga segala proses metabolisme yang ada tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kondisi dimana metabolisme tidak berjalan sebagaimana mestinya disebut sakit. Namun, kita seringkali tidak menyadari bahwa diri kita sedang sakit.

Unsur-unsur yang dimaksud adalah unsur air, angin, tanah, dan api. Keempat unsur ini saling berlawanan di satu sisi dan bisa berkombinasi di sisi yang lain. Keempat unsur tersebut dapat memberikan efek panas, sejuk, dingin, atau basah pada tubuh. Saat tidak terjadi keseimbangan di antara keempat unsur ini, maka beberapa organ di dalam tubuh akan mengalami apa yang disebut sebagai disfungsi organ. Yaitu tidak berjalannya fungsi suatu organ sebagaimana fungsi yang sebenarnya. Jika hal ini dibiarkan, maka akan terjadi peradangan pada organ yang dimaksud hingga akhirnya menyebabkan fase kerusakan organ yang disebut kronis, bahkan degenerative, di mana organ dapat mencapai sebuah titik yang menyebabkan ia tidak berfungsi sama sekali.

Imam Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah memiliki konsep lain, namun hampir sama dengan apa yang disampaikan oleh Ibn Sina. Dalam kitab ath-Thib an-Nabawi, ia rahimahullah menyebutkan bahwa kesehatan dan kebugaran dapat dicapai saat sifat sejuk dalam tubuh dapat menandingi sifat panasnya. Sifat sejuk merupakan pelembab tubuh yang menjadi materi dasar bagi tubuh makhluq hidup (karena sebagian besar tubuh terdiri dari air). Sementara sifat panas berfungsi mematangkan materi-materi dasar tersebut dan mengusir sisa-sisa metabolisme yang tidak berguna, lalu menstabilkannya. Hanya saja, saat prosesnya tidak berjalan dengan baik (salah satu sifat berlebih atau kurang), justru akan merusak badan.

Jika sifat sejuk yang menjadi materi dasar di dalam tubuh tidak sanggup dibakar dengan baik, maka akan banyak sekali nutrisi yang terbuang dengan percuma, karena sistem pencernaan tidak berjalan dengan benar. Sehingga feces pun akan melekat pada dinding-dinding usus. Dari sinilah segala penyakit kronis bermula. Sedangkan saat sifat panas terlalu banyak akan mengakibatkan tubuh terbakar, kering, dan rusak. Kedua sifat ini harus saling melengkapi agar tubuh bisa berdiri tegak dan segala macam proses metabolisme dapat berjalan sesuai dengan fungsinya masing-masing.

Masing-masing sifat tadi merupakan materi dasar untuk yang lainnya. Jika salah satu sifat tadi terlalu mendominasi tubuh secara berlebihan, akan mengakibatkan berbagai macam penyakit sesuai dengan jenis materi yang dihasilkan dari kontaminasi tersebut, juga tergantung pada sistem imunitas tubuh. Karena pada dasarnya, seberapa berat pun bakteri dan pathogen yang menyerang tubuh, saat sistem imunitas tubuh tetap terjaga dengan baik, maka tubuh akan berusaha untuk melawannya sendiri, sekaligus memperbaiki kondisi tersebut dengan kemampuan imunitas yang dimilikinya.

Unsur-unsur yang telah disebutkan di atas berasal dari segala sesuatu yang kita konsumsi, baik berupa makanan, minuman, ataupun suplemen lainnya. Artinya, ketidakseimbangan sifat yang terjadi di dalam tubuh pun merupakan akibat negative dari apa yang selama ini kita konsumsi dan kita lakukan. Pola makan dan pola hidup yang sehat dalam menjaga tubuh dari ketidakseimbangan unsur tadi telah dilakukan dan dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan menjadi prinsip dasar bagi pembahasan kita selanjutnya. Prinsip dasar tersebut adalah sebagaimana yang disebutkan dr. Hamad Hasan Raqith dalam kitab ar-Ri’ayah ash-Shihiyyah wa ar-Riyadhiyyah[9] sebagai berikut.

1. Islam memperhatikan upaya-upaya menjaga kesehatan secara preventif, bahkan hal ini dipandang lebih utama bagi keselamatan manusia, misalnya dengan mempersiapkan makanan yang higienis; halalan thayyiban, menjauhi sesuatu yang menyebabkan penyakit pada organ pencernaan, serta menghindari makan terlalu kenyang.

