Kesalahan Mencinta Juni 3, 2008
Posted by hudzayfah in Inilah Cinta.Tags: Inilah Cinta
add a comment
Saat seorang sanggup bertaruh serta mengorbankan untuk sesuatu yang ia cintai, itulah cinta sejati. Namun, siapakah sejatinya yang kita berikan loyalitas seperti itu..? Tentu saja, tiada lain dan tiada bukan, Dialah Sang Pemilik Cinta. Dari Dia lah semua berasal dan kepada-Nya pula kita kembali. Maka, tidak ada alasan bagi kita untuk mencintai sesuatu melebihi cinta kita kepada-Nya.
Walaupun demikian, bukan berarti kita tidak boleh ataupun dilarang untuk mencintai sesuatu selain diri-Nya. Karena pada hakikatnya, cinta adalah fithrah yang diberikan-Nya kepada setiap insan di dunia ini. Setiap manusia bernyawa pasti lah memiliki cinta. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak memiliki cinta. Yang berbeda hanyalah kadar kecintaan-Nya saja. Serta dasar ataupun alasan kita untuk mencinta.
Ketika kita telah mencintai-Nya dengan kadar kecintaan hingga tahap tatayyum, yang berarti ada konsekwensi penghambaan di sana, maka cinta kepada Rasul-Nya haruslah sampai pada kadar al-‘isyq, yaitu mesra dengan ajaran yang dibawanya, sehingga kita sanggup mengikutinya dengan sempurna, semampu tenaga kita, seoptimal mungkin. Dua tingkatan teratas dalam mencinta ini hanya diberikan kepada yang berhak saja. Karena kadar tatayyum merupakan konsekwensi logis dari kalimat laa ilaaha illallah, sedangkan kadar cinta al-‘isyq merupakan konsekwensi logis dari kalimat muhammad ar-rasuulullah.
Cinta-cinta yang ada selain untuk Allah dan Rasul-Nya tentu saja harus berada di bawah kecintaan kita terhadap Allah dan Rasul-Nya. Jika pun ada cinta untuk sesuatu kepada selain Allah dan Rasul-Nya, maka tentu saja harus didasarkan pada kecintaan kita terhadap Allah dan Rasul-Nya. Bahkan tidak sekedar kadarnya, namun cara kita mencinta pun harus sesuai dengan apa yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya. Sehingga kita benar-benar mencintai sesuatu itu sebagai upaya dari kita sendiri untuk menaati Allah dan Rasul-Nya, bukan mengadakan tandingan-tandingan baru bagi-Nya.
Walaupun demikian, tidak jarang di antara manusia yang mencintai sesuatu yang berada di bawah kecintaan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya, namun caranya tidak mereka tempuh sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Akhirnya, mereka terjebak pada kesalahan-kesalahan mencinta. Sama seperti tiga orang baduy yang melakukan kesalahan-kesalahan ibadah. Mereka mengatakan karena cinta namun Rasulullah menolaknya.
Orang yang pertama berkata bahwa ia sanggup berpuasa setiap hari, namun Rasulullah memberikan anjuran untuk berpuasa Senin-Kamis. Saat orang itu berkata bahwa ia masih sanggup untuk lebih dari itu, maka Rasulullah saw. menjawab, “Berpuasalah sehari dan berbukalah sehari. Sesungguhnya tidak ada yang lebih baik dari ini.”
Orang Baduy yang kedua dikabarkan sanggup shalat semalam suntuk, sedangkan seorang Baduy yang ketiga dikabarkan sanggup tidak menikah. Namun, ibadah mereka, yang mereka mengatakan itu semua karena cintanya terhadap Allah, tidak disukai oleh Rasulullah saw.. Bahkan Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling baik di antara kalian adalah diriku, namun aku berpuasa, akupun berbuka, aku shalat, akupun tidur, dan akupun tidak membujang, tapi aku menikah, karena sesunngguhnya menikah adalah sunnahku. Maka, barangsiapa meninggalkan sunnahku, ia bukanlah bagian dari ummatku.”
Mereka mencinta, namun mereka salah merealisasikannya. Padahal, Rasulullah saw. adalah bayaan (penjelas) dari apa yang tertuang dalam al-Quran. Rasulullah merupakan tauladan sepanjang zaman, yang ketika seorang mencintai Allah namun tidak membuktikan cintanya sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw., maka cintanya tertolak. Ia bukanlah bagian dari ummat Muhammad. Mungkin karena ini pula al-Quran menggambarkan orang-orang Nashara sebagai generasi bingung, generasi yang terlalu mencintai ‘Isa al-Masih as. sehingga mereka menuhankannya, menjadikannya sebagai tandingan bagi Allah swt..
Hal itu pula yang dilakukan kaum Rafidhah. Mereka terlalu mencintai ‘Ali kw. sehingga mereka terjebak pada fanatisme dan kebencian terhadap shahabat-shahabat Rasulullah saw.. Bahkan mereka mengkafirkan Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman,. Begitu pun Khawarij. Mereka keluar dari sebuah firqah karena cintanya terhadap Allah swt., namun mereka terjebak pada pemahaman yang menyimpang sehingga ibadah mereka memang lebih banyak dari kita, dan mereka pun lebih sering membaca al-Quran, sayangnya al-Quran itu hanya sampai di kerongkongan mereka saja. Tidak sampai menyentuh hati mereka. Sedangkan Rabi’ah al-Adawiyah terjebak pada kecintaan yang tergila-gila pada Allah swt. sehingga merelakan diri untuk tidak menikah. Padahal, Rasulullah saw. pernah bersabda bahwa nikah adalah sunnahnya, barangsiapa tidak melaksanakan sunnahnya, maka ia bukanlah bagian dari ummatnya.
Wallahu a’lam.
Hati dan Cinta Juni 3, 2008
Posted by hudzayfah in Inilah Cinta.Tags: Inilah Cinta
add a comment
Hati kadang memang sulit untuk dikendalikan. Maka, jagalah ia agar tetap bersih dan suci. Jangan sampai debu-debu menodainya lalu menutupi cerahnya. Jangan tunggu hatimu pekat saat kau ingin membersihkannya. Karena jika hatimu telah pekat, ia akan sulit menemukan cinta sejati. Saat ia tidak menemukan cinta sejati, maka ia tidak bisa membedakan antara cinta dengan nafsu. Dalam kondisi seperti ini, Allah menyebutnya sebagai hati yang sakit. Maka, jangan tunggu ia mati. Saat hatimu sakit, maka sembuhkanlah. “Hanya dengan dzikrullah, hatimu menjadi tentram..”[1]
Jadi obat hati yang paling utama adalah dzikrullah. Hati seperti tubuh yang juga membutuhkan gizi untuk membuatnya tetap sehat. Jika tubuh kita membutuhkan gizi berupa makanan yang halal dan baik. Maka, hati kita membutuhkan gizi berupa dzikrullah. Dengan dzikrullah hati akan menemukan kembali kesuciannya. Sehingga hati menjadi bersih, putihnya memancarkan cahaya yang akan membedakan antara cinta dengan nafsu. Sehingga hati akhirnya dapat menemukan cinta sejati. Jadi, dzikrullah adalah jalan untuk meraih cinta sejati. CintaNya Sang pemilik cinta yang tidak adakan pernah surut, apalagi padam.
Penghambaan tertinggi adalah dengan mencurahkan cinta sejati, sedangkan jalan menuju cinta sejati adalah dengan dzikrullah. Maka, benarlah bahwa Allah swt. menyebut mereka yang beriman sebagi orang-orang yang mengingat Allah pada waktu berdiri, duduk, dan berbaring.[2] Saat mereka mengingat-Nya bergejolaklah hati mereka, dan saat ayat-ayatNya dibacakan, maka bertambahlah cintanya kepada Allah swt..[3] Sedangkan orang-orang munafik, sang pengkhianat cinta, digambarkan sebagai orang-orang yang hatinya sakit, mereka sedikit menyebut namaNya. Tidak berpengaruh apakah dibacakan ayat-ayatNya atau tidak, mereka tetap dalam keadaan yang seperti itu. Apa yang ada di lisan berbeda dengan apa yang dirasakan di dalam hati.[4] Semoga kita tidak termasuk ke dalam orang-orang hatinya sakit.
Semoga pula kita tidak termasuk ke dalam orang-orang yang hatinya mati. Allah telah menutup penglihatan, pendengaran, dan perasaannya.[5] Na’udzubillah. Yaa muqallibal-qulb, tsabbit qulubana ‘ala ad-diinika. Yaa muqallibal-qulb, tsabbit qulubana ‘ala ath-tha’atika. Aamiin.
Cinta Sejati Juni 3, 2008
Posted by hudzayfah in Inilah Cinta.Tags: Inilah Cinta
add a comment
Katanya, cinta yang sebenar-benarnya cinta adalah penerimaan apa adanya. Senantiasa memberi dan tidak mengharapkan untuk diberi. Karena, katanya pula, tidak selamanya cinta harus saling memiliki. Saat seorang sanggup mencinta dengan tingkatan seperti itu, maka itulah cinta tertinggi, maka itulah cinta sejati. Cinta yang hadir hanya untuk memenuhi segala harapan sesuatu yang dicintainya. Bahkan saat ia harus musnah untuk memenuhi tuntutan-tuntutan tersebut. Jika yang dimaksud dengan cinta sejati adalah demikian adanya, maka aku bisa menyebut cinta sejati sebagai penghambaan.
Ya, penghambaan. Karena orang itu berkorban untuk memberikan segalanya demi memenuhi segala keinginan dari sesuatu (atau seseorang) yang dicintainya. Ia pun pasti akan menjauh dari segala hal yang tidak disukai ataupun yang tidak diharapkan oleh yang dicintainya. Bukankah itu sebuah penghambaan..? Maka, adakah kita menghamba kepada hamba..?
Padahal perlu diketahui bersama bahwa penghambaan seorang hamba terhadap hamba yang lainnya telah dibebaskan sejak lahirnya Khatamul-Anbiyaa, Muhammad saw.. Hal tersebut kemudian dipertegas oleh Sa’ad ibn. Abi Waqqash saat berhadapan dengan Kisra Persia, Rustum. “Sesungguhnya Allah telah memilih kami untuk membebaskan hamba-hambaNya yang dikehendakiNya dari pengabdian terhadap hamba kepada pengabdian terhadap Allah Yang Maha Esa, Rabbnya hamba, dari kesempitan dunia kepada keluasaan akhirat, dan dari kedzhaliman penguasa tiran menuju keadilan Islam. Maka siapa-siapa yang bersedia menerima itu dari kami, kami terima pula kesediaannya dan kami biarkan mereka. Tetapi siapa yang memerangi kami, kami perangi pula mereka hingga kami mencapai apa yang telah dijanjikan Allah.”
Rustum bertanya, “Apa janji yang telah dijanjikan Allah itu?” Hal tersebut dijawab, “Syurga bagi kami yang mati syahid, dan kemenangan bagi yang masih hidup.”
Lihatlah, cinta terhadap hamba atau makhluq telah berganti menuju cinta sejati terhadap Rabbnya hamba, Sang pemiliki cinta, Allah swt.. Kematangan tauhid dalam mengesakan Allah dibuktikan dengan cinta. Saat hati telah mendua dalam cinta, maka hal tersebut sama saja dengan mengkhianati janji kita pada-Nya. Janji untuk selalu men-tauhid-kanNya serta tidak sesekali untuk menyekutukanNya.
Cinta sejati hanyalah milik ilahy. Karena cinta sejati adalah penghambaan tertinggi. Maka, tidak ada legi celah seharusnya yang kemudian akan menodai hati kita, sehingga nama yang terukir di dalam palung hati yang terdalam adalah Allah semata. Tidak ada cinta setinggi cinta terhadapNya. Sebagaimana kita yang telah berikrar tidak ada pengabdian kecuali kepadaNya, Sang Khaliq, Yang Maha Memiliki Cinta. Walahu a’lam…
Cinta Juni 3, 2008
Posted by hudzayfah in Inilah Cinta.Tags: Inilah Cinta
add a comment
Akhirnya, ‘Ali ibn. Abi Thalib kw. pun mengikuti pendapat para shahabat, bahwa ia memang layak berdampingan dengan puteri terbaik Rasulullah, yang akhlaqnya paling menyerupai akhlaq ibunya, yang mewarisi banyak keutamaan dari ayahnya, manusia terbaik sepanjang masa, bunga bagi ahlul bayt, Fathimah az-Zahra’. Apalagi, ia telah mengetahui bahwa sebelumnya, Fathimah telah menolak pinangan dari –setidaknya- tiga shahabat terbaik, Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman ra..
Maka, datanlah ‘Ali menemui Rasulullah saw., dan mempertegas maksud kedatangannya. Sebagai seorang ayah yang bijak, sebagaimana saat beliau saw. menghadapi para shahabat yang datang dengan tujuan yang sama, beliau saw. senantiasa menanyakannya terlebih dahulu kepada Fathimah.
Jika pada kasus-kasus sebelumnya, Fathimah dengan tegas menolak, namun pada saat ‘Ali yang datang untuk meminangnya, tidak ada jawaban apapun dari Fathimah. Ia ra. hanya terdiam. Maka, Rasulullah saw. bersabda “Diamnya seorang gadis adalah ‘Ya’.” Tentu saja hal ini membuat hati ‘Ali berbunga-bunga. Namun, di sisi lain, ‘Ali ibn. Abi Thalib kw. merasa kebingungan karena ia tidak memiliki apa-apa untuk dijadikan mahar (maskawin). Bahkan, saat Rasulullan menyuruhnya pulang untuk mengambil sebuah cincin besi pun, ‘Ali ibn. Abi Thalib tidak memilikinya.
Melihat kondisi seperti ini, Rasulullah saw. yang juga mengerti bahwa Fathimah mengharapkan ‘Ali sebagai pendamping hidupnya, maka Rasulullah saw. menghadiahkan sebuah baju besi yang nanti akan diberikan sebagai mahar. Masya Allah… Untuk zaman sekarang, sepertinya tidak mungkin ada seorang calon mertua yang seperti itu. Bahkan, Rasulullah saw. mungkin satu-satunya calon mertua yang berbuat demikian. Memberikan sesuatu kepada calon menantunya untuk diberikan kepada anaknay sebagai mahar.
Pernikahan pun dilangsungkan. Tabuh-tabuhan rebana dan iringan qashidah mengindahi prosesi walimatul-‘urs dari ‘Ali ibn. Abi Thalib kw. dan Fathimah az-Zahra’ ra.. Dikabarkan, Kerajaan Langit pun mengabarkan kebahagiannya melalui Jibril as.. Subhanallah…
Pada saat malam pertama, sebelum melakukan apapun, ‘Ali menceritakan sesuatu kepada Fathimah. Ia berkata, “Kau tahu, sesungguhnya sebelum pernikahan ini, aku pernah mencintai seorang gadis, namun aku belum pernah mengungkapkannya.” Hal ini membuat wajah Fathimah merah padam tanda kemarahan atas perkataan ‘Ali, namun ia ra. berusaha menahannya. Sambil menahan amarahnya, ia pun bertanya kepada ‘Ali, “Bolehkan aku tahu siapa gadis itu..?” “Seorang yang kini Allah telah menghalalkannya untukku…” jawab ‘Ali, yang membuat Fathimah tersipu malu…
Mesra, sangat mesra, namun kemesraan itu telah dibalut dengan ‘akad yang telah dilangsungkan. Tidak ada prosesi yang njlimet. Apalagi harus kirim-kiriman surat cinta, sms-an, jalan bareng, atau yang lainnya. Tidak ada ungkapan sebelum Allah swt. menghalalkannya dengan pernikahan. Sehingga kita sadar bahwa titian jalan menuju ke kehidupan yang sebenarnya dapat memberikan makna yang benar mengenai cinta.
Namun sayang, saat ini, harus ada jarak, antara perasaaan dengan pernikahan. Harus ada persiapan untuk saling mengenal, katanya, yang pada akhirnya justru memberikan peluang untuk terjerumus dalam lembah dosa. Maka, saat keduanya telah berada dalam villa rumah tangga, tidak menjamin kehidupannya dinaungi atap keberkahan, karena mereka telah mencuri-curi kesempatan untuk menikmati kasih-sayang sebelum waktunya. Semoga Allah swt. menjauhkan kita dari sikap seperti ini…
Ya, memang tidak ada dalil yang qath’i (pasti) bahwa apa yang sekarang disebut dengan “pacaran” adalah diharamkan dalam Islam. Namun, Allah swt. telah mengingatkan kepada kita untuk tidak mendekati zina.[1] Perhatikan ayatnya, Allah melarang kita untuk mendekati zina. Mendekatinya saja dilarang, maka wajarlah jika orang yang berzina akan mendapatkan hukuman yang berat di dunia dan di akhirat, jika ia belum sempat bertaubat.[2]
Jika mendekati zina dilarang, maka kita harus menutup serapat mungkin pintu-pintu yang dapat menjerumuskan kita ke dalam ruang-ruang gamang yang dapat mengakibatkan efek negatif dan berakhir dengan dosa. Artinya, segala macam perkataan, penglihatan, pendengaran, serta perbuatan kita haruslah jauh dari segala hal yang dapat membuka pintu itu sedikit pun. Karena, sekali lagi, Allah melarang kita untuk mendekati zina.
Apalagi, jika perbuatan tersebut jelas-jelas dapat membuka lebar-lebar sebuah ruang yang di dalamnya terdapat penghalalan apa-apa yang diharamkan oleh Allah swt.. Maka, tentu saja tidak ada toleransi untuk hal ini. Jika kita berkata bahwa fenomena tersebut adalah kasuistis dan bagaimana pelakunya, maka kita kembali ke komitmen awal, bahwa, sekali lagi, Allah melarang kita mendekati zina. Mungkin, aksi-aksi yang dilakukan belum masuk ke dalam kategori zina. Namun, aku sangsi jika itu semua tidak dikatakan mendekati zina. Sebagai contoh adalah khalwat (berdua-duaan), saling bertatapan, saling berpegangan, dan saling-saling yang lainnya, yang para fuqaha pun telah sepakat bahwa semua itu tidak layak dilakukan kecuali oleh mereka yang telah menikah.
Jikalau hal-hal di atas memang tidak dilakukan, itu bagus, namun aku ragu jika dalam ritual pacaran tidak ada saling sms-an (mesra-mesra an tentunya), atau untuk sekedar saling mengingat dalam lamunan panjang. Padahal, orang-orang beriman adalah orang yang senantiasa mengingat Allah pada saat berdiri, duduk, dan berbaring.[3] Jika ia lebih banyak mengingat makhluq dibandingkan Sang Khaliq (baca: Allah), maka ia telah menjadikan makhluq itu sebagai tandingan bagi Sang Khaliq. Artinya, ia telah menjadikan makhluq tadi sebagai ilaah baru dan pada titik ini, berarti aku bisa berpendapat bahwa syahadatnya (baca: Islamnya) dipertanyakan kembali. Wallahu a’lam…
Tanda-Tanda Cinta Juni 3, 2008
Posted by hudzayfah in Inilah Cinta.Tags: Inilah Cinta
add a comment
Dunia seakan berhenti berputar, saat ia yang istimewa di hati tiba-tiba hadir di hadapan kita. Darah tiba-tiba mengalir lebih deras saat ia tersenyum. Jantung pun berdetak sangat kuat, bahkan kadang terasa berhenti berdetak saat ia menyapa dan mengeluarkan kata-kata. Suaranya yang (terasa) merdu seperti nyanyian Dawud membuat kita terbuai dan terlena hingga seolah-olah kita dibawanya terbang tinggi menembus angkasa.
Apa yang terjadi dengan hati pada saat itu..? Mengapa hadirnya membuat perasaaan kita tidak menentu..? Padahal tidak ada yang istimewa dari dirinya. Jika kuberfikir ulang, begitu banyak gadis yang lebih istimewa, baik dari fisiknya ataupun yang lainnya. Namun, hati serasa terikat oleh getaran-getaran yang datang dan pergi tak menentu.
Hati-hati dengan hati dalam kondisi seperti itu. Mengapa..? Karena bisa jadi engkau lupa akan sesuatu. Apa itu..? Cinta yang sebenarnya. Maksudnya..?
Aku tidak tahu, yang pasti aku tahu bahwa Allah swt. telah berfirman bahwa begitu banyak orang-orang yang menghadirkan tandingan-tandingan Allah swt.. Namun, Allah swt. menegaskan bahwa orang-orang beriman sangat besar kecintaannya terhadap Allah swt.. Tidak cukup digambarkan dengan luasnya samudera atau tingginya gunung-gunung di dunia.
Iman kepada Allah swt. berarti cinta. Maka, patutkah kita mengambil sesuatu yang lain untuk kita cintai melebihi kecintaan kita terhadap Allah swt…? Jika seorang perempuan saja tidak mau diduakan, maka bagaimana mungkin Allah ridha saat Dia diduakan dengan sesuatu yang kapasitasnya sungguh jauh dari-Nya. Jelas saja, Allah adalah al-Khaliq sedangkan ia adalah makhluq. Allah dapat memberikan manfaat, sedangkan ia tidak sedikitpun. Allah dapat memberikan pertolongan di akhirat, menghisab amal-amalan kita, menjamin kehidupan kita di dunia dan di akhirat. Sedangkan dia..???
Ketahuilah, bahwa Allah adalah Sang Pemilik Cinta. Dia pun Maha pencemburu. Dia begiti mencintai kita, namun kita telah mengkhianati-Nya. Apa bukti kita telah mengkhianatinya..? Tanda-tanda cinta. Maksudnya..?
Gambaran gejolak perasaan di atas merupakan ciri ataupun tanda-tanda dari hadirnya cinta dalam hati kita. Namun, sayangnya kita tidak menempatkannya pada tempat yang tepat. Padahal, Allah swt. berfirman bahwa orang-orang beriman adalah mereka yang apabila disebutkan nama Allah, maka bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, maka bertambah kuatlah keimanan mereka, bertambah cinta lah mereka kepada Allah swt..
Kita telah mengkhianati cinta-Nya dengan getaran-getaran yang tidak seharusnya ada kecuali untuk-Nya. Jika pun ada, pasti harus berada di bawah level getaran kita terhadap-Nya. Jika pun ada, maka tidaklah seharusnya melebihi getaran yang kita rasakan saat ber-khalwat dengan-Nya di sepertiga malam.
Namun, apa yang terjadi pada diri kita..? Tanda-tanda cinta itu tampak saat perasaan kita terjatuh pada makhluq. Sedangkan untuk Sang Khaliq, adakah tanda-tanda itu..? Adakah dunia terasa berhenti berputar saat nama-Nya disebutkan..? Adakah darah kita mengalir lebih deras, serta jantung kita berdetak lebih cepat, saat kita menjumpai-Nya dalam setiap shalat kita..? Adakah alunan kalam-Nya terasa seperti nyanyian Dawud di telinga kita..? Adakah kecemburuan dari diri kita saat nama-Nya diinjak-injak dan dihinakan..? Rumahnya dibakar tanah suci-Nya dikotori oleh tangan-tangan najis dari musuh-musuh-Nya..? Adakah pembelaan kita sebagaimana kita membela seorang makhluq yang hati kita telah bertaut padanya..?
Saudaraku, ini adalah tanda-tanda cinta dan sekaligus bukti keimanan kita terhadap-Nya. Jika hingga kini masih belum terdapat tanda-tanda cinta itu dalam kehidupan kita, maka pertanyaannya adalah, “Apakah kita benar-benar mencintai-Nya..?”
Wallahu a’lam
Cinta..? Juni 3, 2008
Posted by hudzayfah in Inilah Cinta.Tags: Inilah Cinta
add a comment
Dua orang itu berjalan, layaknya sepasang merpati yang terbang tinggi di angkasa, saling mencurahkan perasaaannya, saling mentautkan hatinya, saling bersimpati untuk memberi, peka, dan peduli. Lisannya ia jaga untuk tetap mesra. Tingkah lakunya ia balut dengan sejuta kebaikan (atau… dusta..?), hingga akhirnya dunia dan seisinya seolah-olah hanya milik berdua.
Dalam kondisi seperti itu, maka muncullah keinginan-keinginan yang hadir mengisi ruang-ruang rindu yang membelenggu. Karena dunia dan seisinya adalah milik berdua saja, maka mereka pun bebas melakukan apa saja, atas nama cinta. Padahal, yang aku tahu, mereka bukanlah siapa-siapa. Ya, belum ada persetujuan dari orang tua si gadis, belum juga ada ‘akad yang kemudian akan menjadi batas antara halal dan haramnya bercinta. Maka, apakah itu cinta..?
Hati kita seperti sebuah cermin yang bening. Namun, jika ia tidak dibersihkan, maka akan banyak debu yang pekat menutupinya. Sehingga kita pun sulit untuk melihat bayangan kita sendiri. Akhirnya, kita tidak bisa membedakan dua perasaan yang serupa ini. Sama-sama datang dari hati, sama-sama hadir mengisi ruang-ruang kehampaan jiwa. Ya, kedua-duanya merindukan kasih dan sayang. Kedua-duanya mengharapkan perhatian serta belaian lembut seorang insan. Namun, yang satu lahir dari kesucian, sedangkan yang lainnya hadir dari bisikan setan.
Serupa, namun tidak sama. Sayangnya, orang-orang menyebut keduanya dengan kata yang sama, cinta. Cinta..? Apakah itu cinta..?
Cinta senantiasa berhubungan dengan hati, maka landasan yang benar untuk mencinta adalah kepercayaan. Sedangkan kepercayaan tertinggi, yang aku fahami, adalah iman. Iman kepada Sang pemilik cinta. Sang pecinta sejati yang kasih sayangnya tak pernah surut termakan zaman atau pudar tergiling waktu. Maka, cinta haruslah lahir dari iman. Jika tidak, maka ia bukanlah cinta. Walaupun, seperti yang aku katakan di atas kedua-duanya merindukan kasih dan sayang. Kedua-duanya mengharapkan perhatian serta belaian lembut seorang insan. Namun, benar adanya bahwa yang satu hadir di atas iman, sedangkan yang lainnya berjalan untuk memenuhi keinginannya semata, dan ternyata setanlah yang menunutunnya. Setan telah mendorong syahwatnya untuk senantiasa bergejolak. Mengotori hatinya, sehingga ia tidak sadar bahwa apa yang dirasakannya saat ini bukanlah cinta. Ia adalah nafsu belaka. Mengapa..?
Cinta yang benar berlandaskan iman, maka buahnya adalah ketaatan. Sedangkan nafsu landasannya adalah syahwat, maka buahnya adalah kemaksiatan. Bukankah kedua hal tersebut berbeda..?
Cinta begitu suci, jangan nodai ia dengan keindahan-keindahan fana. Karena sesungguhnya, nafsu pun berawal dari cinta, namun ia tidak bisa mengendalikannya, sehingga setan menggiringnya lebih jauh, dan sedikit demi sedikit mengikis rasa cinta itu lalu menggantikannya dengan nafsu yang berasal dari bisikan-bisikannya. Kemudian, manusia pun bermaksiat atas nama cinta. Cinta..?
Kasihan cinta, ia yang suci kini diperlakukan dengan sangat tidak hormat oleh manusia. Ia yang lahir di atas landasan iman tidak dikendalikan sehingga nafsu itu bergejolak tanpa kesadaran kita. Kasihan sekali cinta, kini ia seperti cermin yang dipenuhi debu, sehingga orang yang menatapnya tidak dapat melihat bayangannya sendiri. Maka, buramlah semua pandangan yang menatapnya, maka keruh pula hati yang merasakannya. Maka, apakah itu cinta..?
Cinta dan nafsu memang berjalan beriringan, namun jangan sampai nafsu yang mengendalikan cinta, sehingga ia bisa berbuat apapun atas nama cinta. Cinta harus berada di atas nafsu untuk mengendalikannya. Agar nafsu yang hadir dan bergejolak dapat sebisa mungkin untuk tidak mengiktui bisikan-biskan setan yang membuat kita terjebak dalam kenikmatan sesaat yang fana.
Izinkanlah kerinduan itu hadir atas dasar cinta yang sesungguhnya. Maka, tidak ada pilihan ketiga. Jika kau mampu, menikahlah, jika tidak, berpuasalah. Itulah rindu yang didasari cinta. Jika ia benar-benar mencinta, maka jiwanya akan menuntun ia untuk mempersiapkan segalanya, sambil berpuasa. Karena hanya dengan puasa setan-setan itu dapat lari tunggang langgang. Hanya dengan puasa hati kita sanggup tertunduk dalam nuansa ketaatan yang mendalam terhadap-Nya. Sehingga Allah pun tidak akan segan memberikan buah syurga-Nya. Hadiah dari ketaatan seorang hamba.
Maka dari itu, Rasulullah pun bersabda bahwa jika ada seorang pemuda yang menahan dirinya dari mengungkapkan cinta terhadap seorang gadis karena belum ada kesiapan darinya, lalu ia berpuasa, kemudian dalam kondisi seperti itu Allah memanggilnya, niscaya ia meninggalkan dunia dalam keadaan syahid. Artinya, Allah mengganti gadis itu dengan bidadari-Nya dan Allah menggantikan kenimatan yang fana di dunia dengan kenikmatan yang abadi di syurga. Cinta..? Ya, inilah cinta. Wallahu a’lam…
Al-Ikhlash Juni 3, 2008
Posted by hudzayfah in Coretan Kecil, Perjalanan Sang Waktu.Tags: Catatan Hikmah
add a comment
Imam Hasan al-Banna menempatkan Al-Ikhlash sebagai rukun kedua setelah Al-Fahmu. Jika beliau merinci penjelasan mengenai Al-Fahmu yang kemudian membingkainya dalam Ushul-‘Isyrin (dua puluh prinsip), maka beliau hanya menjabarkan kandungan Al-Ikhlash hanya dalam beberapa baris tulisan saja. Namun di samping itu semua, dalam beberapa baris itu terdapat kandungan yang luar biasa yang beliau ambil dari al-Quran dan as-Sunnah. Beliau mengutip sebuah ayat al-Quran yang beliau katakan harus menjiwai slogan Allah Ghayatuna dan Allahu Akbar wa Lillahil-Hamd.
Dalam al-Quran banyak disebutkan kata Al-Ikhlash dalam berbagai turunannya, namun yang pasti dari sekian banyak ayat tersebut, semuanya mengarahkan kita terhadap sebuah pemahaman bahwa segala aktivitas amal da’wah dan jihad kita tiada lain dan tiada bukan hanyalah untuk mengharapkan Syurga dan Ridha-Nya semata. Setiap aktivitas yang kita lakukan tidak berhak kita berikan untuk sekedar eksistensi pribadi atau golongan, keridhaan manusia atau keuntungan duniawi lainnya. Karena itu merupakan suatu bentuk syirik yang Allah pernah berfirman dalam hadits Qudsi bahwa setiap amalan yang tidak ditujukan untuk-Nya semata maka akan kembali kepada tujuannya semula.
Sifat Ikhlash bukan berarti pula tidak mengharapkan syurga seperti pemahaman para sufi yang telah menyimpang sehingga di antara mereka terjebak dalam sikap uthopis yang tidak pernah diajarkan oleh Sunnah Rasulullah SAW. Di antara kesesatan tersebut tampak dalam beberapa syair yang masyhur seperti1
Aku tak layak ke Syurga dan aku pun tak ingin ke Neraka
Jika seperti itu, ke mana ia akan pergi? Karena demi Allah, di akhirat hanya ada dua pilihan, tidak ada yang ketiga atau keempat.
Atau sebuah syair lain yang berbunyi2
Jika aku dapat pergi ke syurga, maka akan kubakar ia
Agar tiada lagi orang yang beribadah karena mengharapkan syurga-Nya
Dan jika aku dapat pergi ke neraka, maka akan kusiram apinya dengan air yang kubawa
Agar tiada lagi orang yang beribadah karena takut akan neraka-Nya
Demi Allah, Rasulullah SAW yang mulia mengajarkan sebuah do’a
“Yaa Allah sesungguhnya aku mengharapkan ridha-Mu dan syurga-Mu serta lindungilah aku agar dari murka-Mu dan neraka-Mu.”
Lalu, apakah kita akan mengikuti para penyair itu atau kita memilih jalan yang mulia yang telah diajarkan oleh Rasulullah tercinta?
Ikhlashnya seorang mujahid da’wah haruslah tampak dalam setiap aktivitasnya yang meliputi niat, perkataan, amal, da’wah, dan jihad. Tiada akan berarti sejuta aktivitas yang kita lakukan jika tidak ada niat yang Ikhlash dari dalam hati ini. Sebaliknya, amal yang dilakukan seorang mukhlish begitu berarti di hadapan-Nya walaupun sedikit. Karena pada hakikatnya amalan hati itu lebih utama dibandingkan amalan fisik. Sebagaimana sabda Rasulullah.
Niat seorang mu’min itu lebih baik daripada amalannya sedangkan amalan seorang munafiq itu lebih baik daripada niatnya
Ibadah yang utama itu ada di dalam hati. Maka bersihkanlah hati ini agar senantiasa memancarkan cahaya yang akan menerangi setiap jengkal langkah da’wah ini. Kita berlindung dari segala keburukan dan kemunafikan agar kelak kita tidak menjadi seorang yang mati di medan perang namun kemudian ia harus diseret ke dalam neraka karena ia berperang hanya mengharapkan agar disebut sebagai pemberani dan pahlawan, atau seorang yang senantiasa membagi-bagikan hartanya namun harus merasakan panasnya api neraka hanya karena ia mengharapkan agar orang melihatnya sebagai seorang yang dermawan. Begitupun dengan seorang yang senantiasa mempelajari al-Quran namun Allah menolaknya masuk syurga dan melemparkan ia ke dalam neraka hanya karena ia ingin dilihat sebagai seorang ‘alim dan qari’.3 Niat yang tidak lurus inilah yang kemudian harus kita luruskan kembali. Awali aktivitas kita dengan basmallah sebagai sebuah upaya pemurnian niat, iringi dengan istighfar, dan akhiri dengan hamdallah. Semoga Allah senantiasa melindungi…
Catatan Kaki
1 Sya’ir yang ucapkan oleh Abunawas
2 Sya’ir yang pernah ditulis oleh Rabi’ah Al-Adawiyah
3 Hadits Qudsi
Wallahu a’lam…
Al-Fahmu Juni 3, 2008
Posted by hudzayfah in Coretan Kecil, Perjalanan Sang Waktu.Tags: Catatan Hikmah
add a comment
Yahudi merupakan karakter bangsa yang dikaruniai Allah dengan keluasan ilmu dan pengetahuannya. Namun, disebabkan kelebihannya itu pula Allah melaknatnya. Karena mereka tidak pernah mengamalkan ilmu serta pengetahuan yang dimilikinya tersebut sesuai dengan apa yang Allah perintahkan. Dengan ilmunya, justru mereka menjadi bangsa yang congkak, angkuh, dan merendahkan bangsa yang lain. Maka, Allah menyebut mereka sebagai kaum maghdhu bi ‘alaiyhim (yang dilaknat atasnya).
Sedangkan pada sisi lain, muncul generasi bingung – begitu Salim A. Fillah menyebutnya, yang banyak mengedepankan aspek amal, begitu humanist, dan menebar kebaikan di setiap tempat di mana mereka berada. Namun, Al-Quran mencatat bahwa amal mereka layaknya debu yang tertiup angin. Tidak ada nilainya sama sekali. Maka, Allah menyebut generasi bingung ini dengan sebutan kaum yang dhaallin (sesat). Merekalah Nashrani yang telah mengubah-ubah Injil dengan hawa nafsu mereka.
Sebuah keniscayaan bahwa amal haruslah dilandasi ilmu, dan ilmu haruslah berbuah amal. “Ilmu sebelum ‘amal”, Begitulah ucapan ‘ulama salaf ash-Shalih.
Lalu, mengapa Imam asy-Syahid mengganti rukun bai’at yang pertama, al-‘ilm menjadi al-fahm? Karena jika Allah menghendaki keselamatan bagi hamba-Nya, maka Dia jadikan seorang hamba itu faqiih fii ad-Dien (faham dalam ber-dien). Maka, ilmu adalah sarana untuk mencapainya, sedangkan Tujuannya sendiri adalah pemahaman (al-fahmu). Seorang yang ingin menyelamatkan diri, tidak hanya cukup dengan sebanyak-banyaknya amal atau sebanyak-banyaknya ilmu. Namun, kedua hal tersebut harus berjalan beriringan berdasar atas kefahaman yang benar. Inilah karakter seorang yang faqih. Ia berilmu, ia faham, ia beramal berdasarkan pemahamannya tersebut.
Dalam konteks amal-jama’i, yang dimaksud al-fahmu adalah kesatuan fikrah (ideologi) aktivis da’wah. Kesatuan pemahaman aktivis da’wah dalam “apa yang dibawa” serta “bagaimana membawakannya”. Dua hal inilah yang kemudian menjadi titik fokus Imam asy-Syahid dalam merumuskan arkan al-Bai’ah.
Apa yang dibawa oleh seorang da’i? Tentu saja Islam. Islam yang mana? Ini yang kemudian dipaparkan oleh Imam asy-Syahid dalam ushul ‘isyrin (dua puluh prinsip). Ushul ‘isyrin bertujuan untuk menyatukan fikrah serta laju da’wah para da’i agar tidak terjebak pada perbedaan-perbedaan yang bersifat furu’ (cabang) dan akhirnya menciptakan perpecahan. Islam yang kita pegang teguh serta kita sebarkan adalah Islam yang sebagaimana Rasulullah saw. dan para shahabat memahaminya. Pemahaman generasi shahabat itulah yang kemudian dirangkum dalam dua puluh prinsip.
Saat telah tercipta kesatuan fikrah, maka yang muncul kemudian adalah kekuatan untuk bekerjasama menegakkan kalimah ilahi hingga tidak ada lagi fitnah di muka bumi ini.
Selanjutnya adalah bagaimana membawakannya, atau lebih tepatnya menda’wahkan dan menyebarkan Islam yang kita yakini tersebut?
Maka dari itu, Imam asy-Syahid kemudian menjelaskannya dalam sembilan rukun bai’at setelah al-fahmu. Begitulah da’wah yang diusung oleh generasi shahabat. Sembilan arkan al-bai’ah setelah al-fahmu merupakan qa’idah baku bagi da’wah untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan oleh jama’ah. Sehingga akan sangat mustahil jika da’wah dapat meraih kemenangan saat para pengusungnya masih buta dalam memahami fiqh da’wah. Sebagaimana mungkin Islam akan terjaga kemurniannya saat para da’i dan da’iyah masih belum memahami Islam seperti Rasulullah dan para Shahabat memahaminya.
Wallahu a’lam
Teori dan Implementasi Juni 3, 2008
Posted by hudzayfah in Coretan Kecil, Perjalanan Sang Waktu.Tags: Catatan Hikmah
add a comment
Sudah menjadi kebiasaan. Bahkan sejak pertama kali aku masuk kuliah pada tahun 2005. Di sela-sela kuliah atau saat sudah tidak ada lagi kelas, aku biasa berteduh di lingkungan Mushalla yang terletak di sudut Barat Fakultas. Lokasinya di tempat yang tinggi sehingga untuk mencapainya perlu melewati anak tangga yang cukup menguras tenaga. Satu alasan yang membuat para mahasiswa lebih memilih untuk menunda shalat-nya. Capek, katanya. Mendingan ntar aja sekalian pulang di kosan. Yang dalam praktiknya, alasan tinggal alasan dan shalat pun tertinggal dan akhirnya tidak dilaksanakan. Wallahu a’lam.
Namun, aku sedang tidak ingin membahas itu. Di samping mushalla terdapat sebuah ruangan yang bernama AMC (Al-Mushlih Centre) –nama Mushalla itu Al-Mushlih. Di tempat itulah segala perlengkapan dan arsip-arsip disimpan, sekaligus tubuh-tubuh lelah berbaring menikmati semilir angin sambil berdiskusi dan bercerita.
Sejak tahun 2005, selalu saja ada kata-kata yang sama, saat jama’ah yang melaksanakan shalat berjama’ah itu berwudhu, pasti selalu ada komentar, DKM (Al-Mushlih) niy nggak ada pengurusnya ya, kotor banget…
Di satu sisi, itu (mungkin) kesalahan para pengurus yang jarang membersihkan seluruh bagian Al-Mushlih dan lingkungannya. Namun, di sisi yang lain, mereka tidak pernah sadar bahwa ternyata pengurus DKM Al-Mushlih bukan superman yang setiap hari bisa membersihkan setiap bagian Al-Mushlih. Apalagi, aku tahu bahwa pengurus yang benar-benar aktif jumlahnya tidak lebih dari seluruh jari yang ada di tanganku sendiri.
Tahun-tahun berikutnya pun sama. Hingga Allah swt. mengamanahkan tugas pelayanan ummat (baca: ketua) DKM Al-Mushlih padaku. Pada saat itu, aku berusaha semampu tenaga untuk senantiasa memperhatikan segala aspek yang berhubungan dengan peralatan dan perlengkapan ibadah dan kesekretariatan. Namun, yang terjadi adalah bahwa barang-barang inventaris Al-Mushlih seringkali hilang entah kemana. Padahal, setiap harinya selalu ada tuntutan dari jama’ah untuk dilayani dengan sebaik-baiknya.
Tenaga terbatas. Begitu pun financial. Namun, aku tetap berusaha menjaga semua itu agar Al-Mushlih bisa melayani jama’ah dengan sebaik-baiknya.
Sayangnya, kondisi seperti ini tidak diiringi oleh semangat bersama dari seluruh pengurus. Bahkan, kata-kata yang beberapa tahun lalu diucapkan oleh jama’ah, hari itu diucapkan oleh pengurus sendiri. Aku pun sebenarnya bingung. Koq bisa ya dia bilang begini dan begitu. Misalnya dengan berkomentar, berantakan banget niy sekre, nggak ada yang rapiin apa..? atau kotor banget di sini, pada buang sampah sembarangan. Hanya komentar. Tanpa ada usaha sekecil apapun. Sekali lagi, tanpa ada usaha sekecil apapun, bahkan untuk membuang sampah yang sudah ada di depan mata dan jelas-jelas mengganggu pemandangan serta berpotensi untuk mengotori ruangan, tidak dilakukannya.
Padahal, harusnya mereka tahu dan mengerti seorang ketua bukan superman, dan segala kerja da’wah, baik itu kecil ataupun yang besar, merupakan kerja keras dari supertim, bukan superman.
Maka dari itu, hampir dalam setiap rapat, seringkali kutegaskan bahwa wallahi, sampah tidak akan pergi dan masuk dalam tong sampah saat kita berkomentar dan mencaci makinya. Sampah akan pergi dari hadapan kita saat kita berinisiatif membersihkannya. Jika kita tidak sanggup membersihkannya, maka jagalah kebersihan dengan tidak mengotorinya. Begitu pun kondisi sekre yang berantakan.
Apakah peralatan dan perlengkapan itu akan dengan sendirinya merapikan barisan dan mengindahkan dirinya dengan berbagai hiasan yang sedap dipandang mata, saat kita hanya mengulang-ulang komentar dan saling menyalahkan orang lain yang tidak melaksanakan piket pekanan, misalnya..?
Kadang, teori-teori yang sudah terlalu lama mengendap dalam fikiran menjadi usang saat kita tidak menggunakannya dalam langkah nyata. Itu baru masalah kebersihan dan kerapihan. Bagaimana dalam masalah yang jauh lebih besar..?
Saat kita hanya mampu berteori tanpa implementasi, maka apa jadinya agama ini..? Islam tidak tegak hanya dengan ilmu yang mengendap di otak, lalu usang dan membusuk, sehingga baunya pun terasa hingga ke setiap pelosok tempat di sekitar kita.
Benteng Khaibar tidak akan runtuh hanya dengan komentar-komentar pesimis para pengecut. Tapi, adalah kekuatan yang menghujam dalam hati dan teraplikasi dalam kenyataan ini. Itulah yang membuat ‘Ali Al-Haydar bin Abi Thalib sanggup membelah raksasa Yahudi, Marhab menjadi dua bagian dan merebut Khaibar ke tangan muslim.
Begitulah Islam berjaya. Bukan dengan diskusi-diskusi panjang tanpa implementasi, bukan dengan jidal-jidal tanpa amal, bukan dengan dialektika tanpa amal nyata. Islam adalah diinul-ilm wal-amal. Islam adalah agama ilmu dan amal. Berilmu sebelum beramal, dan langsung beramal saat telah mendapatkan ilmu tentang hal tersebut. Islam, sekali lagi, bukanlah agama teori tanpa implementasi. Bukan pula agama hafalan tanpa pemahaman yang mendalam. Maka, benarlah Imam asy-Syahid menyebut mereka yang menjadi muslim sejati adalah mereka yang menjadi qawmun ‘amaliyyun (kaum yang beramal). Mengapa? Karena kita tahu bahwa Yahudi dilaknat oleh Allah swt. karena mereka tidak pernah mengamalkan ilmu yang telah didapatkannya. Mereka biarkan ilmunya mengendap, bahkan dengan ilmu yang dimilikinya mereka menghalalkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah dan mengharamkan apa-apa yang dihalalkan oleh Allah. Sedangkan Nashara menjadi generasi bingung saat banyak beramal tanpa dasar ilmu yang benar tentangnya. Sehingga amal mereka diibaratkan seperti debu-debu yang ditiup angin. Maka, berdoalah ihdina ash-shiraat al-mustaqiim, shiraat al-ladziina an’amta ‘alayhim, ghayril maghdhu bi ‘alayhim wa la adh-dhaallin.
Wallahu a’lam
Tsabat Juni 3, 2008
Posted by hudzayfah in Coretan Kecil, Perjalanan Sang Waktu.Tags: Catatan Hikmah
add a comment
Tiba-tiba seorang yang agak asing bagi sebagian masyarakat Makkah mendatangi Ka’bah dan berteriak dengan lantang. “Saksikanlah bahwa aku berkata tiada illah melainkan Allah dan aku membenarkan bahwa Muhammad adalah utusan Allah yang mulia.”
Spontan, hal tersebut membuat geram orang-orang musyrik Makkah dan dengan segera mendatangi orang tersebut lalu memukulinya bertubi-tubi. Namun, kejadian ini tidak membuat orang tersebut gentar ataupun berhenti bersyahadat di depan Ka’bah. Walaupun akhirnya ‘Ali ibn. Abi Thalib KW, akhirnya menasihatinya agar tidak melakukan hal itu lagi, dan akhirnya ia menuruti kata-kata ‘Ali KW.
Tahukan anda siapa orang tersebut..? Dia datang jauh dari Bani Ghiffar, kaum yang terkenal sebagai perampok dan barbar. Dia datang sendirian berjalan melintasi padang pasir yang ganas hanya untuk bertemu dengan Rasulullah tercinta. Dialah orang yang mengucapkan Salamun ‘Alaika yang kemudian menjadi sunnah bagi diin ini. Dialah Abu Dzarr Al-Ghiffary, yang setelah syahadatnya di hadapan Rasulullah saw., ia kembali menemui penuduk Ghiffar dan berhasil meng-Islamkan seluruh penduduk Ghiffar, mengubah akhlaqnya dan memuliakan kedudukan kaumnya. Walaupun keringat dan bahkan darah harus tercucur dari dalam tubuhnya.
Begitulah da’wah. Bukanlah sebuah perjuangan jika jalannya bertabur mawar dan permata..! Bukan sebuah pengorbanan jika di sana terdapat kesenangan dan harta..! Jalan da’wah adalah jalan panjang yang berliku. Ia dipenuhi duri dan aral yang menghadang. Hal tersebut adalah sunnatullah. Itu merupakan shira’ al-haqq wal-bathil.[1]
Bahkan Rasulullah saw. pun tidak lepas dari gunjingan manusia. Lebih dari itu, Rasulullah saw. bahkan dicaci dan dimaki hingga dijuluki sebagai rasul palsu, orang gila, penyihir, dan yang lainnya. Setiap perkataan yang terasa menjatuhkan itu harus disikapi secara positif, sehingga ia akan berubah menjadi kekuatan yang membangun keberanian dalam tubuh kita, bukan kemudian melahirkan sifat pengecut yang membuat kita lari dari arena perjuangan. Padahal, Rasulullah saw. tidak sekedar menerima celaan atau hinaan. Beliau saw. mendapatkan sikap yang represif hingga pemboikotan Bani Hasyim dan serangan fisik yang membuat Beliau saw. dan para pengikutnya saat itu harus rela meninggalkan harta, saudara, dan segala yang dimiliknya untuk pergi menuju Yatsrib.
Namun, itu semua tidak menyurutkan langkah Rasulullah saw., karena sesungguhnya seorang da’i atau mujahid adalah bukan mereka yang tidak pernah mendapatkan caci maki atau gunjingan musuh-musuh Allah swt.. Adalah bagaimana mereka bisa sekuat mungkin untuk tetap tsabat hingga akhir hayatnya. Sehingga pada saat ia meninggal, ia mengakhirinya dalam keadaan syahid. Allahu akbar..! Adapun setiap celaan ataupun perkataan yang menjatuhkan tidak lagi ia resapi dalam jiwa.
“setiap perkataan yang menjatuhkan
tak lagi ku dengar dengan sungguh
juga tutur kata yang mencela
tak lagi ku cerna dalam jiwa”[2]
Mengapa harus seperti itu..? Karena menjadi seorang da’i ataupun mujahid berarti meninggalkan keinginan yang berlebih terhadap dunia yang fana.
“aku bukanlah seorang yang mengerti
tentang kelihaian membaca hati
ku hanya pemimpi kecil yang berangan
tuk mengubah dunia”[3]
Wallahu a’lam