2. Anjuran untuk segera mengobati penyakit hati, seperti stress, sedih, suka marah, emosional (termasuk di dalamnya sifat-sifat tercela seperti dengki, hasad, ‘ujub, sombong, dll. –peny.) yang dalam istilah modern dikenal dengan istilah menjaga kesehatan mental (ash-shihhatu an-nafsiyyah). Karena penyakit mental seperti ini sangat besar pengaruhnya dengan penyakit fisik yang sekarang dikenal dengan istilah psikomatis.

3. Dianjurkan untuk membersihkan gigi dan mulut dengan bersiwak.

4. Menjaga kebersihan lingkungan dan memeliharanya dari berbagai penyakit, sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Bersihkanlah halaman kalian dan janganlah menyerupai orang Yahudi.” (HR. Bukhari)

5. Perhatian Islam terhadap kesehatan individu, sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Maka sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak dan kedua matamu juga mempunyai hak yang harus kamu penuhi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Perhatian Islam supaya menjaga kesehatan dan menjauhi berbagai macam penyakit, karena Rasulullah saw. bersabda, “Larilah dari orang-orang yang terkena penyakit lepra, seperti kamu lari dari harimau.” (HR. Bukhari)

7. Perintah dan anjuran untuk berobat, sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Berobatlah kalian maka sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan obat baginya.” (HR. Bukhari dan Ibn Majah)

8. Perhatian Islam terhadap olahraga yang menyebabkan badan menjadi sehat. Hal ini sebagaimana pula terdapat dalam praktik ibadah ritual, seperti shalat, shiyaam, dan hajji.

Upaya-Upaya Preventif dalam Islam

Dalam praktiknya, upaya preventif dalam Islam memang benar-benar diutamakan dibandingkan upaya kuratif. Prinsip ini memang sangat sesuai dengan fithrah manusia. Bahkan, para ahli medis modern pun menyepakatinya. Mereka berkata, “Menjaga kesehatan lebih baik daripada mengobati.” Hal ini sesuai dengan pendapat Imam ‘Ali ibn Abi Thalib yang berkata, “Inti pengobatan adalah pencegahan.”

Jika kita perhatikan dan kemudian membandingkannya dengan ajaran selain Islam, niscaya kita tidak akan pernah menemukan prinsip semacam ini. Prinsip ini hanya terdapat dalam ajaran Islam. Dalam prinsip ini, upaya tersebut terlihat dari anjuran Islam untuk bersuci, beribadah, menjaga kebersihan, berolahraga, serta makan dan minum secukupnya. Teori sains modern pun telah membuktikan keampuhan dan berbagai macam hikmah di balik kegiatan ritual Islam. Insya Allah untuk selengkapnya akan dibahas pada BAB selanjutnya.

Islam benar-benar teliti dan menganjurkan ummatnya untuk mencegah fisik mereka dari penyakit. Allah swt. dan RasulNya saw. memerintahkan kita untuk senantiasa menghindari penyebab munculnya berbagai macam penyakit. FirmanNya dalam al-Quran,

2_195

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Baqarah, 2: 195).

4_29

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” (QS. An-Nisaa`, 4: 29).

Menurut dr. Hamad Hasan Raqith[10] bahwa dalam praktiknya, langkah preventif yang diterapkan dalam Islam terdapat beberapa unsur sebagai berikut.

1. Menjaga Kebersihan dan Kesucian (Thaharah)

2. Beribadah dengan Benar

3. Menjaga Makanan dan Minuman

4. Berolahraga (Riyadhah)


[1] Sebagian mufassir menyebutkan bahwa yang dimaksud Syu’ayb dalam kisah tersebut bukanlah Nabi Syu’ayb. Ia hanyalah seorang shalih saja. Tidak ada periwayatan yang kuat tentang siapa dia sebenarnya. Wallahu a’lam…

[2] QS. Al-Qashash, 28: 21

[3] QS. Al-Qashash, 28: 22

[4] QS. Al-Qashash, 28: 24

[5] QS. Al-Qashash, 28: 25

[6] QS. Al-Qashash, 28: 26

[7] QS. Al-Qashash, 28: 27

[8] sebagaimana dikutip oleh Prof. Dr. Abdul Basith Muhammad as-Sayyid dalam At-Taghdziyyah an-Nabawiyyah diterjemahkan dengan judul Pola Makan Rasulullah; Makanan Sehat Berkualitas Menurut al-Quran dan as-Sunnah, diterbitkan oleh Almahira.

[9] Sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia dengan judul Kiat Hidup Sehat Islami; Mengungkap Metode Menjaga Kesehatan Menurut Rasulullah saw., diterbitkan oleh Zuha Pustaka.

[10] Kiat Hidup Sehat Islami; Mengungkap Metode Menjaga Kesehatan Menurut Rasulullah saw., hal. 34-37.

bersambung………..

About these ads

Komentar»

No comments yet — be the first.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: